kesenjangan antar musisi

Ada alasan2 yang bisa dicerna oleh akal sehat , mengapa muncul ‘kesenjangan’ diantara sesama generasi musisi. Baik itu diantara sesama generasi terdahulu [1970’an] maupun hubungannya dengan generasi berikutnya yang ada sampai dengan saat ini.

Seperti yg sering dikatakan oleh banyak orang , dijaman itu kerja kreatif bermusik selalu dimotivasi oleh rasa kebersamaan atau kolektivitas antar kelompok yang ada dilingkungannya masing2. Semisal anak muda kebayoran , menteng atau bahkan anak muda Jakarta , Bandung , Surabaya , Malang dan lainnya yang selalu ingin menampilkan identitas karakter dari wilayahnya masing2.

Rasa kebersamaan itulah yang membuat musisi2 terikat dalam totalitas kesetiakawanan sosial sehingga mengabaikan berbagai hal2 penting lainnya seperti ‘hak-hak’ individu maupun hak2 ekonomi yang sesuai dengan peran/fungsi2nya. Semua problematik dan keberhasilan2 yang mampu dicapai dibagi rata alias tijitibeh , tibo siji tibo kabeh atau mati siji mati kabeh.

Ketika modernisasi yang lebih modern hadir dengan membawa temuan2 tehnologi barunya , maka otomatis berpengaruh besar terhadap pemahaman dalam mengelola organisasi / sistim management , dari management tradisional ke yang tidak tradisional lagi. Itu semua adalah keniscayaan dari sebuah tuntutan perubahan yang tidak bisa dihindari oleh siapa saja , masyarakat mana saja dan bangsa apa saja yang ada dimuka bumi.

Kesalahan2 yang fatal adalah tidak adanya kesadaran dari suprasturktur [profesi2 pemusik] itu sendiri untuk segera berbenah melengkapi kognisinya dengan ilmu2 management berorganisasi yang harus dilengkapi.

Tidak demikian halnya dengan para pelaku industri ekonominya , mereka tanggap dan relatif cekatan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Maka yang terjadi kemudian adalah … kaum pedagangnya tambah pintar tetapi musisinya masih senang jongkok2 nongkrong dibalik tempurung kelapa , alias seperti katak dalam tempurung.

Kembali menyinggung topik diatas , tentang ‘ALASAN’ yang membuat kesenjangan diantara sesama musisi kita , maka jawabannya adalah:

Ketika dalam satu kelompok/komunitas tersebut ada 1 [satu] atau 2 [dua] orang yang melakukan kompromi2 dengan pihak pedagang [industri] , mereka sering mengabaikan bahwa: KEBERADAAN [eksistensinya] sebenarnya tidak bisa lepas dari lingkungan yg membentuknya , namun mereka cenderung suka bertindak sendiri2 tanpa ingin berusaha untuk melibatkan komunitas yang membentuk dirinya. Disisi lain , pihak industri pun juga tidak mau pusing2 dengan tetek bengek kesetiakawanan sosial. Mereka hanya tau : siapa yang layak dijual

Maka , kondisi dan situasi2 yang seperti diatas itulah yang selalu membuat musisi merasa dirugikan hak2nya oleh mantan2 sohib dari lingkungan mereka sendiri. Karut-Marut yang berkembang semakin luas hingga memicu rusaknya hubungan pergaulan secara kultural yang dahulu pernah terbina dengan baik.

Hasil dari semua itu … kemandeg’an proses kreatif berkarya untuk bisa melahirkan karya2 barunya yg se-aktual dan mampu berkualitas sama dengan karya2 terdahulu yg pernah dibidani bersama. Industri menentukan segalanya , siapa yang berhak mengenakan mahkota dan siapa yang tidak berhak.

Banyak kita jumpai disana sini , semakin seseorang menjadi populer dan berhasil secara ekonomi justru semakin melorot kualitas intelegensia yang dia miliki , sebab ukuran keberhasilan dan popularitas dikaitkan secara linier dengan materi yang ditawarkan oleh industri , tidak lagi ada kaitan keterlibatan seseorang tersebut dengan persoalan2 nyata yang tengah terjadi disekitar hidupnya sendiri2 , absurd

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara