masih ngomel sendiri

Mungkin inilah akibat metode pendidikan yang melahirkan tenaga siap pakai tapi sulit untuk diajak fokus agar siap menghadapi persoalan hingga tuntas selesai. Seiring dengan ‘kebijakan’ sebagai negara net importir membuat setiap orang/warganya wajib fasih menjadi operator2 dari mesin tehnologi modern yang di import. Ironisnya , tehnologi yang diimport itupun lebih dominan berperan sebatas sebagai komoditas dagang tanpa kehendak politik agar mewajibkan dimensi ‘alih tehnologi’ untuk kelak bisa dikuasai. Maka menjadi tak dihiraukan lagi apakah tehnologi tersebut sesuai dengan kebutuhan atau justru dikondisikan untuk seolah dibutuhkan. Yang penting perputarnya roda ekonomi yang ditandai dengan dimensi transaksi berjalan.

Saya akan menyinggung persoalan2 yang dekat dengan aktivitas kehidupan saya sendiri , yakni perilaku generasi muda sekarang ini. Mereka sungguh jauh lebih pandai jika diasumsikan dalam pengertian mencari uang , tampak sekali bedanya dengan generasi saya yang harus ber-susah2 payah untuk bisa memetik hasil yang diinginkan. Tetapi ruang gerak aktivitas kepandaian yang mereka miliki tersebut terkungkung dan ber-putar2 dilingkaran masyarakat konsumen. Menjadi bagian dari kelompok2 konsumerismenya atau menjadi agen2 dari komoditi bahan2 konsumsi yang diimport itu sendiri. Mereka semakin berjarak dengan kelompok masyarakat produsen bahkan nyaris merasa tak perlu lagi harus saling berhubungan antar satu dengan yang lainnya. Kondisi tersebutlah yang menciptakan perbedaan2 dalam tataran ideologis yang pada akhirnya melahirkan kesenjangan komunikasi & sosial , justru didalam tataran kelas menengah yang sama. Bisa dibayangkan apa yang terjadi terhadap struktur sosial masyarakat dibawahnya

Entahlah … saya sering berpikir , sebenarnya para pemimpin2 bangsa itu pada ngerti nggak sih persoalan2 yang dihadapi oleh masyarakat kelas menengahnya selama ini? Kalau terhadap kelas menengah saja mereka ‘buta dan tuli’, bagaimana caranya kebijakan Negara yang diwakili oleh sistim pemerintah itu bisa diimplementasikan untuk menyentuh rakyat kecilnya … ah emang omdo , ya sudahlah.

Gw juga ngga bisa ngapa2’in selain ngedrumel gak juntrungan sendiri , bah!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara