saya jengkel betul!

Beberapa hari lalu saya masih menjumpai (disana sini) orang mengatakan: ” … eh mas menyimak apa yang sampeyan uraikan barusan , saya jadi inget sama si ‘anu’ (dia menyebut beberapa nama) yang kecewa karena kondisi sudah sedemikian rupa semerawutnya.

Yang saya perhatikan bukan isi/maksud dari apa yang dia sampaikan , namun ekspresi dari gestur tubuh dan raut wajah yang se-olah2 mengatakan , betapa di dunia yang ‘lain’ yang dia maksudkan tersebut banyak orang yang kecewa hingga menjadi pemarah. Dia menyampaikan hal tersebut sambil menunjukkan perilaku sikap bahwa “inilah modernisasi dan perubahan” yang memang harus terjadi … , menyedihkan!

Menghadapi jenis masyarakat seperti itu , selalu dihadapkan pada kesulitan untuk berharap mereka mau berupaya untuk meletakkan mindset-nya terlebih dulu dengan baik dan benar , sebab tanpa landasan berpikir dari logika waras dan akal yg sehat , membalas omongan orang2 tersebut hanya akan meladeni mereka untuk debat kusir yg tak berkesudahan. Sebab mereka merasa’tidak ada yang aneh’ dengan ini semua … sontoloyo!

Dan upaya2 tersebut memang sangat ‘meletihkan’ bahkan menjengkelkan. Kalaupun mereka mau dengan sebentar saja untuk meletakkan mindsetnya dengan baik dan benar , maka merekapun harus ‘me-review’ kembali segala bentuk aktivitas2 yang selama ini mereka lakukan. Dan konsekuensinya … sering harus memutuskan PILIHAN. Menjadi ‘amtenar dijaman modern’ … atau tersungkur ke emperan trotoar tempat dimana ‘inlander-inlander’ pada ngumpul.

Tersingkir menjadi inlander berarti akan menjadi miskin lagi? … siapa yang berani menjadi miskin dijaman ini? Sementara perjuangan revolusi kehidupan itu selalu berawal dari kesadaran untuk melawan kemiskinan itu sendiri. Bagaimana orang mau berjuang? kalau mereka tidak sadar bahwasanya mereka itu sebenarnya miskin!

Ataukah ada yang meng-klaim sudah kaya? … tolong tunjukkan bukti2 yang definitif , jangan sekedar menyentuh slogan atau propaganda serta judul dari kalimat2 besar , seperti “Negara kita itu kaya raya …” apanya yang kaya? dan siapakah yang memiliki kekayaan itu? . Hentikan memanipulasi sebutan bagi sebuah makna , kalian seperti sedang numpang hidup & hanya mengeksploitasi alam tanpa berbuat apa2

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara