generasi multiple choice

Adalah masyarakat yang enggan berpikir panjang , adalah masyarakat yang maunya langsung pada tataran kesimpulan guna mengambil satu keputusan. Jumlah golongan masyarakat yang seperti ini mendominasi watak mayoritas s/d saat ini. Hipotesa tersebut berdasarkan apa yang saya temui di kehidupan yang nyata maupun didunia maya.

Sungguh meletihkan ketika menghadapi seseorang yang ingin bertukar pikiran namun kerapkali enggan untuk diajak menelusuri proses demi proses terbentuknya sebuah MAKNA yang kemudian menjadi DEFINISI yang definitif. Maunya langsung instan , maunya segera ada jawaban yang konkrit , maunya segera ada keputusan. Lha … bagaimana caranya bisa membahas satu topik permasalahan yg sama jika analogi pemaknaan yang dipahami saja sudah tidak sama?. Kalaupun toh hasilnya keliru & tidak seperti apa yang diharapkan , maka gampang saja … tinggal diulangi saja lagi dengan multiple choice lainnya , untuk mengambil pilihan keputusan berikutnya.

Alih2 … persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan waktu yang relatif jauh lebih singkat , menjadi bertele-tele berkepanjangan , sebab harus mengulang-ulang kembali kekeliruan2 lama , dan keburu melahirkan blunder2 persoalan barunya untuk mengisi daftar polemik yang lainnya lagi. Bisa ditebak jika pada akhirnya menjadi DISORIENTASI … karena keletihan , fatique

[contoh:] “mas … kalau nulis artikel jangan yang berat2 dong , yang enteng2 aja” ; demikianlah kenyataannya. Persoalan hidup tidak bisa disebut ‘ENTENG’ bagaimana bisa orang berharap agar dibicarakan dengan menggunakan terma enteng-enteng saja? . Bagaimana mungkin bisa memahami satu DEFINISI tentang sebuah MAKNA menjadi sesuatu yang DEFINITIF , bila orang selalu cenderung malas berpikir dan mengabaikan proses2 pembentukannya

Maka apapun yang dihasilkan , dari urusan2 yang bersifat personal / internal hingga sampai pada tataran kepentingan publik , misalnya seperti memilih seorang pemimpin … semuanya tampak menggunakan teori multiple choice diatas.

Tulisan singkat ini korelatif dengan sebuah hipotesis Rendra , bahwa : “Bangsa kita dalam merumuskan fakta obyektif lebih suka bersandar pada ‘pemantapan dalam kalbu’ yang alih2 berujung di ilmu Kebathinan. Mengabaikan fakta2 ilmiah dari terma Humaniora

rendra2

*Saya berpikir* … Mungkin masyarakat multiple choice itu sendiri adalah produk dari hasil kerja satu Kebudayaan maju yang menemukan tehnologi modern seperti mesin2 computerized dan sebagainya. Dimana mereka memerlukan tolls atau perangkat2 baru yang mampu bekerja memfasilitasi metode untuk mengolah : teori antiteori analisis sintesis hipotesis dan seterusnya.

Alangkah ‘naif’ nya , bila menggunakan tolls modern tersebut tanpa dilengkapi dengan disiplin2 ethics yang mutlak harus dipenuhi terlebih dahulu ?! . Menjadi modern sebatas fasih dengan komputer tanpa mengenali data persoalan2 miliknya sendiri yang juga harus diolahnya sendiri.

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara