bagaimana caranya agar hukum positif korelatif dng norma2 sosialnya


Yang diperlukan adalah kesadaran yang sama , mengapa harus bersatu … mengapa kita harus senasib sepenanggungan

Tidak bisa segala2nya diserahkan pada : ‘terserah’ pada kehendak Tuhan YME
Ribuan tahun peradaban manusia sudah sejak lama mengenal satu dengan lainnya untuk saling menyadari bahwa mereka memang diciptakan dalam keinginanan dari kehendak yang berbeda2

Jika kita belum bertemu kelompok yang benar2 baik, mungkin kita sendiri yang tidak cukup baik untuk golongan / kelompok kita sendiri … wong nyatanya islam sekarang ini juga berbenturan dng sesama umat muslimnya sendiri

SARA? ….

Mungkin mmg hanya itu satu2 nya cara & jalan keluar… justru harus dimulai dari kesadaran berbeda lewat issue ‘primordialism tradisional menuju primordials yg modern untuk beranjak menuju primordialisme nasional kebangsaan’ … membangkitan kembali ‘eksistensialisme’ yang selama ini malah cenderung dipersepsikan negatif melalui sebutan ‘suku’isme’ lalu menjadi bagian dari SARA , Suku Ras Agama dan antar golongan
 
‘arogansi sektoral’ yang selama ini dianggap ancaman dari sub_bangsa2 hingga pada tataan perbedaan2 yg nyata bukan untuk ditutup2i disembunyikan , justru seharusnya dibuka dibebaskan untuk dipacu dalam ajang kompetisi kompetensi ego sektoral yg kompetitif …. memfasilitasi kemampuan2 eksistensialisme lewat kerja2 produktivitas ekonomi yg terbuka dan maju
 
sudah lama saya membahas … kelompok2 minoritas keturunan cina sekalipun seharusnya tidak lagi perlu merasa sebagai warga kelas 2 , jika kelompok2 minoritas tsb tersebut terbangkitkan kesadarannya melalui mekanisme tata cara adat istiadatnya sendiri …. akan kewajiban untuk mendayagunakan kompetensi kerja2 ekonomisnya bagi kepentingan berkebangsaan (menghapus disparitas kesenjangan kesejahteraan ekonomi ke-tataran primordialisme kebangsaan 
 
suku2 tertentu boleh2 saja merasa lebih baik dari suku2 yg lainnya bila ternyata mmg masih perlu proses2 pembelajaran  beproduksi bahkan ber-etika & tatakrama (misalnya) …. karena memang ada alasan2 tertentu yg selama ini  membuktikan berlakunya hukum alam atas dominasi jawa’isme …. pada intinya stratafikasi sosial itu sebuah keniscayaan  yang tak bisa dihindari … tapi bukankah perbedaan itu menjadi kekuatan jika dikelola
Persoalannya sekarang memang … para budayawan yg bersih dan jujur mengabdi pada norma2 yg berlaku diwilayahnya sendiri sudah semakin langka , sedangkan ulama2nya sekarang pada merengek2 minta dibela … karena banyak yg sudah tidak lagi bisa dipercaya (akibat dari *mereka mengkhianati ajaran agamanya sendiri)
INi persoalan budaya … dan mesin2 kebudayaan tersebut diisi oleh kelompok masyarakat golongan seniman , budayawan serta para Ulama / agamawan  … jadi ya hanya mekanisme kerja2 kebudayaan yang bisa mengatasinya , kerja* kebudayaan itu peran dan fungsinya berada di ranah/ kebangsaan berpayung diranah tradisi atau norma2 sosial …. bukan diwilayah norma positif yg ditetapkan diranah ketatanegaraan … oleh karenyanya ya nggak bisa jika partai politik a/n negara atau politisi yang melakukan kerja2 kebudayaan termaksud ”
Sebagai seniman sudah lama saya resist pada kekuasaan …. dunia kesenian harus dijaga dari muslihat politisi2 yang menjadikan seni sebatas alas kaki karpet untuk menuju panggung2 kekuasaan .Persoalannya sekarang memang … para budayawan yg bersih dan jujur mengabdi pada norma2 yg berlaku diwilayahnya masyarakatnya sendiri sudah semakin langka , sedangkan ulama2nya nyaris semuanya merengek2 minta dibela (hingga muncul gerakan bela ulama) …
ya karena memang banyak yg sudah tidak bisa lagi dipercaya (akibat dari perilaku para ulama2 seleb itu sendiri *mengkhianati ajaran agamanya sendiri)
Profesi seniman itu harus bekerja untuk menghasilkan karya …. dan produk2 karya seniman haruslah produk2 seni apapun yang mengusung norma2 yang baik , norma2 yg menjadi bagian dari norma2 sosial yang berlaku ditengah masyarakatnya sendiri … untuk diberdayakan lewat disiplin keilmuan dari berbagai bidang kompetensi lainnya , yang kemudian menjadi pondasi bagi tegaknya norma2 positif yg merupakan kebutuhan sistim bernegara untuk melahirkan ‘hukum tekstual’ / kebenaran perfomatik
  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara