agama dan politik?

“Jangan politisasi agama atau agama jangan dibawa keranah politik” . Jangan paham hanya karena sudah sering mendengar , namun paham berdasarkan nalar & logika dari akal sehat

ada 2 [dua] hal yang harus dipahami sebelum kita ingin menangkap esensi dari maksud kalimat diatas , yakni : a. agama itu sendiri dan b. politik

Agama diturunkan melalui apa yg disebut ‘wahyu’. Saat ajaran agama tersebut diterapkan oleh para Rasul kepada seluruh pengikutnya , muncul satu paradigma/kebiasaan yang wajib ditaati oleh masyarakat agamis yang bersangkutan dan melahirkan apa yang dikenal dengan satu KEBUDAYAAN. Satu Kebudayaan yang mengatur tata-cara ber-politik , Hukum , tata-kelola Ekonomi dan seterusnya berdasarkan ajaran2 dari agama tersebut.

Sedang kan yang disebut POLITIK itu adalah Ruang tawar menawar yang bisa berwujud menjadi arena perdebatan tarik menarik kepentingan untuk mencapai satu kesepakatan yang ada didalam satu komunal masyarakat. Ilmu Politik tidak selalu muncul / dimunculkan karena kehadiran satu Agama terlebih dahulu. Politik datang darimana saja ketika ada satu komunal masyarakat yang ingin berkesepakatan agar mereka bisa hidup rukun dan damai bersama.

Indonesia adalah kesepakatan warga-bangsa Nusantara karena ikatan bathin dari satu entitas masyarakat etnis melayu yang terjalin dalam perjalanan panjang sejarah , kemudian bersepakat menggunakan Politik sebagai medium agar semua kepentingan yang ada bisa dituangkan menjadi tata-cara aturan dan hukum yang melindungi semua kebutuhan2 hidupnya.

Jadi artinya , tulisan diatas ini untuk sekali lagi menegaskan bahwasanya: Agama itu melahirkan sebuah Kebudayaan manusia yang mengusung terminologi politiknya sendiri. Disisi lain Indonesia adalah kumpulan dari warga bangsa yang beraneka ragam kebudayaan , yang juga mengusung paradigma ber-politiknya sendiri [diatur melalui adat istiadat] , bisa disebut juga politik tradisional.

Tantangan Indonesia adalah bagaimana membentuk dan merumuskan kumpulan dari Politik2 tradisional dari warga2 bangsa diatas , untuk dapat dirangkum menjadi Politik Modern yang mengatasnamakan satu kesatuan dari realitas keberagaman (Bhineka Tunggal Ika) > yang disebut Indonesia.

Namun persoalannya kini adalah :

Negara ini menggunakan sistim pemerintahan untuk melegitimasi Agama yang dianut oleh mayoritas pemeluknya sebagai cara untuk mengendalikan sistim ber-Politik. Ketika hal tersebut diterapkan maka impact dan konsekuensinya adalah a/l:

a. realitas budaya lokal yang berbeda dengan budaya yang dibawa oleh Kebudayaan Agama yg dianut bangsa2 dimana Agama tersebut diturunkan.

b. benturan kepentingan antar politik dari kebudayaan agama dengan politik kebudayaan tradisi yang sudah eksis sebelumnya , serta keinginan untuk membentuk Politik Modern dari kebudayaan baru Indonesia

Walaupun sama2 menggunakan ‘issue agama’ , tapi kenapa di era ORBA kondisi tersebut relatif bisa dikendalikan dengan baik?. ini jawab saya:

Dimasa pemerintahan Soeharto : diterapkan kekuasaan untuk membatasi agar Agama mayoritas tetap menghormati BUDAYA LOKAL. Maka , untuk menjadi seorang pendakwah yang terjun ke masyarakat harus melalui pendidikan2 pesantren yang sudah sejak lama eksis. Paradigma masyarakat pesantren pun dirawat & berada dalam perhatian serta pengawalan2 dari aparat kekuasaan pemerintah. [Benny Moerdani]

Kini , di era liberalisasi semuanya bebas berbuat sendiri2. Seorang pendakwah apapun sebutan dan julukannya tidak harus lagi melalui pendidikan PESANTREN sebagai prasyarat untuk bisa memahami dan menghormati Budaya Lokalnya sendiri & terjun ke masyarakat. Calon seorang pendakwah bisa berangkat sendiri ke Tanah Arab untuk mempelajari agama berdasarkan keyakinan2 mashab yang diperolehnya sendiri , yang kemudian menjadi materi dari dakwahnya masing2

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara