Bakul simbol

Generasi peradaban “jendela” , kebutuhan untuk memenuhi keinginan bagi tercapainya kepuasan2 yang baru … membuat manusia semakin terasa kekurangan waktu . Semua itu disiasati lewat berbagai temuan teknologi yang mendukung proses terselenggaranya percepatan2 yang diinginkan .
Semua kehendak , maksud dan tujuan di presentasi-kan lewat simbol2 untuk meringkaskan panjangnya kalimat sebuah keterangan . Simbol-simbol itu kini bertebaran dimana-mana , seribu simbol dengan berjuta-juta ‘maksud dan keterangan’ didalamnya yang tak bisa dibaca apalagi untuk di analisa hanya lewat tatapan mata .
Bagi masyarakat pencipta (kreator) simbol tersebut tentulah sudah jelas , mereka lebih paham akan maksud mereka dalam menciptakan simbol untuk mewakili kalimat2 atau keterangan2 yang termuat didalamnya . Sebab hal tersebut adalah jawaban dari cara mereka untuk menyelesaikan akumulasi persoalan peradaban mereka, didalam keseharian hidup mereka sendiri.
Namun tidaklah demikian bagi masyarakat yang tergolong terserang sindrome ikut2an , ketidak pahaman mereka pada simbol2 tertentu membuat masyarakat tersebut gemar bermain dalam wilayah coba-coba.
Ada 2 (dua) katagori wilayah coba-coba atau disebut juga dengan “trial and error learning” , yang satu berproses mengejar kesempurnaan output yang diharapkan … satunya lagi layaknya ‘pecundang’ (pecurang) yang tak mau kehilangan muka .
Pecundang selamanya tak akan bisa duduk disinggasana para pemenang , karena mereka hanya ber-main2 ditataran simbol belaka . Kalaupun mereka mampu ‘menang’ karena culas menelikung realita … maka , dalam sekejap mereka akan jatuh tersungkur seperti sediakala .
Sebab keliru dalam menterjemahkan tanda-tanda
salam,
jsop

















Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.