martir

Pragmatisme itu aktivitas berjangka pendek untuk mengatasi persoalan2 yg memang harus diselesaikan lewat jangka pendek. Sedangkan mengelola tata-kelola kehidupan itu aktivitas berjangka panjang  yang butuh pemikiran serta gagasan untuk mengantisipasi apa yg seharusnya dicapai dimasa depan. Orang harus makan agar tidak lapar (pragmatik) tapi harus pula menanam padi atau bekerja mencari uang untuk bisa membeli makanan dan berkelanjutan (non-pragmatik)

Roda peradaban dunia yang bergerak semakin cepat membuat masyarakat dari belahan bumi tertentu acapkali potong kompas guna mengejar berbagai ketertinggalan. Kebiasaan perilaku potong kompas pada awalnya memang terasa membantu untuk mengejar kesetaraan yg diharapkan, namun itu semua hanya ‘terasa’,  sebuah keterangan yang punya makna ‘se-olah’. Sebab kebiasaan potong kompas hanya menyentuh dimensi visual/fisik, untuk meniru apa yang sudah dicapai oleh masyarakat dari barisan terdepan [kebudayaan maju]

Tragisnya, proses2 pengapdopsian dan meniru tersebut seringkali tak dilengkapi dengan bekal2 yang memadai, itulah yang selalu dialami oleh orang2 muda yang kodrat dipundaknya memang mengusung peran sebagai agen2 perubahan. Padahal perubahan yg sebenarnya hanya bisa terjadi serta berjalan dng baik apabila sebutan orang muda sbg agen perubahan diatas adalah kesatuan dari civil society

Usia muda tidak mutlak untuk bisa disebut civil society, sebab civil society itu penjelasan dari masyarakat madani dari segala lapisan usia yang mumpuni. Ada sebutan the lost generation bagi orang2 muda yang takabur. Di negeri ini, perilaku konsumerisme unt memperoleh status ‘tdk ketinggalan jaman’ memfasilitasi pragmatisme unt melakukan tindakan apa saja, yang pada umumnya gerakan tsb memang didominasi oleh peran usia muda. Ikon orang muda di blowup se-tinggi2nya hingga melampaui batas2 otoritasnya dalam sebuah struktur masyarakat civil society

Dari perspektif budaya, saya membaca ini semua sebagai upaya ‘jahat’ untuk selalu dikorbankannya social capital, lalu diposisikannya mereka sebagai martir dijamannya masing2.  Saya seniman musik, bukan ilmuwan akademisi yg berpikir & bergerak melalui disiplin ilmiah scientis, saya membaca gejala yg nyata & empiris dan tentu saja dengan gaya bahasa saya sendiri

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara