renungan Sumpah Pemuda

renungan malam: bagimu Sumpah Pemuda

sepertinya memang harus di ikhlaskan saja , cita2 dari para pendiri Bangsa untuk membuat Negara ini bisa mandiri , berdikari , setara dengan bangsa2 maju lainnya yang ada dimuka bumi. Ada beberapa alasan yang menjadi landasan berpikir saya malam ini :

a. sejak kemerdekaan agustus 1945 … kebudayaan Indonesia yang hendak dibangun telah jauh tertinggal dari kebudayaan unggul bangsa2 lainnya. Saat itu sebetulnya dibutuhkan langkah2 antisipatif segera untuk mengejar berbagai ketinggalan2 dari bangsa2 lainnya tersebut … sayangnya hal tersebut tidak terjadi , selain kita hanya disibukkan dengan pertikaian dan berbagai konfrontasi , konflik ditataran regional maupun bilateral

b. pasca pemerintahan pak harto ditahun 1998 … Bangsa ini bahkan menjadi semakin gamang nggak keruan. Ada alasan utama yang menjadi biang keladi dari itu semua , yakni : degradasi karakter lalu terjun bebas menjadi , disorientasi karakter.

Kini ketertinggalan2 yang harus dikejar tersebut sudah semakin jauh lagi , sementara kita sama sekali tidak memiliki modal untuk mengejarnya. Satu2nya yang membuat bangsa ini masih bisa bertahan adalah karena pertolongan dari sumber daya alamnya … yang dieksploitasi habis2an.

Kita sudah tidak punya peluang yang cukup untuk bisa membangun karakter yang diharapkan , sebab paradigma atau segala apa yang menjadi kebiasaan2 serta konsumsi hidup kita dikeseharian … sudah bersandar dari karakter bangsa lain yang jelas berbeda dan tak akan mungkin bisa sama. Kita bukan lagi krisis nilai [values] … tetapi bahkan nilai-nilai yang pernah dianut oleh bangsa ini sudah tidak punya tempat untuk bisa diimplementasikan & dipatuhi. Kita dipaksa untuk mengadopi serangkaian Tata Nilai baru yang notabene tidak adaptabel dengan realitas keberadaan kita sendiri .. namun harus , suka atau tidak suka harus diterima , karena hidup kita semua sudah diatur , dikendalikan untuk tergantung

Saya merenung , bukan pesimis namun pasrah dalam ketidak berdayaan yang sebetulnya saya sendiri tidak suka harus menerimanya. Bila ada teman2 / saudara2 yang bisa memberikan alasan2 yang lebih baik … silahkan , bila tidak , mari kita sama2 dengarkan suara jangkrik yang berderik didepan rumah

Saya selalu menjauh dari budaya pesimis , karena pemahaman pesimistis bagi saya itu awal dari ‘patah arang’ yang sudah tidak bisa bersambung kembali. Saya selalu membangun rasa optimisme yang faktanya selalu dibenturkan pada handycap2 yang tidak teratasi lalu menumpuk untuk melahirkan persoalan2 yang barunya lagi.

kita membutuhkan semacam ‘team squad’ untuk menyelesaikan ‘dampak akibat buruk’ di level 2 sampai berikut2nya , disisi lain sekaligus membenahi level 1 dimana substansi dari persoalan itu sendiri berawal mula. Dan modal sosial untuk itu semua yg bisa juga disebut sebagai ‘suprastruktur’ … kian hari semakin langka

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara