curhat kontroversi hati

ini curhat saya hari ini agar mereka tidak kontroversi hati.

Melalui pendekatan secara filosofis , saya ini terlahir untuk berperan dibarisan garda belakang , mungkin bukan digarda tengah apalagi barisan garda depan. Itu artinya saya tidak memiliki naluri untuk menempatkan diri sebagai leader atau pemimpin dari satu komunitas / komunal dalam wujud apa saja. Bisa saya buktikan dan sebagaimana pula bisa anda saksikan sendiri , dimana saya selalu menempatkan diri dibarisan belakang dalam fungsi2 berkelompok maupun ber-organisasi.

Saya tidak punya hasrat untuk tampil maju kedepan , namun apa yang terjadi sampai dengan hari ini melahirkan fenomena2 baru yang acapkali mendorong saya memasuki ruang2 dilemasi yg bersifat ‘menjebak langkah’

Sekarang ini semua orang mau jadi pemimpin atas dasar2 ego nya masing2 , namun jenis ego yang tidak memiliki landasan sebagai tempat meletakkan argumentasi. Padahal ego yang baik dan dibutuhkan adalah ego yang lahir/muncul berdasarkan argumentasi dan disertai dengan fakta2 empirik sebagai kelengkapan2 guna memperkuat substansi dari opini yang disepakati untuk diimplementasikan , memasuki ruang2 pragmatis dan praksis

Maka , seperti saya sebutkan diatas … itu semua membuat posisi orang2 di garda belakang menjadi ‘naik pitam’ ketika barisan digarda depannya tampak hanya gaduh bertengkar saling memperbutkan posisi pemimpin agar bisa berkuasa dan dipandang sudah mewakili nilai2 kehormatan. [materi adalah kehormatan]

Sedangkan maksud dari ‘menjebak langkah’ adalah : orang2 digarda belakang cenderung untuk melakukan langkah2 korektif yang terkadang tidak selalu terbaca ‘persuasif’ bagi mereka2 yang menjadi sasaran kritik. Acapkali harus menggunakan pendekatan ‘koersif’ [memaksa] jika pihak2 yang dianggap keras kepala punya kecenderungan untuk ‘membatu’.

Posisi garda terdepan adalah posisi para pemimpin , adalah juga posisi2 untuk mengelola kekuasaan … sedangkan kita sama2 tahu bahwa kekuasaan itu adalah candu. Maka ketika orang2 dibarisan garda belakang terdorong untuk bergerak maju kedepan , otomatis mereka akan bersentuhan dengan candu-candu kekuasaan itu sendiri.

Pemimpin otoriter yang mengendalikan ‘sistim otoritarianisme’ adalah seniman2 yang baik bahkan bisa disebut golongan seniman2 yang terbaik disetiap jaman yg mengelola kualitas peradaban manusia.

Nurani didalam kalbu … hanya itu yang saya butuhkan untuk merawat sistim pengendalian diri. Namun , itupun berbiaya mahal dijaman yang seperti ini , jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara