niat baikmu untuk siapa?

Segala upaya yang berangkat dari niat yang baik … akan menjadi buruk ketika tujuan tidak disertai dengan perilaku yang terjaga. Saya akan coba untuk menguraikan definisi dari kata: ‘terjaga’ , agar tidak sekedar menjadi accessories dari permainan kata2.

Perilaku yang disebut tidak baik diatas muncul akibat paham pragmatisme yang membabi buta. Yaitu berlakunya kebenaran pragmatik untuk menghadapi segala urusan dalam hidup. Kebenaran pragmatik adalah kompromi dan kesepakatan yang kita lakukan terhadap diri kita sendiri [antara hati dan pikiran] , maupun terhadap pihak2 lainnya tanpa mengabaikan aturan2 yang selalu menghadirkan etika yang tak boleh dilanggar.

Sedangkan yang disebut ATURAN sudah sering saya bahas berulangkali , yaitu normatif non tekstual dan normatif tekstual. Yang non tekstual dikenal dengan istilah etika , selalu hadir bersama tradisi/kebiasaan2 baik , lalu disebut value / nilai2 kearifan. Sedangkan normatif tekstual adalah Hukum positif yang ditulis lewat kitab perundangan yang berlaku.

Peradaban atau civilization , itu adalah penjelasan tentang segala niat baik yang harus disertai dengan kelengkapannya ketika niat baik tersebut akan di-implementasikan [disebut tujuan yang baik]. Ketika arah dari maksud tujuan yang baik menjadi kesatuan dalam pola pikir dan tindakan , maka itulah esensi dari sebutan kata IDEOLOGI. Setiap orang yang hidup wajib punya ideologi bagi tujuan2 dalam hidupnya sendiri , lalu mengenali perjalanan yang harus ditempuh dan dilewati melalui proses mereka sendiri2.

Proses belajar untuk mengenali perjalanan ideologi itulah yang disebut dengan ilmu pengetahuan. Diperoleh dari bangku2 pendidikan secara formal maupun non formal. Pengetahuan dari disiplin pendidikan formal selalu berdasarkan teori2 definitif berdasarkan fakta dan argumentasi dari peristiwa yang pernah terjadi [sejarah masa silam]. Sedangkan pengembangan dari ilmu pengetahuan yang non formal lebih berdasarkan pada kesadaran inhern setiap orang , untuk melakukan antitesis , analisis , sintesa , hipotesa yang akan berproses secara terus menerus.

Karena itulah , mengapa Ilmu tidak cukup hanya selesai sampai dibangku sekolahan saja , sebab bangku sekolah hanya mengajarkan teori. Ilmu harus diaplikasikan dikehidupan nyata , memberikan ruang bagi teori agar berdialog dengan realitas kenyataan untuk bisa menghasilkan produk2 pikiran maupun produk konsumsi yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan dijamannya masing2

Kembali pada paragraf awal diatas … ‘Niat baik akan menjadi buruk’ selalu terjadi ketika orang tidak peduli pada Ideologi yang menjadi tujuan jangka panjang dalam hidupnya sendiri , dengan sendirinya tidak peduli juga dengan Ideologi yg menjadi tujuan hidup bersama. Pragmatisme yang membabi buta , tidak mengenal definisi MUSYAWARAH yang selalu mengusung kelengkapan2 ilmu pengetahuan. Mereka hanya mengenal MUFAKAT atau kesepakatan2 jalan pintas untuk meraih segala keinginan. Itu persekongkolan buruk yang massal/massive namanya dengan meng-atas-nama-kan niat baik.

Budaya memanipulasi dan penyesatan makna … fuck the mainstream!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara