fakta berkepanjangan

aku cinta Soekarno bukan berarti selamanya setuju dengan politik ORLA lewat ‘demokrasi terpimpin’ yang diperjuangkan Soekarno mati2an, tapi realitas kondisi masyarakat pada saat itulah yg memaksa, disebut memaksa karena masyarakat belum siap dalam banyak hal untuk mengisi tugas di alam yang sudah merdeka

Aku juga menghormati Soeharto, Soeharto adalah Soeharto yang melaksanakan demokrasi terpimpin ala Soekarno, Soeharto bukan Golkar tapi pengendali mesin2 politik Golkar,  dua hal yg berbeda. Dimataku Soeharto tumbang bukan 100% karena kehendak rakyat, rakyat masih belum juga pandai untuk bisa menilai sebuah keberhasilan. Soeharto tumbang akibat dikoyak macan piaraan yang lepas dari kandangnya sendiri, dikhianati Golkar dan selebihnya kesalahan2 yang manusiawi karena terlalu lama duduk dikursi kekuasaan [dilemasi candu]

Pasca Soeharto tumbang adalah era reformasi, tidak ada satupun presiden yg bisa dinilai kinerjanya dengan menggunakan alat timbangan yg sama seperti Soekarno dan Soeharto, bukan karena ketidak mampuan serta tak punya daya kreatif untuk mengurus negara, tapi nyaris tak ada waktu bagi mereka untuk bisa bekerja dng baik dalam memimpin negara

Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga 5 [lima] tahun didalam Istana negara, mereka hanya disibukkan untuk mengurusi berbagai konflik antar lembaga negara yang tak kunjung berakhir > democrazy. Demokrasi adalah keniscayaan cara2 berpolitik yang tak bisa lagi dihindari saat era keterbukaan tak terbendung, suka atau tak suka, siap tak siap, demokrasi sudah tertanam didalam diri setiap kita semua. Tertanam didalam benak kepala namun belumlah tersaring didalam kalbu untuk bisa menjalaninya yang sesuai paradigma kultur orang indonesia. Sepertinya masih dibutuhkan waktu untuk bisa menerapkan sistim demokrasi yang paling ideal

Tetapi dunia juga terus bergerak dan semakin cepat, dunia tidak mengenal kompromi untuk bisa bersabar menunggu bangsa2 yang ter seret2 dibelakangnya.

Maka diujung 2014 ini terpilih pemerintahan baru yang menjanjikan perubahan2 yang signifikan, yakni upaya memberdayakan sumber daya manusia Indonesia / human resources dng tagline revolusi mental, masihkah akan terganggu/diganggu serta disibukkan lagi dengan konflik serta pertengkaran yg akan membuat pilar2 kelembagaan negara akan tetap mengidap impotensi yg sama

Kita tidak boleh terus2an terbuai dan selalu terkecoh pada peristiwa2 romantis pemilihan umum, panggung2 selebrasi bagi ‘judul-judul’ yg belum ketahuan apa isinya apa agenda yang dijanjikan dan bagaimana cara yg baik untuk menuntut janji2 tersebut. Berikan saja waktu dan kondisi yang memadai bagi pemimpin mendatang untuk bisa bekerja, pemimpin baru harus mempertanggungjwb-kan 5 [lima] tahun yg ada didepan mata. Selebihnya siapapun orang yg mengganggu atau berpotensi menghalangi kinerja aparat negara, juluki saja mereka dengan sebutan apa saja yg kita suka

Waktu sudah semakin sempit, peluit ‘injury time’ sudah ditiup wasit … (^$#(!! “revolusi belum selesai” jangan berpikir dangkal itu berarti bangsa harus ber-darah2 yg berkepanjangan, mengisi kemerdekaan adalah tugas revolusi yg dimaksud belum selesai  #Soekarno. Kemerdekaan direbut, untuk apa direbut kalau hanya untuk rebutan kursi generasi2 berikutnya, tanpa sempat menghasilkan produk2 kerja untuk memenuhi tuntutan kesejahteraan bangsanya sendiri

Semoga Tuhan mengampuni anak cucu kita jika kelak mereka menghujat sejarah generasi2 orang2 tua yg telah merampas hak2 mereka

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara