muak dengan politik?

“Saya muak dengan politik sebab politik itu sarat dengan tipu muslihat serta dikenyataan praktek2 nya bertolak belakang dengan azas keterbukaan”

Tidak ada yang keliru dengan ungkapan kalimat seperti diatas bagi mereka yang menjunjung nilai2 kejujuran yang hakiki. Namun menjadi salah kaprah ketika kalimat tersebut diletakkan ditengah situasi yang jauh dari realitas -sosial yang ideal apalagi cenderung normatif.

Jika saja 25 tahun semenjak kemerdekaan , bangunan serta tata cara sistim adminstrasi untuk mengelola cara2 berperi-kehidupan masyarakat bangsa Indonesia relatif bisa diciptakan dan benar2 dipatuhi karena telah disepakati bersama , maka tidaklah perlu lagi bagi semua orang yang mengaku warga negara Indonesia harus pusing2 kepala terlibat dalam blunder perdebatan politik sampai dengan hari ini

Politik menjadi urusan mendasar bagi setiap orang ketika mereka hendak bersatu dalam wadah sebuah Negara yg demokratis. Sampai dengan ditentukannya kesepakatan2 mutlak yang melahirkan ideologi bersama sebagai panduan untuk hidup saling ber-ketergantungan.

Seandainya analogi 25 tahun yang saya maksud diatas mampu dicapai , maka setiap orang yang menjadi warga negara akan berdiri dan bekerja diwilayahnya masing2 sesuai dengan disiplin profesinya masing2. Seorang insinyur , arsitektur , dokter sampai dengan supir taksi tidak perlu bersentuhan dengan cara2 politik praktis/harian.

Mereka cukup 5 tahun sekali mendatangi kotak2 pemilu untuk mencoblos / mencontreng guna memilih wakil2 mereka di parlemen , lalu pulang kembali kerumah atau ketempat pekerjaaannya semula. Disanalah kalimat “saya muak dengan politik” itu layak untuk diletakkan serta dijadikan alasan saat mesin2 birokrasi administrasi Negara ‘macet’ namun  sudah ada sendiri yang mengerjakannnya secara profesional dan penuh kompetensi.

[bersambung .. kalo gak males!]

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara