memelihara kekeliruan

Dalam berbagai hal kita hrs berani mengakui kesalahan kolektif bawaan masa lalu, perlu sadar bersama u/ diperbaiki bukan terus2an di-amini. Saya sering meng-istilahkannya dengan ‘dosa sejarah’.

Kekeliruan2 yang membuat orang bertahan di ke-dungu-an cara berpikirnya disepanjang waktu. Menjadi enggan melakukan terobosan2 baru karena selalu akan dianggap mengganggu kemapanan dilingkungannya masing2. Maka solusi yang selalu ditawarkan adalah pencapaian nilai2 materi lambang kesuksesan secara kilat dengan menempuh cara2 yang paling cepat , by pass proses, langsung kepada apa yang hendak dicapai menggunakan azas kompromi bermufakat , tanpa perlu bermusyawarah.

Maka lahirlah istilah2 yg juga manipulatif, seperti: Kalau bisa dibuat lebih cepat mengapa harus diperlambat

Permufakatan yang seperti itu adalah permufakatan manipulatif , sebab selalu cenderung mengabaikan dimensi ethics yang menasbihkan eksistensi/keberadaan dunia ke-profesi-an yang selalu hadir bersama disiplin dan kompetensinya masing2. Disiplin profesi & kompetensi menjadi tidak penting karena tidak ada tempat ditengah berlangsungnya kompromi dan permufakatan2 seperti yang disebut diatas. Julukan dari sebuah profesi cukup ditempatkan hanya sebagai simbol2 bagi kelengkapan pengakuan terselenggaranya legitimasi yang di ‘sah’kan lewat transaksi dari kompromi & mufakat seperti diatas.

Orang pintar cukup untuk menjalani aturan2 apa saja yang sudah berlaku , orang pintar tidak untuk menemukan cara2 yang lebih baik … inilah paradoksal dari dunia ilmu pengetahuan yang terus berlangsung dan sedang kita jalani sampai saat ini. Anda diwajibkan untuk tetap menjadi bodoh agar bisa terlibat dalam kesuksesan2 yang dirancang dan direkayasa lewat cara2 yang manipulatif. Bila menolak maka anda akan disingkirkan dari kekuasaan2 yang ada disekitar anda sendiri

Tetapi itu mereka , bukan saya! … karena saya menolak dan melawan , sebagaimana seharusnya anda juga telah melakukan hal yang sama bukan? sudahkah anda … apa belum? lalu kapan

“singkirkan jsop!” … ah tak perlu repot2 , saya menyingkir dng sendirinya tanpa disuruh. Saya akan menjadi penonton yg bertanggung jawab. Bertanggung jawab karena saya sudah berupaya melakukan kewajiban2 apa saja yg bisa saya kerjakan , ftm \m/

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara