ilmu itu pengetahuan untuk tahu

semenjak saya menentukan sikap untuk tidak kompromi terhadp berbagai hal yang saya yakini maknanya harus diluruskan agar dipahami serupa/sama oleh semua orang … maka sejak saat itu pulalah saya harus menghadapi berbagai ‘resistensi’ dari berbagai kalangan … mungkin yang terasa ‘berat’ adalah pandangan2 ‘tertentu’ dari teman2 saya sendiri yang (terbiasa) mudah meletakkan label2 stigma tanpa bersedia untuk melibatkan dirinya sendiri dalam dialog secara transparan dan terbuka … namun betapapun juga niat atau keinginan baik yang selalu kita upayakan , tak bisa selalu dilewati dengan cara2 yang ideal … bahkan seringkali niat baik membawa dampak implikasi yang sebaliknya … untuk itulah saya berkesadaran untuk minta maaf andaikan saya menyakiti hati saudara

bahwa ternyata … dampak dari perbedaan memahami makna dari satu istilah sebutan kata hingga menjadi barisan paragraf kalimat … akibat2nya tidak sesederhana yang dipikirkan orang , bahasa indonesia sebagai bahasa nasional menghadapi berbagai tantangan2 pemahaman baru yang seringkali gagal … sebab bahasa nasional lebih sering ‘ditinggalkan’ , orang lebih suka menggunakan bahasa asing untuk mendiskripsikan hal2 baru , orang lebih sering menggunakan bahasa asing akibat dari orang2 masa kini yang hanya berhadapan dengan produk2 import … setiap produk mengusung penjelasan tentang daya guna dan fungsi berdasarkan proses dari paradigmanya kerjanya masing2

akibatnya , bahasa nasional indonesia hanya masih digunakan sebatas orang berbicara tentang segala sesuatu yang tangible … terukur dan bisa disentuh secara fisik … orang mengalami kesulitan ketika membahasakan berbagai hal yang bersifat intangible ,

saya bukan pakar sosiolog maupun pakar antropolog … semata karena naluri intuitif sebagai seniman yang dengan sendirinya bersentuhan denga hal2 seperti diatas … mohon dimaafkan bila penggunaan2 istilah saya tidak metodologis & tertulis sesuai dengan disiplin akademis , seniman itu harus berdialog dengan semua stakeholders kehidupan … dari disiplin lisan hingga tekstual , artinya seniman seharusnya mampu terlibat dialektika dengan murid sekolah dasar hingga profesor …dengan kaum marginal proletar hingga elitis yang berdomisili di menara gading … dari supir taksi hingga politisi dan seterusnya … hingga dengan alam semesta disekitarnya , seniman harus berkemampuan membaca persoalan kebudayaan … sebab hanya seniman yang punya ‘privilage’ untuk tidak dihadang oleh sekat2 birokrasi formal maupun non formal

pendidikan formal mengajarkan teori formal yang baku berdasarkan fakta2 empiris yang tercatat dari semenjak peradaban manusia terbentuk … pendidikan non formal berhadapan dengan realitas pragmatik yang bersentuhan dng antitesa dan turunannya … keduanya harus saling mengisi / bekerjasama untuk menemukan fakta obyektif hari ini , guna melanjutkannya ke proses2 analisis berikutnya

pendidikan non formal tanpa kelengkapan disiplin formal yang mendampinginya .. menjadi liar dan eksentrik , pendidikan formal tanpa dukungan fakta obyektif menjadi ‘kutu buku’

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara