Norma mengikat

Kalau mau jujur masalah apa saja yg sdg kita hadapi sampai saat ini,  beranjak dari tidak ditaatinya NORMA,  sebagaimana kita tau bahwa semua jenis aktivitas selalu berpijak pd norma.

Sedikit banyak kita masih mau taat dng norma2 dari kegiatan2 yg bersifat tradisi untuk menyikapi hubungan antar manusia diwilayah kultural / bangsa . Tetapi ketika masuk wilayah formal, dimana kita harus mengadopsi paradigma budaya asing untuk menata sistem ber-Negara >politik,hukum,ekonomi … kita hantamkromo

Padahal sistem politik dan lain2nya itu ketika muncul lahir dan berkembang ditempat asalnya,  juga selalu berpijak dari Norma2 masyarakat yg ada dan berlaku disana. Kita mengadopsi sis.politik/hukum/ekonomi dengan cara2 memaksakan diri lewat slogan modernisasi guna menerapkan Norma2 bangsa lain yg berbeda agar sistem tersebut juga bisa berlaku disini, atau bahkan sebaliknya cuek dengan norma2 yg hrs dipatuhi dalam konteks mengadaptasi, lalu menggelinding saja mengalir seperti air

Alih2 sistem memang berjalan namun lebih sering menimbulkan konflik , merugikan banyak orang karena berbenturan dng Norma2 dari kultur bangsa kita sendiri. Proses membangun tatanan ber-Negara yg baik akan sulit mencapai tujuannya jika dalam mengadopsi apa saja untuk ditelan mentah2, adopsi harusnya berproses menuju adaptasi

Budaya asing yang harus disesuaikan dengan norma bangsa sendiri untuk bisa disebut ADAPTASI dan menjadi bagian dari budaya baru khas bangsa kita sendiri, bukan kita yg harus merubah diri menjadi asing. Lalu dalam berproduksi agar prod. budaya tidak dituduh copy & paste, maka disitulah Norma harus dipatuhi, gunakan norma2 kultur kita sendiri u/ mengaplikasikan gagasan lewat perangkat2 tehnologi yang diproduksi oleh kebudayaan bangsa2 yg lebih maju

Selama ini sudah sering sy mendengar  : “ah disana juga begitu koq mas…”; ketika ada orang yg perilakunya sy kritisi, ya jelas disana memang begitu , sesuai dengan kultur budaya mereka sendiri. Lalu biasanya dialog akan berhenti dan selesai ditataran :”o iya ya… disana memang lain ya…” , tapi tetap saja tidak mau mencari jalan keluar apalagi untuk merubah perilaku

Ok’ , mau bicara Norma untuk aktivitas apa..politik? hukum? ekonomi? ,  mari kita bicara Norma diruang sosial budaya dulu, saya kan seniman :p masak ujug2 bicara harga tiket jalan tol dan bensin naik melulu

Saya ini produk Kultur POP era 70’an, saya juga mengadopsi produk budaya asing ‘doremifasolasido’ , GodBless itu salah satu contoh produk budaya kultur pop Indonesia hasil adopsi dari produk budaya asing. Dengarkan saja baik2 pola notasi (running not) yang saya mainkan atau karya rekan2 lain disitu, juga tema2 persoalan lewat lirik2 yg ditulis, kami berusaha menjadi rock indonesia, sebab saya tidak ingin sampai tua jadi duplikasinya generasi flower generation eropa/amerika … wong sy tidak mengalami sendiri perang vietnam , wajib militer dll

Jadi, mengamati Godbless atau musik2 pop indonesia dimasa2 70’an s/d 90’an jangan dilihat dari kacamata kuno atau modern, tapi gagasan (peran otak) yang berusaha untuk diberberdayakan dengan baik. Saya dengan kelompok2 yang lain berpijak pada Norma ketika bikin ‘musikpop’ Indonesia, kita buang paradigma “o’yeah,kemon,lets go’ yg gak nyambung , juga tema2 yang tidak ada konteksnya dengan peristiwa saya terhadap lingkungan hidup saya sendiri sebagai orang Indonesia

Apa hasilnya? lihat dan dengar saja sendiri.. tetapi industri yg berkacamata cowboy pasti akan selalu bilang: ‘ih.. indonesia banget ya, kurang internasional’ katanya , ya jelas dianggap kurang internasional karena mereka itu industri2 komprador kepanjangan tangan mbah2 industri yang ada disana yang sudah pasti nyetornya kesana , untuk itu semua produk2 komoditas musik yg bisa didagangin ya harus sesuai dengan strategi penetrasi mereka. Apa tujuan strategi mereka? .. ya apalagi kalau bukan mempersiapkan landasan mulus untuk jadi tempat landing-nya produk2 asli milik bangsa asing , agar jualannya lancar di pasar yang sudah dibentuk di Indonesia , giliran musisi Indonesia yang nantinya harus menyingkir dari ruang2 ekonomi miliknya sendiri , mungkin akan jadi tk jual karcis dlsb

Tidak bisa dipungkiri juga , bahwa ada emosi kolektif dari istilah rock yg ber adagium dari paradigma bangsa asing, saat anda mendengar musik/lagu ‘rumah kita’ atau ‘kehidupan’ dll , itulah maksud dari Norma yang kami berdayakan untuk bisa melahirkan produk budaya milik orang Indonesia dan yang khas Indonesia

NORMA, itulah semua yg akhirnya menjadi KEBENARAN sy dalam menjalani profesi, yg pada gilirannya berkaitan dng norma2 ekonomi, hukum sampai pada norma politik. Saya terpaksa harus belajar dan belajar lagi untuk memahami dimana serta bagaimana caranya agar norma2 bangsa sendiri dapat difungsikan untuk menata cara2 dalam ber-peri-kehidupan

Ironisnya sampai detik ini profesi pemusik nggak jelas perlindungan hukumnya, jadi bagaimana saya bisa berharap akan ada musik/lagu produk budaya orang Indonesia jika norma2 ekonomi tidak dikawal Hukum, Norma hukumnya sendiri tidak korelatif kontekstual dng norma2 yang berlangsung dimasyarakat, apalagi norma2 berpolitiknya juga ambyar semau gue saja.   Ini perjuangan dalam hidup saya… yang semuanya hrs diawali dari lantai dasar , dan tidak bisa dikerjakan sendirian

Pelanggaran norma biasanya karena ketidak tauan, lalu melahirkan kebiasaan, kebiasaan menjadi norma [baru] yg mengikat, norma mengikat menjadi HUKUM Formal/Positif. Artinya … masa sih orang mau disuruh nyemplung kedalam sumur kalau dia sudah tau bahwa itu lobang sumur bukan kolam renang [ranah pendidikan]

Maka saya gunakan kalimat vulgar :FUCK THE MAINSTREAM yang saya anggap ‘equivalent’ untuk menyikapi banalistas budaya yang memicu maraknya vandalisme budaya … eh didiamkan lagi! karena tidak tau kan? apa karena tau bahkan sengaja?

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara