‘bias paham’

bagi saya sebuah konser musik itu lebih layak disebut pasar malam atau semacam exhibition perdagangan dan sejenisnya … apabila artis hanya numpang panggung buat ‘mejeng’ narsis didepan publiknya yang juga sama2 tidak tahu apa2 tentang seni dan bagaimana cara2 seharusnya mengapresiasi seni

orang tidak sadar bahwa industri itu memanfaatkan peluang apa saja yang bisa digunakan untuk mengusung produk2nya … membuat artis tampak seperti ‘badut’ dikelilingi dengan iklan yang justru ‘menenggelamkan’ upaya eksistensi ke-jatidiri-an seorang seniman

meng-apresiasi seni itu ada mekanisme cara2nya … mau seni wayang orang , wayang kulit , film , drama , ataupun lain2nya … semuanya membutuhan variable2 pendukung [sarana penunjang] untuk fokus kepada substansi yang ingin disampaikan … bukan asal hadir ditengah keramaian dan hingar bingar suara yang tidak keruan

seorang seniman … tentu berkepentingan untuk menampilkan karya2nya dihadapan publik … ketika upaya untuk menampilkan karya2nya tersebut dihambat oleh kepentingan industri yang mengusung ‘agenda berbeda’ … maka seyoygyanya seorang seniman mampu bersikap tegas untuk menghormati karya2nya sendiri tersebut … jika terhadap karya sendiri saja tidak mampu menghormati , maka jangan berharap orang lain akan melakukannya … itu mungkin yang disebut dengan seniman melacurkan diri

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara