sumbang pikiran: GB

gb2

ketika Jumpa Pers GB 29 Agustus di Bandung: … Jangan melihat GB sebatas grup musik rock ala Indonesia, tapi tengok secara individual yang sudah dilakukan oleh masing2 personilnya bagi musik Indonesia. Hati bisa jadi ‘gusar’ jika jurnalis musik hanya berkutat dibahasan industri pragmatisme saja, dangkal dan ngeselin :p

(Contoh pertanyaan nggak bermutu):  bisa diceritakan? apa kiat2nya selama ini hingga tak lekang waktu; “jiaah… minum jamu cap jago kali”, mbokya lengkapi data terlebih dulu sebelum mengajukan tanya. Terpaksa harus selalu meng-ulang2 kalimat “yg penting hrs saling menghormati … dst , mirip merk dagang yg lagi jualan produk lama bungkus baru. Pertanyaan2 yg nggak penting banget, analogi semiotikanya kalau di bali itu : hello sir, do you like Bali?, why sir?

Komunitas GB dimasa lalu itu ibarat sumur mata air yang melahirkan ragam bentuk musik/penyanyi Indonesia, sayapun beranjak berangkat dari sumur yang sama [1973] namun pergaulan musikal sdh diawali sejak beberapa tahun sebelumnya. Seyogyanya jurnalis musik bukan hanya penggembira industri musik hiburan saja, tapi turut mencerdaskan publik /masyarakat penonton dan pembaca berita

Ini fakta obyektif dari dunia musik Indonesia saat ini, bahwa tak dikenal ‘peristiwa budaya lewat musik’ selain maraknya panggung2 hiburan untuk jogetan bareng

10 tahun waktu yang cukup lama untuk bisa berdiri diatas panggung konser yang sama, namun perjuangan saya bukan untuk berhenti sampai disitu saja. Saling memahami cara dari setiap kebiasaan individu dan melakukan konsensus bersama untuk disumbangkan bagi perkembangan musik Indonesia, apapun nama kelompok kerjanya

Seandainya saja masyarakat musik [pop] sudah bisa memilah fungsi musik bagi dunia industri hiburan & musik sebagai media rekayasa sosial, maka mereka akan memahami bahwa popularitas Godbless itu karena menyumbangkan keduanya, hiburan dan melahirkan masyarakat musik Rock Indonesia itu sendiri, mempelopori kesadaran untuk mengusung peristiwa orang Indonesia lewat musik/lagu rock berbahasa Indonesia. Maka jangan perlakukan Godbless seperti memperlakukannya pada para idola remaja lagi

Saya atas nama GB pun berharap agar kelak dikemudian hari Indonesia bisa memiliki kelengkapan produk budaya yg turut memperkaya identitas melalui karya2 tradisi baru dari kultur pop nya sendiri … [Godbless dari tinjauan budaya]

Lagu2 seperti Kehidupan – Semut Hitam s/d Rumah Kita … apa sih yg ingin disampaikan? itukan peristiwa manusia dng lingkungan sosial dikehidupan mereka sendiri , Menjilat Matahari apa dipikir saya mau menjilati matahari?

Kalau masyarakat hanya berorientasi pada musik sebagai hiburan, maka tak perlu menunggu s/d 20 atau 30 tahun kedepan untuk meramal nasib seniman, seniman jujur akan musnah diganti seniman bertopeng yg senang bicara ketimpangan sosial dari pantulan cermin kaca spion lalu bersekongkol dengan hegemoni industri untuk ber-sama2 memetik keuntungan materi melalui cara2  menghindari fakta obyektif yang ada didepan hidungnya sendiri

Perilakunya lebih kotor dari politikus busuk, sebab SENI mirip dng DOA yg mampu menyusup ke relung kalbu guna mempengaruhi jiwa . Seniman2 bertopeng yang dengan ringan pikiran mengorbankan hak2 orang2 lainnya tanpa perlu merasa bersalah apalagi turut berdosa

Bagaimana dengan reaksi masyarakat? ; biasanya kalau sudah sampai pada tahap seperti itu org akan berkata: “ah gak ikut2an ah”; sambil menyisir tepian menggali lobang persembunyian…. mau merevolusi mental mas?… ya monggoh.

Sekedar mengingatkan saja  : TIARAP itu diperlukan saat pelor berdesing diatas kepala, tiarap ketika ada manipulator/pencuri/koruptor belagak tidak melihat pasti ada sesuatu dibalik batu

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara