bagi2 uneg-eneg

uneg

Membangun Bangsa atau Negara? tentu tidak bisa disamakan dengan anekdot ‘mana yang terlebih dulu , ayam atau telornya’

Bangsa modern hanya bisa dibangun melalui sistim bernegara , namun bernegara juga harus mengacu pada kebutuhan2 spesifik karakter dari warga bangsanya itu sendiri. Disinilah saya menemukan problematik2 yang tidak se-sedernana seperti apa yang dibayangkan orang2 selama ini

Kompleksitas2 yang muncul dari heterogenitas masyarakat Indonesia , atau sering saya sebut sebagai ‘pekerjaan rumah sejarah’  yg tidak pernah tuntas diselesaikan , telah berubah menjadi ‘dosa sejarah’ yang membebani proses2 dalam menata / membangun sistim bernegara demokratis , sesuai yang diharapkan dalam konstitusi kemerdekaan

Sampai dengan hari ini saya masih melihat upaya ‘sepihak’ dari pekerja2 administrasi [kaum birokrat] , yang seolah ingin memaksakan terbentuknya aturan2 berbangsa sesuai kehendak golongan kaum administratifnya [a/n negara].

Bangsa menjadi semacam ‘properti’ milik Negara , bukan sebaliknya bahwa Negara adalah sistim adminstrasi dari sebuah bangsa , yang bermakna pula bahwa Negara-lah yang menjadi milik Bangsa. Tidak pernah ada Negara bisa terbentuk tanpa kehadiran bangsanya itu sendiri sebelumnya [rakyat]

Alih2 yang menjadi konklusi dari segala diskusi & wacana yang bergulir adalah sikap ‘kepasrahan’ , yang dimotivasi dari kesadaran kolektif yang dipaksakan , bahwa ‘dibutuhkan waktu yang cukup untuk bisa berhasil menciptakan peradaban politik’ seperti yang di cita2kan .

Dengan kata lain … sekarang ini mengalir saja dulu yang penting aman tidak menimbulkan kekerasan akibat gesekan hingga benturan2 kepentingan yang tak diharapkan

Tentu tidak bisa tidak setuju untuk menempuh cara2 diatas akibat dari tak adanya pilihan2 lebih baik  yang tersedia.

Pemilu 2014 ini tidak akan merubah kondisi apapun , namun pemilu 2014 ini tempat kita semua berharap akan  lahirnya kelas menengah yang genuine atau civil society yang sebenarnya. Yang akan segera membantu memberdayakan kesadaran seluruh warga bangsa Indonesia [multiplier efek] tentang arti dan makna dari Kemerdekaan yang sesungguhnya. Tidak bisa di tunda2 lagi sebelum kerusuhan demi kerusuhan akan terus berulang-ulang terjadi kembali

Bahwa merdeka itu artinya bekerja untuk mandiri , bukan berpindah ‘gantungan sandaran hidup’ dari kekuasaan kolonialis kepada kekuasaan sistim pemerintahnya sendiri yg cenderung se mena2 pula. Bangsa [rakyat]  adalah pemilik Negara yang dengan sendirinya harus menjadi alat kontrol bagi pekerja2 adminstrasinya sendiri. Negara diatur oleh Ideologi / kehendak Bangsa , bukan Negara mengatur apa yang harus dilakukan oleh bangsanya sambil menafikkan ideologi bangsa [Bhineka Tunggal Ika]

Banyaknya pendapat2 yang berbeda harus dikelola untuk menampung keberagaman , serta berfungsi untuk melahirkan Kebenaran Perfomatif yang tidak sepihak saja. Saya seniman , profesi yg berpihak pada persoalan demi kepentingan2 kebangsaan , tidak mengurusi persoalan tata kelola administrasi yang bersentuhan dng syahwat2 kekuasaan

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara