hukum oh hukum

hukum tajam kebawah tumpul keatas … demikian orang selalu membuat analogi tentang pelaksanaan hukum dinegeri ini … nyaris tidak pernah tersentuh bahwa itu hanya didalam tataran implementasi … faktor utama penyebab terjadinya penyelewengan implementasi adalah karena seringkalinya pelaksanaan hukum yang tidak didukung oleh sistim norma yang berlaku ditengah masyarakatnya sendiri

derajat norma lebih tinggi dari hukum tertulis … kita bisa saja dianggap melakukan pelanggaran terhadap hukum tertulis (positif/formal) , namun adakalanya hukum tersebut menjadi ‘disorder’ , ketika norma2 yang berlaku bisa dipertanggung-jawabkan atau bahkan sebaliknya … kita bisa merasa sudah tidak melanggar hukum (tertulis/formal) … sementara norma2 yang berlaku mengatakan sebaliknya … maka hukum yang seperti itu juga dikatagorikan sebagai disorder

saya meng-analogikan … didalam satu individu manusia , norma itu layaknya ‘hati nurani’ … yang ketika berkelompok dalam satu komunal masyarakat dia bermetamorfosis dengan apa yang dikenal sebutan : tradisi … tradisi adalah: kesepakatan2 yang dicapai oleh satu kelompok masyarakat tertentu , yang sudah berlangsung lama dan teruji oleh waktu

paradigma masyarakat dalam mencermati sistim peradilan dinegeri ini sering menggunakan kalimat2 seperti : “semoga pak hakim berpihak pada keadilan yang hakiki” … keadilan dengan sendiri akan mewakili kepentingan2 yang hakiki andaikata sistim norma tidak tercederai … mengapa tidak menggunakan bahasa kalimat : “semoga pak hakim memperhatikan sistim norma yang berlaku di masyarakatnya sendiri”

ya..hanya istilah … namun justru istilah2 yang sering digunakan saat ini yang sering mengaburkan makna sebenarnya , sebab sesuatu yang dianggap hakiki di bumi nusantara tidak otomatis hakiki yang sama di benua yang berbeda

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara