RUU Pilkada

Politik demokratisasi yang diterapkan tanpa Hukum yang bermuara dari bangunan struktur Norma2 yg berlaku ditengah masyarakatnya sendiri, mana bisa berjalan dengan baik. Norma itu adalah kebiasaan2 yang berlaku dimasyarakat dan yang sudah mengikat [disebut tata-krama atau etika lalu dikenal dng sebutan tradisi]

Politik instan tertumbuk batu, kini mereka sibuk berupaya mengembalikan arah ideologi ber-Negara ketempatmya semula, RUU pilkada menjadi pintu masuk. Itu semua terjadi setelah politik instan berhadapan dng konsekuensi2 yg tak pernah dipikirkan sebelumnya a/l biaya tinggi & munculnya kekuasaan2 lokal yg ditengarai sbg wilayah raja2 kecil

Undang2 otonomi daerah sudah terlanjur melahirkan tokoh2 dengan berbagai jenis kualitas kinerja, ada yg baik adapula yg buruk, yang buruk tentu bisa dijadikan kelengkapan alasan untuk meninjau ulang mekanisme Pilkada, namun yang baik cenderung akan dijadikan korban semata

Politik tak mengenal kawan atau lawan, politik adalah kepentingan, pertanyaannya : mengapa baru secara tiba2 tanpa proses yg cukup memadai RUU ini bisa muncul, tak ada sosialisasi tak ada dialog yang melibatkan berbagai komponen stakeholder bangsa yang berkerja atas nama KEBUDAYAAN Indonesia

Mereka [politisi] berkata bhw: “Indonesia sudah dibawa terlalu kekanan” [liberal] .. lhah yang membawa kekanan itu kan mereka2 sendiri, diakuinya pula bahwa itu sebuah eksperimen pasca reformasi , artinya itu juga bermakna sebagai kata ganti dari sebutan kecelakaan, jangan2 sekarang inipun masih bertajuk eksperimen yang sama, yang kelak dimasa yad akan diucapkan berulang lagi

Pernah seorang profesor bid.Hukum terkemuka dinegeri ini merespons uneg2 saya dengan berkata: ‘Demokrasi memang butuh waktu yang panjang bagi pendewasaan’ , membuat saya mau nggak mau terpaksa harus mingkem dan seolah harus terima apa adanya

Bapak bilang: jangan pegang api karena api itu panas , tetapi panas itu sangat berguna; si anak manggut2 penasaran; bapak pergi api malah digenggam; jari terbakar org tua disalahkan karena lalai. Sudah dibilang jangan dipegang; dijawab: diteve orang pegang api nggak apa2 koq *ngeyel nggak ilmiah*

Demikian halnya ketika Bung Karno berkata: Kita ini berhaluan KIRI bukan KANAN, lalu cukup diterjemahkan banting stir kiri yang menabrak orang, banting kekanan masuk jurang.

Saya rakyat biasa, biasa dalam artian bukan pelaku politik praktis, hanya gelintir pasir yg tersebar disepanjang pantai, tapi berkesadaran bahwa pulau ini milik besama, bersama aku juga didalamnya

 

 

 

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara