sok seni yang man

seniman itu juga harus berfungsi di-mana2,  dikelompok masyarakat menengah, atas dan bawah.  Tapi kalau ‘kendaraan’ nya dikebiri bagaimana bisa mereka berfungsi sebagaimana mustinya. Definisi peng-kebirian yang saya maksud:  Hanya diberi ruang bergerak diruang hiburan jangka pendek, guna membantu bekerjanya mesin2 industri yang memang juga dibutuhkan bagi jalannya sebuah peradaban

Ruang hiburan yang hanya menyuguhi obat2 perangsang setingkat viagra agar ereksi berkarya tak terganggu, namun tak dipedulikan kualitas sperma untuk melahirkan gagasan untuk mengantisipasi persoalan2 lain yang nyata dan selalu muncul (baru). Tidak ada keberpihakan dari negara untuk melindungi social-capital warganya, semuanya diserahkan kepada mekanisme pasar yg bekerja

Seniman apa saja [musik, sineas, perupa/visual dll] yang hidupnya bergantung pada kehendak pasar, menjadikan pemodal & pedagang sbg pihak yang harus dipertuan oleh mereka,  hanya hukum ekonomi yang diberlakukan [untung/rugi material]. Membuat masyarakat dunia berkembang ikut2an berpola pikir : “ya memang begitulah aturan mainnya, hidup adalah ‘persaingan pasar’ dsb” … blablabla otaknya semakin tumpul

Berlakulah pula diskriminasi ala toko2 kelontong: “stock yg lama harus minggir disingkirkan untuk ditempati stock baru” > system inventory. Seniman2 hanya untuk melahirkan produk2 seni konsumsi konsumtif yg bersifat konsumerisme dan itu semua ada diwilayah hiburan bagi anak2 usia remaja, persoalan ‘cinta2an’ antara aku, kamu dan dia.

Orang menjadi tak peduli lagi pada pemahaman norma2 yg sesuai dng usianya masing2, segala usia berebut untuk tampil diranah remaja, moral hazard semakin jauh ditinggalkan. Karya seniman adalah mesin2 trend setter yang turut ambil bagian mempengaruhi bekerjanya social engineering, maka tak heran banyak orang tua yang tidak memberikan contoh perilaku panutan bagi yg muda, colak-colek, pelecehan, kawin siri kesana sini dst

Dipihak lain, distribusi bagi produk2 seni spt itu hanya butuh sensasi, semakin sensasional kadar pemberitaan bagi seorang seniman , semakin mereka dianggap memenuhi tuntutan pasar. Maka banyak seniman yang gemar menjadi agen2 perangkat kelamin untuk dipertontonkan, tak dikenal lagi batasan bagi istilah asosial s/d asusila. Semuanya itu terkamuflase & terlindungi oleh istilah2 baru yang manipulatif menyesatkan, spt: “hak privat individu / wilayah personal yg mjadi hak azasi setiap orang … dlsb

SENI adalah keindahan, tak ada keindahan tanpa kejujuran, tak ada kejujuran tanpa kebenaran, tak ada kebenaran jika tak merujuk pada kebenaran-NYA

Dengan sendirinya tak bisa dibenarkan a/n seni orang berperilaku yang tidak mencerminkan kaidah2 seni itu sendiri. Ini bukan soal ranah privat atau ranah publik tapi persoalan moralitas

 

 

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara