bukan rokenrol ngedot susu dari botol

Ekspresi melalui medium musik memfasilitasi banyak persoalan yang bisa disampaikan sesuai dengan permasalahan dari setiap orang. Ada persoalan ekonomi yang terkait dengan hak ber-profesi , ada persoalan politis untuk merespons kondisi sosial-politik yang sedang terjadi , ada persoalan sosial kemasyarakatan tentang cinta , dari mulai urusan asmara yang bersifat personal individual maupun paradigma secara komunal , sampai dengan rasa kecintaan setiap orang dalam konteks yang lebih luas

Musik adalah persoalan budaya [perilaku]. Produk musik yang TERBUKTI telah di apresiasi oleh sebagian besar masyarakatnya sendiri , harus disebut sebagai PRODUK BUDAYA [perilaku] dari komunal masyarakat yang bersangkutan itu sendiri. Disitulah landasan yang digunakan untuk dapat mengkatagorikan apakah lagu dan musik tertentu sudah bisa disebut sebagai Produk Budaya atau baru hanya sebatas produk seorang seniman. Tingkat Apresiasi dari masyarakat adalah alat tolak ukurnya.

Karena itu , seniman harus menyadari akan peran dan fungsi2nya sebagai makhluk-sosial yang wajib menghasilkan karya2 yang bisa disebut sebagai Produk budaya dari masyarakat yang ada disekitar lingkungan hidupnya sendiri.

Sejak tahun 1970’an sudah begitu banyaknya karya2 seni musik anak negeri yang telah terbukti diapresiasi oleh masyarakat bangsanya sendiri , hingga melahirkan slogan seperti : “musik Indonesia adalah tuan rumah dinegerinya sendiri”.

Namun itu semua selama ini hanya dianggap sebagai kerja industri hiburan yang tidak memiliki peran cukup signifikan ditataran Kebudayaan secara menyeluruh. Akibatnya adalah : Musik hanya dianggap sebagai sarana kegemaran hobi2 seperti hobi yang lain2nya , yang juga menguntungkan untuk bisa digunakan menjadi kendaraan2 dari berbagai kepentingan ekonomi semata bahkan politik praktis. Musik terputus dari peran sosio-kultural-psikologisnya dalam konteks KEBUDAYAAN , dalam hal ini Kebudayaan Indonesia

Oleh karena itu , betapa pentinganya saat ini untuk meletakkan HUKUM sebagai sandaran profesi , sebab tanpa dilibatkannya HUKUM yang melindungi profesi seniman musik , maka aktivitas tersebut akan disebut ‘pengamen jalanan’ yang bisa diusir dan digusur setiap saat sebab tak ada perlindungan dari aturan2 yang memadai …

ini rokenrol! kalau seniman sudah ngerti persoalan ini lalu mereka bermusik … barulah layak dan pantas untuk teriak2 rokenrol , jangan ‘rokenrol’ sambil ngedot susu botol .. eh tapi kalo abg atau golongan ‘masa kecil kurang bahagia’ , ya nggak apa2 juga sih :

Saya menggunakan cara saya melalui pendekatan transparansi [membuka mata untuk melihat realitas] agar mudah dipahami lalu bisa diterapkan bersama.

Hukum atau dalam pelaksanaannya yg disebut REGULASI , hanya akan ada secara tertulis jika ada tuntutan dari warga masyarakat yang bersangkutan. Regulasi tidak muncul tiba2 , regulasi tidak datang dengan sendirinya. Saya harus menyadarkan banyak pihak untuk bersama2 mau bergerak menjadi ‘barisan’ yang legitimate bisa disebut mewakili ‘kepentingan masyarakat’. Ini tidak mudah …

Saya mencoba memunculkan fakta , bahwa Korea , Jepang , dan berbagai kawasan lainnya yang jauh sudah menyadari akan peran/fungsi kebudayaan. Pertahanan sebuah wilayah / Negara hanya bisa dilakukan dengan cara memperkuat KEBUDAYAAN nya sendiri. Sebab hakekat Kebudayaan itu adalah seluruh aspek kegiatan yang menyeluruh dari satu masyarakat bangsa. Dan Kebudayaan yang kuat adalah kebudayaan yang membuktikan dirinya mampu melahirkan produk2 budayanya. [produk budaya tehnologi dlsb]

Sekarang ini , realitas dinegeri ini … Produk Budaya Pangan kita saja sudah terpuruk , dihantam oleh produk budaya import. Ancaman berikutnya tidak akan berhenti selesai begitu saja tanpa upaya yang konkrit/nyata. Produk Budaya Kesenian? … hanya kesenian warisan masa lalu yang di-bangga2kan. Kesenian masa lalu adalah Produk Budaya masa silam … lalu apa produk budaya Kesenian hari ini? > KULTUR POP adalah kita2 semua dihari ini yang wajib menjawab tantangan tersebut

Kita akan selalu dibenturkan dengan rasa ‘pesimistik’ , jika terperangkap berpikir “ya tergantung si anu , ya tergantung si itu , dst …

Kondisi tersebut diatas umumnya terjadi pada mereka2 yang sudah seringkali terjebak dalam kotak2 pragmatisme [kegiatan praktis yang bersifat parsialistik]. Namun ketika orang bisa melihat peta besarnya , maka akan lahir kesadaran kolektif untuk ber-sama2 membenahi persoalan , agar tidak lagi terperangkap di ruang2 pragmatisme yang sempit diatas

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara