ekspresi musik butek

 

disiplin mendasar bermusik diatas panggung itu a/l menata level volume stage monitoring dng ideal dikisaran 40% dari kapasitas penuhnya , ini problem primitif pemusik indonesia … pemusik indonesia cenderung untuk main keras2an antar satu dengan lainnya , sering tidak mau tahu tentang kebutuhan komposisi atau aransemen … bahwasanya setiap jenis musik terlebih dulu harus dipahami nuansa yang hendak menampilkan texture besarnya , misalnya jenis art rock maka unsur2 piano dan keyboard umumnya menjadi ‘atap’ yang menjadi rujukan membangun pilar hingga fondasi bagi level volume dari freqwensi yang sudah sesuai pada tempatnya

dalam bahasa tekstual dikenal dengan tanda dinamik : p > pianossimo dll , atau f > forte dll … nyaris sepanjang lagu dimainkan dengan dinamik fff > fortissimo assai yang berarti sekeras2nya … demikian pula yang kerap terjadi ketika seorang pemain orkestra membunyikan alat musiknya … nyaris tak dibacanya tanda-tanda expressions yang selalu tertera menyertai bilangan not yang tertulis , selain hanya bunyi nada / musical scale sesuai yang ada didalam partitur

akibatnya semua komposisi dari aransemen musik yang dimainkan seluruhnya terdengar flat atau rata tanpa gradasi ekspresi yang diharapkan oleh orkestrator , arranger maupun music director … apalagi bila tanpa pemahaman tentang volume yang semakin keras , maka yang terjadi adalah tumpang tindihnya bunyi distorted yang akan terdengar ‘chaos’ alias butek semua

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara