pemilu punya kita bukan mereka

Sudah jelas bahwa biang segala kesemerawutan yang terjadi saat ini dikarenakan dari kegagalan politik pasca reformasi 1998. Mau berkilah cari alasan 1001 macam sekalipun tetap akan merujuk pada dimensi transformasi politik yang tak kunjung membawa perubahan seperti apa yg diharapkan.

Yang menjadi pertanyaan besar kita adalah: jika semua lini pilar stakeholder Negara masih dikelola dan diduduki oleh mereka orang2 yang serupa & cara2 yang sama , lalu untuk apa sebenarnya pemilu 2014 nanti kita selenggarakan. Apakah terus akan melanjutkan sesuatu yang sudah terbukti keliru , karena tuntutan formalitas bahwa Negara Demokratis itu harus ada pemilihan umumnya

Dipercaturan global kita dituntut untuk berproduksi / menunjukkan kualitas pengabdian kita sebagai warga negara yang pro aktif , agar bisa meng-implementasikan kolom ‘pengabdian pada negara’, namun bagaimana caranya bisa pro aktif jika situasi yang ada masih serupa

Pemilu tinggal hitungan bulan yang tidak lebih dari sepuluh jari tangan , namun belum nampak gerakan kesadaran dari masyarakat yang secara massive mempersiapkan dirinya masing2 untuk terlibat dalam agenda2 perubahan itu sendiri. Apakah pesta demokrasi akan dibajak lagi menjadi pestanya partai2 politik yang hanya membuat masyarakat euforia demokrasi , pemilu yang tak ada kaitannya dengan kepentingan hidup se-hari2 rakyatnya sendiri.

Emangnya pemilu itu semacam peringatan hari raya Lebaran , Natal , Imlek , tahun baru dan sejenisnya? Pemilu itu kan layaknya ‘Rapat Umum Pemegang Saham’ , seperti Perseroan Terbatas melakukan tindakan evaluatif dan korektif yang konkrit bagi struktur organisasi managementnya

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara