kebudayaan urusan lapar

orang berbondong mengantri berderet didepan pintu masuk , barisan terdepan sibuk berebut mencocokkan kunci yang harus digunakan. Saya berteriak lantang dari barisan belakang: “… rumah itu kosong sejak dibangun” , belum ada penghuninya mau ngapain masuk ber-ramai2 kesitu. Bukankah lebih baik berunding diluar dulu … siapin obat penyemprot hama kecoak , kursi , meja . tempat tidur , sabun buat mandi , cebok dll

‘nanti bisa kehabisan tempat’ ; katanya. Baru dua hari bau busuk dan hawa amarah menyebar ke-mana2 , tak ada waktu lagi untuk berpikir , semua orang tampak gaduh dan berteriak , saling menyalahkan satu sama lainnya

Kebudayaan Indonesia

Jawara ruangan berkata: hadirkan orkes madun sampai panggung selebriti ditaman , agar orang bisa tenang.

Sejenak menjadi tenang , mereka semua melongok dari balik jendela sambil meneteskan liur disuguhi hiburan seronok mengangkang , lupa gelisah , lupa amarah , lupa segalanya … Lupa menjadi ‘jalan keluar’ , kecuali lapar untuk gaduh kembali

Hidup hanya untuk lapar? , lalu harus di isi makanan agar bisa tidak lapar?
Kuketuk hati mereka yang sudah lupa rasanya lapar … seperti apakah rasanya itu?

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara