teori itu rambu2 dari masa lalu

jangan terjebak dilingkaran teori saat otak diajak menjelajah ke alam yang masih menjadi misteri … bebaskan imaginasi yang dipandu oleh hati nurani saat mata dan telinga kita bekerja mencari2 solusi … ketika temuan hendak mengkristal jangan pula terpesona dengan obyek … tinggalkan dia untuk mengenali subyeknya … subyek akan bertemu dengan teori2 lama sebagai tata krama yang wajib dipatuhi … tata krama itulah yang menjadi substansi teori yang diperlukan , selama manusia sadar bahwa hidupnya ini tidaklah sendirian , ada kewajiban harus berkomunikasi guna berbagi

teori movif : pola irama& melodi … motif terdiri dari birama yang dikembangakan menjadi frase untuk memberi arah pada melodi bagi terciptanya komposisi … seniman jangan berpikir ‘teori motif’ saat hendak berekspresi … seniman musik yang menciptakan karya berdasarkan motif … adalah ‘tukang bangunan’

saat sy duduk didepan piano … saya menghindari tempo dan progresi chord serta sistim modulasi maupun transposing2 yang paradigmatik normatif … kondisi2 tersebut pada awal mulanya selalu akan menciptakan ekspresi2 musikal yang cenderung ‘kontemporer’ tanpa bentuk atau abstrak

alam kognisi sosio-antropologis yang terbekali dengan berbagai persoalan kehidupan didunia nyata … akan merespon dan me-non-abstraksi kan hal2 diatas lalu menuntun naluri untuk terpola dengan sendirinya membentuk jalinan nada [progresi not]

setelah nada2 diatas menjadi ‘bentuk’ yang ter-visualisasi dibenak pikiran , barulah saya menentukan akan diusung untuk kepentingan yang manakah melodi *berikut gagasan2 thema syairnya akan dirumuskan , ada 2 [dua] pilihan … sumbangsih kita untuk turut mengisi demand pasar *industri … ataukah melanjutkan perjalanan ekspresi seni itu sendiri

mengabdi pada industri ekonomi ada ketentuan2nya , ada rumusan industrinya , ada parameter2 doktrin2nya … itu semua sebuah konsekuensi yang harus dipatuhi ketika hendak bekerjasama dengan industri

saya bukan musisi yang dilahirkan dan dibesarkan oleh industri , oleh karenanya saya tidak patuh pada ketentuan2 industri *dengan sendirinya .. saya juga bukan main musik karena metode2 teori , oleh karena itu pula para ‘penyembah teori’ tidak akan pernah bisa ‘ketemu’ dengan saya bila dipaksakan … saya adalah saya sebagaimana saya yang tidak sama dengan mereka … saya cukup dng membuktikan bahwa saya tetap tegak dikerumunan musik yang ‘cenderung sama dan seragam’

pesan saya pada anda ‘adik2 generasi musik pop indonesia’ pada umumnya … jadilah ‘saya saya’ berikutnya untuk anda sendiri …. globalisasi hanya bisa ditaklukkan dengan perbedaan yang memberikan ruang bagi terciptanya jawaban2 baru yg mengisi kebutuhan masa depan …. globalisasi ‘emoh’ diajak surut mundur kebelakang …. apalagi sebatas kw kw’an … letakkan teori sebatas panduan dimasa lalu … kita dituntut untuk melahirkan produk budaya dari mengolah teori2 yang terbarukan

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara