kita butuh aturan!

jsop

Dipagi buta aku terjaga … terngiang lewat gendang telinga kalimat yang beberapa saat lalu diucapkan oleh Megawati Soekarno Putri dalam tayangan disebuah acara televisi. Negara ini tidak hanya butuh presiden , mencalonkan diri atau untuk menjadi presiden itu mudah dalam artian hanya ada dua cara : konstitusional atau inkonstitusional. Negara ini butuh seorang pemimpin. Disini Megawati berusaha menekankan perbedaan antara fungsi pemimpin dan peran presiden

Seperti yang saya katakan dan pernah saya tulis disini : Bagaimana mau mengelola persoalan Negara dengan baik jika persoalan Bangsa selalu diabaikan. Negeri ini adalah Negara Bangsa , bukan Negara dari satu suku / ras dengan identitas [sub] bangsa tertentu. Dibutuhkan pemimpin untuk mempersatukan kehendak bangsa , baru kemudian perlu jabatan presiden untuk mengelola administrasi Negara

Dalam scope persoalan yang jauh lebih kecil dan sederhana , hal-hal semacam  itu pula yang selalu saya alami dalam kehidupan saya secara pribadi dilingkungan komunitas kerja kreatif , sebagai seniman yang bermusik.  Dibutuhkan figur pemimpin disaat situasi cenderung ‘liar’ lepas tak terkendali. Saya tidak berambisi untuk menjadi pemimpin , saya lebih merasa nyaman untuk patuh pada perilaku menjalani kesepakatan [aturan] yang menjadi panduan bersama atau representasi dari kehadiran figur pemimpin.

Namun secara de facto masyarakat dilingkungan hidup saya selama ini tidak memiliki panduan / aturan2 yang memadai sesuai dengan tuntutan2 kebutuhan jaman yang terus berkembang. Bisa diartikan bahwa kita selalu ketinggalan jaman untuk berkesadaran agar selalu melengkapi aturan-aturan baru yang diperlukan bersama.

Maka , disaat keadaan menjadi cenderung ‘liar’ seperti yang saya maksud diatas … keliaran2 yang tak akan menghasilkan apapun selain kegaduhan / kebisingan yang diciptakan ber-sama2 , disanalah saya kemudian merasa terpanggil untuk seolah menempatkan diri sebagai seorang ‘pemimpin’ dari komunitas2 tertentu. Sebut saja dari semenjak era Badai Pasti Berlalu , Godbless , Kantata maupun kelompok2 kerja kreativitas lainnya yang lebih kecil

Sialnya , sikap keterpanggilan tersebut dihadang oleh watak2 buruk warisan lama yang dengan mudahnya menggunakan justifikasi2 bahwa saya berambisi untuk hanya memikirkan kepentingan2 pribadi. Oleh karena itulah  saya di tahun2 belakangan ini cenderung memilih menyingkir dan fuck the mainstream! Sebab masyarakat diluar sanapun cenderung meng-amin-i dan lebih suka berbuat hal2 yang serupa. Buktikan saja tanpa ada panduan cara atau bahkan ‘saya’ yg terkadang terpaksa menempatkan diri sebagai ‘pemimpin bayangan’ … tabik saya pada anda

Tentu ada alasan dan sebab2 lainnya … panjang lagi ceritanya nanti

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara