tempurung kepala babi

babi

Masuklah sesekali untuk sekedar menengok kedalam , apa yang sedang terjadi didalam kotak aktivitas pragmatisme. Namun jangan sampai terseret larut dan terlibat bila masih berharap merawat akal sehat. Begitulah selama ini pengalaman mengajarkan pada saya , segera menyingkir dari lingkungan yang tidak baik bila kita berharap untuk bisa lebih baik. Namun sungguh bukan perkara yang mudah untuk melakukan itu semua

Dimulai dari rasa keterpanggilan agar tidak menjadi apolitis semenjak reformasi 1998 yang silam , dimana sebelumnya tidak pernah menyediakan tempat didalam kepala saya untuk peduli dengan segala urusan tetek bengek politik praktis. Maka sejak masa2 itu mulailah saya aktif untuk mengikuti segala bentuk diskusi yang diadakan oleh berbagai kalangan komunitas masyarakat serta lintas dari berbagai disiplin profesi dan kompetensi.

Politik praktis yang berlangsung di negeri ini benar2 seperti yang diucapkan alm.Sophan Sophiaan pada saya , dia itu ‘candu’ yang bisa membuat seseorang sebegitu berketergantungannya hingga melebihi narkoba. Beruntung tidak ada naluri kekuasaan yang menjadi karakter bawaan saya sejak lahir , karena itu saya tak perlu merasa harus was-was khawatir bisa terseret arusnya.

Semakin saya intens terlibat dalam pertemuan2 seperti diatas , semakin saya menyadari akan eksistensi dari keberadaan kita sendiri sebagai warga negara. Saya ini siapa dan apa yang hendak saya lakukan sebagai seorang warga. Maka ketika saya menyadari peran dan fungsi saya yang seniman , disitulah kesadaran akan hak dan kewajiban profesi sebagai seniman menjadi tujuan dari perjuangan hidup saya , itu semua dimulai semenjak pasca reformasi 1998. Sebelum2nya saya hanya mengalir pasrah mengikuti keadaan dimana akan menempatkan saya walaupun disepanjang hidup saya sendiri juga tak pernah terpisah untuk bersentuhan dengan masalah2 kritik sosial , namun itu semua lebih sebatas kritik tanpa daya dan upaya untuk memperjuangkannya sendiri. Mirip penyanyi2/artis2 seniman salon yang hobi mengkritik dari balik kaca spion

Perjalanan yang panjang hingga sampai pada titik2 kebuntuan , bahwa profesi yang saya perjuangkan tersebut ternyata tidak bisa terlepas dari masalah Hukum , lalu dari hasil berbagai diskursus yang saya ikuti semenjak 1998 diatas … ternyata Hukum adalah produk dari sistim Politik. Maka , mau tak mau saya harus menyediakan ruang disebagian isi kepala saya untuk melongok kedalam sana … apa sih sebenarnya yang terjadi didalam sistim per-politikan kita selama ini

“Hadoh …” , begitulah reflek seketika dari setiap orang ketika dia menjumpai sesuatu yang teramat jauh diluar dugaan dan jangkauan untuk berharap bisa menyelesaikan persoalannya sendiri. Dunia politik kita isinya *maaf* hewan ternak jenis babi yang rakus dan serakah. Tak sanggup lagi saya bertahan ber-lama2 disana walau sebatas sebagai pendengar yang baik sekalipun. Kekacauan2 yang ditimbulkan oleh golongan babi2 politik itu sudah sedemikian akut nya merusak struktur tatanan sosial masyarakat diberbagai bidang & jenis kegiatan2 apa saja.

Nyaris tak ada lagi ruangan yang steril dari hawa nafsu hewan ternak diatas … hiy najis

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

2 Responses to “ tempurung kepala babi ”

  1. wah … bahkan untuk anjing pun tidak diberi tempat ya mas?

  2. hihi ‘guk guk ..’ baru nyalak sekali udah dikeroyok babi sekampung

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara