4 pilar bedeng jaya

Cara2 ber-demokrasi dengan divide et impera politik adu domba untuk memperebutan kekuasaan itu dua hal berbeda.

Semua terjadi akibat berlangsungnya berbagai azas mufakat tanpa melibatkan musyawarah dan gotong royong lagi sebagai persyaratannya ,  semua pihak rentan untuk menjadi korban dari kepentingan kelompok serta golongan.

Musyawarah itu dialektika dalam sebuah komunal masyarakat tertentu yang di jaman ini semakin langka ,  membidani maraknya kesepakatan2 kelompok yg tak lagi melibatkan lingkungan besarnya sendiri sebagai landasan berpikir untuk bekerja meraih cita-cita bersama

Meraka adalah masyarakat yang tak lagi menghormati apalagi untuk menjaga tradisinya sendiri , segerombolan orang yang didera krisis empati. Masyarakat yang se-olah2 rukun dan damai , namun dibalik itu tersembunyi  ‘kepentingan-kepentingan’ bagi setiap orang/individunya sendiri2

Lalu munculah keanehan2 kata-kata , seperti Empat Pilar Bangsa dlsb. Dari semenjak muncul saya sudah heran dengan istilah 4 pilar tersebut , kayak bedeng darurat aja. Pancasila itu ya ibarat ‘batang tunggal’ yg disepakati , nggak pake pilar2an segala macam.

CACAT MAKNA itu lahan subur CACAT BUDAYA, makanya pada ngawur semua. Dimensi sintesa yg sekenanya saja , tanpa antitesa & metode analisis yang memadai , lalu semua orang serta merta merasa dirinya sah2 saja ber-hipotesa ria. Agar tampak intelek maka demokrasi pun di bawa2 . Yang TUA semakin nggedhabrus yang MUDA doyan ilusi berkubang di dangau2 fatamorgana

Investasi ekonomi yang digrogoti industri bodong disebutnya pertumbuhan , hiper-realitas disegala bidang di elu2kan , bah! hidup dengan siapa dan dimanakah kita semua sekarang ini … disorientasi tujuan ini dimulai dari salah kaprah dalam pemaknaan kata.

Mungkin hasrat hati hendak memberi ruang seluasnya bagi kebebasan berwacana , agar terbuka kemungkinan untuk melahirkan temuan2 baru yang memperkaya khasanah pikiran serta bahasa Indonesia. Mereka lupa bahwa BAHASA berkembang seiring dengan hasil produktivitas bekerja , istilah2 baru yang akan muncul seiiring dengan produk-produk budaya barunya lagi dari setiap Bangsa

Tanpa kemampuan berproduksi bagaimana bisa berharap memperkaya khasanah dalam berbahasa

 

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara