budaya ‘mie’ jilid 2

masih soal budaya instan , perilaku nggak mau capek2 mikir itu sudah dari sejak dulu bukan baru2 ini saja munculnya , saya ambil contoh dibidang musik , musisi indonesia sebelum tehnologi digitalpun cenderung pengen cepat sukses dan terkenal karena pasti bisa cepet kaya , maka segala macam cara ditempuh a/l untuk mengeluarkan biaya promosi habis2an , jika dianggap perlu ‘blocked’ semua acara2 musik ditelevisi [tvri]. apalagi ketika ter-fasilitasi oleh tehnologi digital yang bisa bikin orang ‘mabuk kepayang’

akibat otak musisi yg diperas oleh demand pasar a/n kebutuhan supply bagi industri , maka sejak menjelang periode tahun 2000’an musisi mulai kekeringan ide , gagasan yang melahirkan karya. Sejak itu pula satu persatu mulai menyentuh wilayah nostalgia dengan dalih re-interpretasi atau alasan2 yang memang mudah dicari. Publik/masyarakatpun mem-beo saja daripada nggak ada lagu baru lagu2 lama juga nggak apa2 asalkan ada wajah baru yg muncul. Sejak mulai saat itu pulalah , parameter fisik menjadi lebih urgent / penting bagi persyaratan2 untuk menjadi artis musisi atau penyanyi

Celakanya , tidak semua karya2 dimasa lalu itu produk industri , banyak karya2 yang identik dengan produk kreatif dari komunitas anak2 muda tertentu , karya2 seperti itu tidak bisa di daur ulang dengan menggunakan metode teknokrasi musik , ‘ruh’ dari karya2 musik/lagu seperti ini lahir dari pergaulan musik secara kolektif diantara personil kelompok itu masing2.

Kembali soal budaya instan … banyak musisi yang memaksakan diri untuk menjadi orang2 lain *kalau nggak mau disebut me’ngaku2* sebagai jalan pintas untuk bisa meraih kesuksesan dengan cepat … ‘koq nggak malu ya’ , ah ya ndak lah kan ini kan soal bagaimana setiap orang memahami cara2 mencari uang , ada yang berpikir sebagai pedagang musik , ada yang melibatkan martabat harga dirinya sebagai seniman , itu saja … simpel koq . Ini soal MOTIVASI bukan cara

 tulisan ini menjadi sikap dari pandangan hidup , ketika harus kompromi dng keadaan … mari kompromi dengan cara2 yang baik sebab hidup itu memang tidak sendirian . Disebut Kebenaran Pragmatik
  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara