konser sabda alam

promo

Bintaro sektor Vll Titan Building

sesuai rencana saya agar kerja2 kreatif dipanggung hiburan musik bisa berjalan secara continue , sehari sebelum konser biasanya saya melakukan semacam dialog dengan publik yang bakal menghadiri konser di esok harinya … tujuannya untuk memberikan informasi yang lebih komprehensif perihal materi atau content musik yang akan saya jadikan repertoire … terutama bagi generasi yang hanya mendengar karya2 saya melalui generasi orang2 tuanya …

namun untuk kali ini hal tersebut tidak bisa saya lakukan , selain mengingat jakarta adalah kota macet juga kendala tempat dan waktu yang membatasi … namun ada keinginan yang muncul secara spontan , agar selesai konser mudah2an saya bisa membuka ruang kecil disisi luar venue untuk melakukan dialog tersebut … semacam ‘public opinion’ tentang segala apa-apa yang sudah mereka dengar dan lihat sendiri

ini adalah rangkaian ke 3 kalinya setelah di rolling stones cafe dan kota malang , dalam upaya saya untuk mensosialisasikan kembali produk2 musik pop yang pernah saya geluti semenjak tahun 70’an … tujuan dari ini semua adalah untuk mengingatkan kembali kepada publik masyarakat pendengar musik pop , bahwa musik indonesia pernah melahirkan musisi2 dan penyanyi2 besar dijamannya … yang semustinya ditindak lanjuti dengan generasi musisi dan penyanyi2 besar berikutnya … majulah musik pop indonesia untuk kemaslahatan dan kesejahteraan bangsa indonesia sendiri

segala sesuatunya ‘harus dimulai’ .. sesuai segmentasinya masing2 … nggak perlu kita mencari kekurangan orang lain kan mas … yang penting harus mulai ada kesadaran bahwa seniman itu produser atau produsen , dia harus punya tanggung jawab kepada publiknya yang sebagai konsumen … tidak bisa lagi berlindung dibalik ‘pers/media’ … kelak akan ada saatnya sendiri kalau musik pop indonesia sudah seperti jepang atau korea … bagi seniman untuk lebih minta dihargai/dihormati yang semestinya

yang harus dipangkas adalah ‘mindset’ yang dibentuk oleh industri … bahwa artis/seniman itu manusia seperti setengah dewa , yang memang untuk di elu2kan dan di puja2 …. dari kacamata budaya itu > penetrasi pembodohan , artis atau seniman adalah pekerja profesi seni , seni yang yang memang dibutuhkan masyarakat selain makan nasi dlsb …. harus ada mekanisme kontrol sosial antara artis/seniman dengan konsumennya sendiri

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara