apa itu retorika kosong

Kalimat bersayap bukan untuk digunakan ditataran praksis , dia untuk menjembatani gagasan yg masih bersifat idealistik.  Waspadalah kepada cara2 politikus kardus yang bermetafora lewat ilmu permainan kata / retorika

Saat berada diposisi sebagai pembicara , orang2 seperti itu cenderung untuk menciptakan jebakan fait accomply yang memerlukan redaksional panjang  & meletihkan untuk bisa dijawab / dibantah / di validasi dengan segera , membuat orang jadi malas karena harus bicara ber-tele2 untuk menerangkan maksud dari duduk perkara yang hendak dipertanyakan , sehingga membidani sikap pasrah yang salah kaprah [sebab belum tentu didengar dengan baik s/d belum tentu dia juga mengerti ketika dibawa kepojok dialektik]. *otaknya sudah terlanjur terkontaminasi candu politik’

Layaknya ‘ranah ideologis’ yg harus dijelaskan melalui metode pragmatik yang hanya menyediakan waktu sekejap , mana mungkin bisa dilakukan … siapapun tak akan sanggup kalau tak ingin isi kepalanya ikutan mendidih hingga bisa meledak

Maka lahirlah apa yang saya pahami dengan maksud kalimat yang ditulis oleh Radhar Panca Dahana dalam sebuah kolom opini di media kompas  bahwa:  ‘demokrasi juga menyembunyikan watak2 otoritarianisme terselubung untuk memaksakan kehendak’

Akhir kata: gunakalah kalimat2 bersayap sesuai porsinya ,  dengan kesadaran penuh untuk memahami dimana maksud yang sedang me-layang2 terbang tersebut akan hinggap atau dihinggapkan ,  jangan mabur sakkarepe dhewe tanpa alamat & pertanggung jawaban arah tujuan yang jelas

“wah dia hebat betul ya … bicaranya selalu membuka cakrawala berpikir yang mendengar” …. setelah sang pembicara berlalu : “semprul … dia tadi itu sebetulnya ngomong apa sih ya? koq saya tidak bisa menelusuri jejak kata-kata yang dia ucapkan”

Glegek! non teqi sebotolpun ludes ditenggaknya

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara