seleksi alam

Rontoknya label2 asing industri rekaman di Indonesia yg ber-orientasi menghisap dan menjajah.

Dari sekian banyak major label yang pernah bercokol , kini tinggal hitungan 3 (tiga) jari yang masih tersisa dan berusaha untuk bisa bertahan. Itupun juga karena subsuidi silang dari bisnis industri per-film’an yang juga mereka jalankan.

Ada yang menarik yang dapat kita pelajari dari kasus2 terbuka lebarnya modal investasi asing dari jenis yang seperti ini. Pada umumnya mereka bukan hanya ingin memperluas jaringan/networking bagi pasar , namun juga melakukan rekayasa-sosial agar pasar bisa dikuasai selamanya , agar selalu dapat dikendalikan oleh produk2 yang sesuai dengan selera/kehendak mereka sendiri. Sekaligus untuk mempersiapkan tatanan baru [platform] bagi hadirnya pelakon2 yang aslinya kelak untuk menguasai pasar hiburan di bidang2 yang lainnya , misalnya panggung2 hiburan [live concert]

Artinya semua produk2 musik Indonesia yang berada dibawah kendali label2 asing tersebut , harus melalui satu tahap persetujuan dari head-office negara yang bersangkutan , sebelum akhirnya pengendali2 management lokal di Indonesia diijinkan untuk memproduksinya.

Ini semua menjawab pertanyaan2 saya selama ini , mengapa produk musik sejak tahun 90’an dari generasi muda musik pop Indonesia saat ini cenderung tercabut/tercabik dari akar serabutnya sendiri. Seperti yang telah seringkali saya katakan di-mana2 , bagaimana mungkin orang bisa berekspresi dengan baik bila persoalan yang diangkat diluar konteks dari permasalahan hidup mereka sendiri.

Selalu ada seleksi alam yang akan mengelola keseimbangan2 , masalahnya adalah seberapa tanggap manusia yang bersangkutan mampu mengantisipasi segala kemungkinan2 buruk sebelum semuanya sudah terlanjur menjadi dilematis

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara