catatan dialog BPB-Guruh Gipsy

Sebetulnya sayapun pengen untuk bercerita panjang lebar tentang bagaimana proses kerja rekaman Badai Pasti Berlalu tersebut berlangsung. Namun penjelasan2 yang disampaikan sebelumnya oleh Erros Djarot saya anggap sudah cukup memadai. Tentu sesuai dengan pemahaman dari sudut pandang dan pikirannya sendiri. Artinya sebagaimana seorang Erros Djarot yang dimata saya seorang multitaskingman dari berbagai bidang lainnya , bukan hanya urusan musik pop.

Sedangkan saya ingin secara spesifik bicara mengenai dunia ke-profesian musik itu sendiri , agar tercipta korelasi antara paradigma masa lalu dan bagaimana hal tersebut bisa melahirkan paradigma barunya di hari ini. Saya tidak ingin kita hanya berkubang dimasa lalu , saya ingin masa lalu menjadi pembelajaran yang dapat dipetik oleh orang2 muda dimasa kini

Lagipula , apabila saya paksakan untuk bicara BADAI PASTI BERLALU dari sudut pandang yg saya pahami , maka hal tersebut hanya akan membuka luka diantara kami. Masing2 diantara kami akan mengalami kesulitan untuk hanya saling bantah membantah bahwa Erroslah yang dominan atau Yockie lah yang dominan berperan atau bahkan alm Chrisye sendiri.

Mengapa saya sebut ‘luka’ .. sebab pada saat itu belum ada panduan bagi struktur kerja , yang secara hirarkis menjabarkan dengan jelas wilayah otoritatif bagi setiap jabatan/peran [seperti: produser – musik direktor – komposer – lirikus – arranger – player] . Semua dikerjakan secara suka rela dan rasa kebersamaan , rasa persahabatan dan kekeluargaan. Seperti yang saya katakan disana , kondisi menjadi berubah 180 derajat ketika modernisasi hadir mengusung sistim management modern yg juga didukung oleh tehnologi yang semakin pesat. Lahirnya industri2 modern yang mampu merancang metode baru eksploitasi bagi pendistribusian produk musik yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Jelas bahwa hak-hak tentang nilai2 ekonomis dari setiap orang lah yang kemudian menjadi problem mendesak untuk harus segera diatasi dan diselesaikan. Artinya itu adalah masalah aturan > regulasi atau Hukum.

Sedangkan paradigma pemusik kerja pada saat itu hanyalah berbekal semangat , etos menghasilkan karya yg bisa terbaik tanpa pretensi apapun. Hal ini menjadi paradoks ketika hasil terbaik yang pernah kita kerjakan ternyata tidak mendapatkan perlindungan apa2 agar kami bisa turut merasakan jerih payah dari keringat kami sendiri.

Saya menggunakan istilah : Erros Djarot itu multitaskingman , sebab musik bukan domain profesinya , meskipun semua orang juga tau bahwa musik tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang Erros Djarot. Namun tidak demikian bagi orang2 lainnya seperti saya , musik adalah hidup saya sekaligus menjadi profesi yang saya tekuni semenjak awal tahun 1970’an.

Oleh karena itu , apabila saya memaksakan untuk berbicara panjang lebar tentang bagaimana proses2 BPB itu berlangsung , maka konsekuensinya dialog hanya akan ‘mbulet’ ber-putar2 dipamahaman ttg berbagai istilah yang tidak sama , atau jangan2 bisa menjadi ajang debat kusir. Saya juga seringkali mengatakan diberbagai kesempatan [forum dialog] … itu semua ibarat seperti ‘dosa sejarah’ atau kesalahan2 dimasa lalu yang tidak bisa dihindari oleh semua orang / oleh siapa saja. Karenanya selalu saya tekankan , mari kita sudahi kekeliruan2 seperti itu lalu kita petik hikmahnya , apa yang bisa dimanfaatkan bagi hari ini dan hari yad.

Saya tidak pernah memperdebatkan produk Badai Pasti Berlalu yang dibidani pada saat itu [1977] seperti menuntut hak atas royalties dsb. Namun saya menjadi wajib ber-reaksi saat produk tersebut di ekspolitasi kembali dalam bentuk / packaging yang lainnya tanpa menghormati hak2 profesi dimasa lalu karena aturan2 Hukumnya yang memang tidak ada.

Inilah alasan saya , mengapa sore tadi saya bicara mengenai aturan/hukum yang sebenarnya tidak termasuk dalam agenda acara dialog itu sendiri. Buat apa bicara nostalgia , romantisme sentimentil bila tidak ada manfaatnya apa2 bagi hari ini dan esok. Penjelasan2 kronologis sudah cukup disampaikan oleh Erros Djarot dengan baik [walaupun dari sudut pandang perspektifnya sendiri]

anda bisa baca catatan singkat saya 5 tahun silam , sekedar sebagai bahan referensi : BADAI PASTI BERLALU

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

One Response to “ catatan dialog BPB-Guruh Gipsy ”

  1. thanks!

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara