konser musikku

Tulisan ini saya buat menjelang konser musik LCLR+ di Bandung 23 Januari 2016 , menjadi catatan penting saya untuk dijadikan bahan introspeksi dimasa2 mendatang serta berharap bisa pula dipetik manfaatnya bagi teman2 pemusik dilingkungan saya sendiri

Perjuangan musik [pop] semenjak tahun 2000’an adalah melepaskan ketergantungan nasib industri panggung musik hiburan dari subsidi sponsorship , dimana wilayah otoritas para pemodal sudah jauh melewati batas2 kewajaran dalam mempengaruhi perkembangan iklim dunia musik itu sendiri. Hilangnya keberagaman produk karena tidak adanya bargaining position diantara pemodal dengan produsen2nya membuat kondisi2 transaksional keduanya bukan hal yang mudah seperti membalikkan kedua telapak tangan , agar seniman2 musik jenis lainnya bisa menyelenggarakan kegiatan2 konser musik seperti termaksud diatas

Dunia musik pop adalah dunia kegiatan berekspresi yang berada diranah kegiatan Ekonomi , oleh karenanya harus dipahami sebagai kegiatan dari sebuah profesi yang berperilaku profesional . Profesi pemusik wajib berkesadaran untuk mengelola pasar ekonomi nya sendiri. Melahirkan produk2 berkualitas yang dibutuhkan oleh masyarakat konsumennya dengan sendirinya akan menciptakan ‘posisi tawar’ yang setara dengan kepentingan pemodal. Pasar itu tidak datang dengan sendirinya , pasar itu dibentuk oleh sistim rekayasa. Labelisasi2 yang menyesatkan pikiran harus dibenahi dan dikendalikan

Salah satu cara berkesadaran membentuk dan merawat pasar ekonomi musik adalah dengan menciptakan dialektika yang ‘riil’ antara pemusik dengan masyarakatnya sendiri melalui produk2 musikalnya
Tidak ada manfaatnya pemusik bernilai jual tinggi *karena di subsidi oleh sponsorship apabila pada kenyataannya dia asing dihadapan masyarakat dilingkungannya sendiri. Seorang artis yang profesional mengenal dengan baik kebutuhan konsumen2nya lalu menentukan nilai yang equivalent dengan apa yang memang pantas diperolehnya

Saya wajib merawat apa yang mulai bisa saya kerjakan lagi hingga hari ini *berkegiatan konser musik/lagu saya sendiri. Upah atau pendapatan tinggi bukanlah tujuan dari konser2 musik sepanjang hidup saya selama ini , namun harapan agar saya bisa mewakili kebutuhan konsumsi musik bagi masyarakat saya sendiri adalah jauh lebih penting dan diatas segalanya. Konser berbiaya mahal yang tak terjangkau daya beli masyarakat adalah ancaman yang menjadi tantangan untuk harus kita taklukkan bersama2.

Artis musik yang hidupnya bisa sejahtera atau kaya sendirian itu sama saja dengan bunuh diri secara perlahan2 , kesejahteraan materi itu akibat dari pengabdian seseorang kepada profesi apapun namanya … dan yang memberikan apresiasi bukanlah sekelompok kecil pemodal2 tetapi masyarakat luas yang sudah cerdas secara keseluruhan , semoga bermanfaat
jsop – 20 Januari 2016

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara