utopis demokrasi

“Kita butuh figur2 Pemimpin yang perilakunya bisa menjadi suri tauladan atau panutan”.

Cobalah kita pikir dan renungkan dengan seksama … apa sebenarnya yang seringkali tanpa disadari , mengusung makna tersembunyi dibalik kalimat2 diatas. Ketergantungan kepada figur penguasa simbol2 hukum sebagai obyek pengendali kekuasaan. Artinya , bukan Hukum adil-nya yang dirindukan yang kemudian untuk di taati dan dipatuhi , namun kepada figur2 yang dianggap akan mengendalikan hukum itu sendiri.

Kewenangan Hukum seperti boleh di-ke-tercuali-kan asalkan atas dasar itikad baik dari orang yang dianggap bisa dipercaya sebagai pemegang mandat kekuasaan , maka yang terjadi adalah penguasa2 yang kerap merasa bahwa dia lah sebenarnya Sang Hukum itu sendiri. Penguasa bukan lagi sebagai hamba Hukum , namun penguasa adalah pemilik Hukum. Penguasa2 seperti itu akan selalu berpotensi merekayasa Hukum agar sesuai dengan kepentingan2 dalam upaya melanggengkan kursi2 kekuasaan yang telah diduduki , agar jangan sampai direbut oleh pihak2 yang lain. [rebutan kekuasaan]

Ironisnya , setiap kali masyarakat tersadar oleh kenyataan tertipu … maka selalu mengulanginya kembali dengan hanya berbekal harapan2 yang baik atau cukup dengan itikad maksud baik , tanpa upaya konkrit untuk mau membenahi dasar2 tata-kelola yang diperlukan , cukup bersemedhi didalam kamar … wesewesewsewes alakadabra sambil nungging2 “semoga hal tersebut tidak terulang lagi … InsyaAlah”.

Lalu apa bedanya dengan mengharapkan bertahtanya kembali RAJA yang selalu dianggap paling adil dan bijaksana dalam memutuskan perkara. RAJA yang bisa dengan seketika memberi perintah “penggal saja batang lehernya” … atau “Kuampuni mereka yang bersalah dan kalian cukup untuk wajib ber-Daulat padaku yang Sang BAGINDA”

Demokratisasi tidak mengenal LOYALITAS aristokrasi primordial yang lahir dari kepentingan kelompok , Demokratisasi itu HUKUM adalah Panglima Tertinggi-nya bukan orang per-orang yang menjabat di kursi2 kekuasaan. Masyarakat Demokratis tidak butuh FIGUR yang bisa menjadi rujukan contoh baik … Masyarakat Demokratis hanya butuh HUKUM diletakkan sebagai Kebenaran tertinggi dalam mengelola sebuah Negara

[“Kita butuh figur2 Pemimpin yang perilakunya bisa menjadi suri tauladan atau panutan”] … kemana mau nyarinya? mungkin dijalan surabaya atau dipasar klewer bisa sampeyan beli copy’an bajakannya [warisan Raja Amangkurat]

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara