seperti mata yg kelilipan

“kebiasaan mengikat” yang salah kaprah yang sudah sering saya bicarakan ,
adalah perilaku cuek dalam menjalani paradigma / cara2 hidup yang baru namun ‘asal’ berubah tanpa mengindahkan kaidah norma-norma masyarakat yang masih berlaku. Maka ketika perilaku yang ‘baru’ tersebut sudah sampai pada tahap mencederai ketentuan aturan yang formal , dengan sendirinya dia akan berhadapan dengan Hukum yang juga formal > Perundangan

perilaku salah kaprah tersebut semakin hari semakin dianggap kelaziman , hanya karena semakin banyak orang yang melakukannya hingga disebut mayoritas. Dengan kata lain apapun yang dilakukan secara bersama [selama memenuhi azas mayoritas] maka suara terbanyak adalah ‘suara pemenang’ , itupun juga dianggap sebagai satu upaya pembenaran untuk dengan sah menterjemahkan makna : suara rakyat adalah suara Kebenaran yang juga bermakna kebenaran Tuhan , [asal comot istilah dan meletakkannya disembarang keinginan atau dalam bahasa lain : gotak gatik gatuk

Padahal sebagaimana yang saya dan kita semua pahami : ‘BANYAK’ itu hanya ukuran Jumlah , sementara yang disebut dengan KUALITAS itu tidak otomatis berbanding ‘tegak lurus’ dengan bilangan jumlah. Akibatnya , persoalan2 kecil yang sederhana selalu dibiarkan menumpuk hingga menjadi besar , ketika sudah melewati ambang batas ‘besar’ dia menjadi pelanggaran Hukum yang formal , otomatis urusannya ke Polisi.

Semakin jelas bahwa orang Indonesia tanpa disadari sedang membentuk watak dan perilaku dirinya menjadi seperti makhluk2 bernyawa yang ber-identitas numeric , sebab paradigma hidupnya berkecenderungan tak lagi menggunakan nalar akal sehat lewat pikiran yang waras , dari landasan Norma2 yang berlaku. @Menuju menjadi Negara Undang-Undang , semuanya harus ditulis lewat peraturan undang-undang

saat kaki saya terinjak , orang yang menginjak kaki saya tersebut tak bergeming , setelah saya tegur , dijawabnya: sorry soalnya tidak tertulis dikaki sampeyan ‘dilarang menginjak’ sesuai dengan pasal2 dan ketentuan2 hukum formal

dijalanan , para pengendara sepeda motor bak air bah menguasai ruang , sebab tak ada tanda larangan yang bertuliskan : dilarang mengendari kendaraan dengan cara semaunya sendiri. Akibat ujian stnk yang juga sudah dianggap persoalan kecil sebagai pelengkap layaknya ‘formalitas ritual’

diranah spiritual , begitu mudah orang terpicu untuk saling iri dan dengki antar agama dan etnis , antar suku keturunan , tanpa sebab2 dan alasan. Iri dan dengki memang selalu muncul tanpa sebab serta tidak butuh alasan … karena itu adalah jenis PENYAKIT , sebagaimana dituturkan lewat kitab/firman Tuhan ; tutur seseorang pada saya

Kita menjadi merasa ‘aneh’ ketika ditemui seseorang yang mempersilahkan wanita agar menempati posisi kursi ditempat duduknya , padahal itu adalah norma perilaku yang sebenarnya sudah lazim dan sudah sewajarnya

pada akhirnya … saya juga ter’heran2 sendiri , ketika ada pihak2 yang mengkatagorikan saya adalah orang2 yang idealis …. (?) …. saya tidak pernah merasa idealis dalam pengertian berperilaku yang serba baik dan serba benar , wong saya hanya mencoba patuh pada norma , itu saja

jika ada orang yang mengenal sy dialam nyata , maka mereka akan menemukan perbedaan gaya bahasa saya dalam menyampaikan gagasan serta pikiran. Bukan karena saya lebay dialam maya , namun ini ranah publik yang dijaga oleh norma , lewat kalimat berbeda berbunyi : tidak ada ruang yg bebas nilai , maka  saya tidak bisa cekakak cekikik becanda lewat kata2 ‘jorok’ blak2an sebagaimana lazimnya dialam nyata

namun sayapun mendapat teguran dan kritik yang harus saya terima , bahwa: Kebenaran akan menjadi Tidak Benar ketika disampaikan lewat cara yang salah dan diruang yang salah

dikatakannya seperti : seorang ibu yang hendak memberikan anak balitanya sehelai pisang , maka jangan salahkan anak ketika dia menolak rasa pahit , karena yang digigit adalah daun pisang , ibu lupa mengupas kulitnya

kisah tentang seorang Rasul yang tetap tersenyum saat menerima caci maki dan hinaan … bukan karena Rasul manusia yang sabar atau takut membalas melawan , Rasul mengajarkan Norma yang hanya bisa dipahami orang lewat cara2 menolak segala bentuk watak perilaku kekerasan , tanpa pula dengan aturan/larangan yang harus diucapkan / dituliskan .

Itu semua yang sekarang dijaman ini kita pahami sebagai : keteladanan : keteladanan tidak untuk diucapkan , dimohonkan , di’tunggu2 , dia datang dengan sendirinya saat setiap kita kembali menyadari dan mengenal kembali , apa itu Norma. Norma kita yang norma bangsa indonesia , darisanalah Hukum non tekstual s/d Hukum Formal Tekstual tercipta untuk kemaslahatan hidup orang indonesia , hukum yang berpijak diatas norma-norma yang disepakati dan berlaku bagi masyarakat Indonesia sendiri

Norma orang indonesia membantu musik pop indonesia menemukan nada2 untuk menopang kata2 yang menjadi kalimat dalam syair , dikenal dengan istilah frasa / phrase.

norma orang indonesia seharusnya mampu menjawab dilemasi hukum , saat nenek minah terancam tindak pelanggaran pidana hingga akhirnya di vonis karena dianggap mencuri 3 biji buah kakao , sementara para mafia hukum bertebaran membela para koruptor hingga mendapat keringanan bahkan terbebas dari tuntutan dng menggunakan dalil2 hukum yang sama , yang membuat Hakim menitikkan air mata > hukum yg disorderd

norma politik (?) , norma ekonomi (?) … mari kita renungkan sendiri2 , banyak kambing hitam diluar sana untuk dapat kita persalahkan , modernisasi ? , kebebasan industri , informasi ? , tehnologi modern ? … betulkah itu semua gara2 mereka dan salah mereka ? lalu berarti kita harus menyingkirkan modernisasi dlsb diatas itu ? … lalu haruskah kita kembali ke hutan untuk melakoni kembali hidup sebagai manusia dijaman purbakala

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara