NKRI bukan NKMI

Tak perlu lagi menggunakan istilah ‘politik uang’ untuk meraih kekuasaan , tapi langsung saja dengan mengatakan “hanya orang kaya raya yang mampu meraih kekuasaan.

Selalu diawali dari setiap orang kaya untuk ‘menguasai/membeli’ media2 publik berpengaruh , lalu membangun jaringan masyarakat komunitas pendukung fiktif yang dirancang untuk ‘yes’. Dialektika muslihat diatas akan melahirkan opini dikalangan masyarakat yang lebih luas bahwa yang bersangkutan memang layak untuk mengendalikan alat2 kekuasaan.

Menjadi pertanyaan … mengapa hal2 semacam itu dengan mudah bisa berlangsung/terjadi di tengah2 masyarakat modernis seperti sekarang ini. Padahal tak kurang sumber2 data yang bisa digali , padahal tak ada lagi cara untuk orang2 bisa menyembunyikan bangkai busuk agar tak tercium baunya , sebab modernisasi adalah sistim transparansi itu sendiri. “Malas belajar hingga tetap menjadi bodoh tapi maunya terus2an belagak pintar” … salahkah jika ada anggapan semacam itu bagi perilaku masyarakat seperti diatas?

Para ‘politisi kardus’ gemar berucap : “masyarakat kita sudah pandai2 … mereka sudah bisa menentukan sendiri pilihannya” , terdengar jujur serta tuluskah sanjungan2 yang mereka obral diberbagai media elektronik tersebut?. Salahkah jika ada yang beranggapan : “mereka justru merawat sistim pembodohan agar publiknya tetap tersandera & terlena didalam ketidak-tauan’

KEKUASAAN adalah sebuah keniscayaan … kekuasaan dibutuhkan untuk mengendalikan jalannya aturan2 yang telah disepakati , lalu disebut HUKUM yang berlaku. Aturan-aturan itu sendiri (hukum) dicapai melalui berbagai tarik menarik kepentingan antar berbagai golongan yang ada ditengah masyarakat , maka itulah yang disebut dengan ilmu POLITIK.

Bila kerja mesin2 dari sebuah Negara REPUBLIK tidak berkemampuan untuk menyelenggarakan mekanisme demokrasi diatas , maka yang dihasilkan adalah DEMOKRASI yang manipulatif , HUKUM yang manipulatif , karena sistrim berpolitiknyapun juga menggunakan cara2 ber-politik yang manipulatif guna meraih KEKUASAAN yang manipulatif

Kita ganti saja menjadi Negara Kesatuan Manipulatif Indonesia , bah!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara