budayawan?

Ini tentang perilaku memanipulasi-makna yang sudah kronik hingga menjadi ‘korupsi-makna’ dari sebuah istilah / sebutan.

Kata Budaya selalu diasosiasikan dengan skala prioritas untuk menggambarkan perilaku dari satu kebiasaan2 yang dianggap baik. Disanalah kata Budaya diletakkan sebagai subordinasi dari berbagai aktivitas dalam ber-Kebudayaan [budaya politik-budaya hukum-budaya ekonomi dst]

Ketika muncul dan dikenal sebutan BUDAYAWAN , maka maknanya adalah sebutan bagi orang2 yang patuh dan terbukti mematuhi segala perilaku2 yang dianggap baik dari satu KEBUDAYAAN diatas , atau orang2 yang taat pada norma2 yang berlaku ditengah masyarakatnya sendiri.

Apa yang terjadi kini?

Ada budayawan koq korupsi , ada budayawan koq politiking, ada budayawan koq pedagang yang mau mikir untungnya sendiri , ada budayawan koq doyan main perempuan … dan tentu banyak lagi kalau mau saya cari2 agar menambah jumlah urutan istilah yang paradoks dengan realitas / dikenyataan.

Rendra selalu menampik jika dipanggil dengan sebutan sebagai budayawan , dia sadar betul akan ‘kelemahan’nya dalam menyikapi dunia wanita cantik / perempuan ; “cukup sebut saja nama saya dengan embel2 profesi SENIMAN”.

Suatu kali dituturkannya kepada saya dialog percakapannya dengan dokter yang selama hidupnya dipercaya untuk mengawasi kesehatannya. “Dok .. saya bisa minta obat yg bisa menyembuhkan penyakit saya?” ; apakah gerangan itu? , tanya balik sang dokter . “Saya selalu kesulitan untuk mengontrol ‘ini’ (jari nunjuk kebawah) kalau berjumpa dengan wanita2 cantik; seloroh Rendra”. Wah … itu urusan moral , tidak ada antibiotiknya! ; … o begitu toh , lalu menunduk lesu

Berani konsekuen itu pertanda JANTAN!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara