seniman & politik

Yang disebut dengan Peradaban itu adalah hasil sebuah mekanisme ‘kata kerja’ berpolitik. Peradaban yang baik adalah hasil dari cara2 berpolitik yang baik , demikian pula dengan hal yang sebaliknya. Maka tak perlu harus merasa ragu ataupun malu2 untuk mengatakan , bahwa peradaban Indonesia dalam perjalanan dari semenjak kemerdekaan sampai hari ini tidaklah lebih baik dari dua dekade pemerintahan sebelumnya [orla dan orba]. Untuk menyebutnya lebih buruk tentu saja bisa diurai satu persatu betapa banyaknya keburukan yang ada , namun saya tak hendak memaksakan subyektivitas2 pendapat pribadi saya sendiri untuk mengklaim kondisi tersebut.

Ada pepatah: Tidak ada yang abadi , karena keabadian adalah perubahan itu sendiri.

Namun jangan pula kita terkecoh dengan pepatah diatas , sebab perubahan itu wajib dikendalikan dan dirancang , sebab hakekat yg menjadi tujuan perubahan adalah sebuah kehendak bersama untuk mencapai kondisi yang lebih baik dari yang sudah berlangsung sebelumnya. Perubahan harus identik dengan perbaikan kualitas , bukan berdiam diri dengan pasrah lalu membiarkan semuanya terjadi , yang kemudian jika perubahan berakibat buruk maka dengan mudahnya berkilah mengatakan ‘ini kehendak jaman’. Padahal yang terjadi adalah kegagalan2 dari mekanisme kinerja atau ‘kata kerja’ berpolitik yang saya sebut di alenia pertama paragraf diatas.

Politik itu sebuah keniscayaan , sebab hakekat politik adalah terciptanya alam dialog / dialektika ‘tawar menawar’ bagi kepentingan semua orang yang hidup diwilayah yang sama. Ruang tawar menawar yang harus dikelola dengan baik , adil serta sarat dengan etika.

Apa yang harus dilakukan oleh satu entitas masyarakat yang menghuni dan mewakili satu peradaban seperti halnya Indonesia , ketika menemui fakta bahwa kegagalan2 yang terjadi selama ini disebabkan karena perangkat2 manusianya dalam menjalankan kata kerja berpolitik. Peran2 dan fungsi politis yang gagal dalam berpolitik untuk Republik Indonesia itu sendiri.

Saya sebutkan diatas pula bahwa berpolitik harus dilakukan melalui cara2 yang adil serta sarat dengan etika. Apa yang terjadi dengan dunia perpolitikan Indonesia? , sudahkah adil untuk kepentingan semua orang? sudahkah sarat dengan etika? . Orang2 yang tak mampu berpikir adil dan tak ber-etika dalam berpolitik juga akan menggunakan segala macam cara untuk melindungi lambang2 kekuasaan yang sudah berada didalam genggaman.

Seniman wajib menjauh dari kegiatan berpolitik dalam ‘kotak2 kardus’ seperti itu , sebab politik seniman adalah merawat ideologi dalam berkehidupan , peran dan fungsi yang jauh lebih bermartabat dan mulia disandingkan dengan orang2 yang mengurusi ideologi sektoral ber-Negara.

miskin bukan karena nasib kaya bukan karena berkah dari langit , martabat perintah hidup menjalani kehidupan \m/ rokenrol!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara