ber-bangsa

ancaman kehidupan dalam berbangsa itu adalah : bergerombolnya orang2 dari tradisi sumatra sampai papua – tionghoa india bahkan arabia … yang semua telah terputus dari akar kultural budayanya masing2 , falsafah/ajaran ttg nilai2 Kebaikan & Kebenaran yg membuat kita bisa bersatu dan bergaul secara damai di Indonesia , itu adanya didalam kantung2 Nurani yg lahir dari kearifan2 lokal dari setiap tradisi & budaya

setiap orang indonesia harus mempunyai bekal pedoman hidup yg diusung dari masing2 tradisi kulturalnya. Bila tidak , maka dia adalah manusia yang tak berbudaya. Sebagai keturunan jawa saya harus ber-akar pada tradisi jawa yg nusantara , sebagai keturunan tionghoa mereka harus ber-akar pada tradisi cina yang nusantara , demikian seterusnya . Indonesia hanyalah sebuah nama bagi ‘dermaga pelabuhan’ yang diakui dunia menjadi milik kita , tempat kita bersama untuk bertempat tinggal dan berlabuh.

Sudah sering saya membahas bahwa semua permasalahan yg ditimbulkan oleh cara2 dalam menata sistem ber-Bangsa , hanya bisa diselesaikan melalui mekanisme Tradisi atau pendekatan Kultural yg disebut Ber-Kebudayaan . Bukan lewat AGAMA . Cara2 dalam menata sistem Pemerintahan Negara sekalipun harus tunduk dibawah kendali kesepakatan dalam ber-Kebudayaan bersama. Itu yang dimaknai oleh mereka para pendiri Negara ini dengan sebutan Pancasila

Namun , sepertinya negara ini telah dikelola orang2 yang berpendidikan dengan ‘fatsun’ asing , yang tak ber-akar pada keserasian2 yang diwarisi oleh tradisinya sendiri .

jsop

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.