Hukum yg disorder

Problematik Kebudayaan yang sedang dirancang & dijalani oleh kita semua saat ini [bangsa indonesia] adalah soal HUKUM. Karena saya seniman yang berprofesi sebagai pemusik maka saya hanya punya legitimasi untuk meneropong permasalahan2 tersebut dari dimensi kesenian [bermusik]. Dialog musik pada 15 Desember kemarin adalah salah satu upaya yg bisa saya lakukan untuk mensosialisasikan hal tersebut , sekali lagi Hukum.

Bagi generasi yang menjadi agen2 perubahan dimasa tahun 1970’an , Kebudayaan Indonesia yang ada saat itu masih berada dititik equilibrium / titik keseimbangan dalam mengelola aspek politik-hukum-ekonomi dan sosialbudaya. Kalaupun faktanya kita temui bahwa ‘politik’ saat ini sangat represif dan mengekang kebebasan , maka bagi saya itu hanyalah ‘pilihan’ yang harus dijalani. Bagi saya biasa2 saja , namun bagi posisi2 lawan politik tentu bermakna ‘neraka’

Pilihan yang melahirkan konsekuensi baik dan buruknya sendiri2 , namun dari sisi lain pilihan tersebut terbukti telah menciptakan situasi2 yang merangsang setiap orang untuk menjadi kreatif diberbagai aktivitas bidangnya masing2. Manusia Indonesia secara ‘social-capital’ terdorong untuk mengembangkan watak nature/alamiahnya sebagai entitas dari masyarakat produsen yang bukan hanya kelompok masyarakat konsumen yang hanya bisa meng-konsumsi

Namun , kebudayaan Indonesia tidak berdiri sendiri , dia bagian dari dialektika yg melibatkan Kebudayaan bangsa2 lain yang ada dimuka bumi. Kebudayaan Indonesia harus selalu men-setara-kan posisinya dengan berbagai bangsa diatas … disinilah awal dari problematik itu semua muncul.

Ketidak sigapan kebudayaan Indonesia dalam menghadapi kenyataan , bahwa ketertinggalan2 yang harus dikejar untuk memposisikan dirinya dipercaturan global semakin lama hanya melahirkan catatan2 hutang ketertinggalan yang tercecer , lalu untuk dibiarkan menumpuk menggunung yang akan semakin sulit untuk bisa dikejar , seperti hutang yang semakin sulit untuk bisa dilunasi. Membidani munculnya paradigma ‘pasrah’ yang salah kaprah , mengalir saja yang penting selamat , alih2 menjadi skeptis dan permisif

Kita tidak mampu membuat HUKUM sendiri yang sesuai dengan realitas dari kebutuhan2 hidup kita sendiri , akibatnya:

a. Industri dunia global yang berkembang dengan pesat , justru melahirkan kesenjangan2 sosial antar kelompok masyarakat produsen yg semakin tersisih dengan gerak aktivitas ekonomi kelompok masyarakat industri lokalnya sendiri. Sebab Industri modern masuk tanpa terkawal oleh Hukum yang harus berpihak kepada kepentingan industri bangsanya sendiri.

b. Hukum yang ‘disorder’ tersebut menjadi sosok hantu menakutkan yang menjadi kenyataan , sebab HUKUM yang ada justru membuat sesama warga bangsa Indonesia untuk di-bentur2kan antar satu kelompok/golongan dengan lain2nya. Hukum justru menjadi agen ‘Devide Et Impera’ model baru dan aparat2 penegak hukumnya sulit untuk bisa disebut sebagai pelayan2 Hukum yang berfungsi melindungi warga masyarakatnya sendiri , sebab secara faktual [de facto] memang itulah ‘prestasi hukum’ yang bisa dirasakan oleh kita semua dengan nyata. Hukum yang melecehkan martabat Hukum itu sendiri

Saya ketika tergabung dengan sesama profesi pemusik , tanpa disertai dengan ikatan Hukum formal justru malah menghasilkan kerja kolaboratif kultural yang positif , dan kelompok2 masyarakat produsen dari berbagai bidang lainnya tersebut juga telah terbukti mampu menghasilkan karya2 nyatanya. Namun ketika modernisasi yang diwakili oleh industri2 maju dari kebudayaan maju dunia hadir dan tak di-antisipasi oleh perangkat hukum yg mengawalnya , maka terjadilah apa yang dirasakan hari ini.

Ada orang mengatakan : “modernisasi justru membuat situasi lebih buruk, industri maju justru tidak menunjukkan peta perjalanan menuju kesejahteraan bersama , tehnologi tinggi justru menjadi paradoksal dengan upaya merawat etika / nilai2 moralitas dan seterusnya. Dan saya meng-amini perkataan orang2 tersebut , karena dikenyataannya memang begitulah keadaan kita yang sebenarnya.

Solusi? … darimanakah datangnya Hukum yg untuk disepakati tersebut? ; dari dimensi Politik … ; siapakah gerangan orang2 yang mengendalikan dimensi Politik tersebut? ; poli-tikus Indonesia … ; kita semua punya tanggung jawab yang sama untuk bicara mengenai dimensi POLITIK yg telah berubah menjadi gorong2 tikus di Indonesia. Sebentar lagi pemilu , sadarkah kita apa artinya itu?

Politikus Indonesia senang sekali ngomong : “INGAT..! kita ini negara Hukum” … apa artinya hukum bila hukum itu sendiri cacat. Artinya … supaya kita semua akan terkecoh lagi dan mereka akan tetap duduk disana untuk menguasai Senayan.

Revolusi? .. YA hanya dengan revolusi! … pakai darah? ; ah..capeeeek ; Butuh Revolusi yang pakai OTAK

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara