Birokrasi ‘kopral’

Jilid #1
Dongeng dalam artikel ini menghadirkan tokoh-tokoh pelaku yang kemudian saya sebut sebagai:
1.komposer / pencipta lagu
2.kopral jono
3.kopral pailul
4.kopral2 sontoloyo, lainnya
Suatu hari, awal mula saya menjawab tantangan meng-aransemen ulang lagu-lagu dalam bentuk instrumentalia, saya mengerjakan satu komposisi percontohan atau ‘demo’ sebagai rujukan. Tidak ada revisi yang signifikan dari hasil dialog perbincangan saya dengan kopral jono (yang mewakili sang komposer), sebab pada hakekatnya kopral jono memang tidak tau banyak mengenai masalah artistik musik dan sebagainya. Kecuali ‘penegasan’ notasi lagu aslinya yang diminta untuk lebih ditampilkan secara lebih ‘verbal’.
Perlu dicatat bahwa proses dialog diatas tersebut, adalah sesuatu yang amat tidak lazim saya temui disepanjang karier profesi saya sebagai musisi. Bagaimana bisa, proses kreatif antara arranger dan komposer diwakilkan kepada pihak ketiga.., namun itulah fakta yang harus saya hadapi. Satu kenyataan yang saya anggap sebagai sebuah ‘tantangan’ lagi dalam berkreativitas berkesenian .
Alhamdullilah akhirnya satu lagu tersebut sampai juga kepada sang komposer untuk disimak dan diperdengarkan. Namun sebelumnya saya memberikan catatan kepada kopral jono, apabila arransemen saya tersebut disetujui maka saya hanya akan menyelesaikannya secara tuntas apabila keseluruhan lagu-lagu sang komposer (10 lagu) diserahkan sepenuhnya ketangan saya. Dengan kata lain saya menolak bentuk-bentuk kompilasi atau kerja serabutan dari berbagai arranger untuk mengerjakan satu album musik. Layaknya paradigma yang sudah diciptakan oleh kelompok industri musik Indonesia, bahwa satu album biasanya terdiri dari 10 lagu dan 10 arranger musik di setiap lagunya.
Akhirnya tanpa menemui hambatan yang berarti, datanglah berita jawaban bahwa komposer menyetujui/menyepakati apa-apa yang disampaikan oleh kopral jono sesuai harapan saya sebelumnya. Dan sekaligus saat itu pulalah rupanya terjadi pelimpahan tugas & wewenang, bahwa kopral jono diberikan kepercayaan penuh untuk mewakili kepentingan sang komposer yang sulit untuk bisa ditemui setiap saat. Disitu pulalah awal mula dari titik persoalan-persoalan yang acapkali menjengkelkan hati, sering muncul dan cenderung bisa menghambat kerja kreatif saya.
Bagaimana bisa tidak saya anggap menjengkelkan, bila persoalan “rasa” dan “ekspresi” seorang pencipta lagu diwakilkan kepada pihak telinga orang lain yang berbeda. Tidak pernah terbayang dalam pikiran saya bahwa saya harus melakukan “dialog seni” melalui citarasa wakil pencipta, hehehe.. Kayak orang kantoran aja yang berurusan soal “laporan hasil kerja” ….., tetapi itulah fakta yang harus saya sikapi dengan kepala dingin dan hati yang bersih agar saya tidak terjebak dalam lautan emosi yang bisa mengaduk-aduk isi kepala saya.
Secara singkat saja, proses berikutnya adalah dialog yang benar-benar menjengkelkan hati, ketika acapkali saya dibenturkan dengan kalimat-kalimat pendapat yang ‘absurd’ seperti : a. koq lagunya jadi aneh yaaa.. b. koq saya tidak bisa menyanyikannya seperti di arransemen sebelumnya… c. koq lagunya jadi susah dicerna, dan koq..koq..koq lainnya.
Jangan intervensi wilayah kerja saya..! kalimat itulah yang keluar dari mulut saya untuk menghentikan berkembangnya suasana ‘tidak nyaman’, yang sangat berpengaruh bagi keberlanjutan proses rekaman saya. Tentu saja hal tersebut tidak langsung dapat menyelesaikan banyak hal dan bisa mengatasi berbagai masalah dengan segera….masih berkepanjangan lagi. Namun demikian juga sebaliknya yang terjadi dengan saya…, saya tetap teguh dan ‘keukeuh’ bahkan cenderung ngeyel/ngotot juga..hehehe.
Hingga akhirnya keluarlah kalimat ‘pamungkas’ dari saya : serahkan dan perdengarkan seluruh hasil kerja saya kepada sang komposer..! , bila yang bersangkutan merasa kurang berkenan apalagi berkeberatan maka sayapun akan merasa wajib mendengarkan opininya dan “layak” melakukan kompromi-kompromi yang diperlukan sebagaimana lazimnya proses kerja kreatif antara arranger dan komposer. Tetapi tidak dari para wakil-wakil yang notabene hanya bicara ditataran selera, serta tidak mengerti sama sekali pada soal estetika berkesenian yang sedang saya bangun.
Singkat kata…., ketika sang komposer berkenan untuk menemui secara langsung dan mengapresiasi dengan baik seluruh kerja kreatif saya…, maka nampak wajah sang kopral jono *yang herannya* dimata saya nampak ‘sumringah’…dan ‘bahagia’…, seolah tidak pernah merasa ada apa-apa yang terjadi sebelumnya antara saya dengannya. Kalimat berbagai dialog sebelumnya seperti “lagunya jadi aneh” , “lagunya sulit dinyanyikan”…dan lain sebagainya…sepertinya tidak pernah ada…!
Inilah catatan pribadi saya, yang tidak keberatan untuk saya bagikan bagi semua orang untuk saya gunakan sebagai upaya transparansi dalam menanggapi dan menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan “stupid dan konyol”….seolah saya “bisa dibeli” atau bahkan “menggadaikan” integritas .
Dongeng jilid #2 akan berceritera tentang kopral pailul
salam ,
jsop

















Pantesan di GB si bung ini protes hingga hengkang lha wong sama birokrasi kopral aja ndak bergeming je’!!! salut
hehe..biza aza mas tri ini..
untuk urusan politik bisa dikompromikan mas tp urusan musik idealis harus dijunjung setinggi monas ya mas…merdeka
setuju mas jefri.., urusan politik bisa dikompromikan. Artinya sejauh konsep dan visi politik demi kebaikan masyarakat bersama dan menghormati azas independensi wilayah masing2, maka mari kita berjabat dengan erat, demi Indonesia yang tercinta .
Urusan musik…, ya..kalau nggak lebih tau dari saya..ya mbok jangan sok tau gitu lho…hihihi..
bravo! begitulah harusnya anak bangsa bersikap
terkadang org kaya kopral jono banyak sok teu mas,cuma pengin nyenengin bosnya tp rakyat kecil kayak kite ini mas yg jd korbannya,padahal kopral jono sendiri ngga tau masalahnya dan bgmn nyelesaikannya yang A..B..S..aja (tp ABS yang lagi ngetrend sekarang..he3x.
–> hehehe.. ABS yang ini maknanya lain ya..bukan ‘asal bapak senang’ kan?
@trilogi : hati2 sekarang ini istilah anak bangsa mudah terpeleset dng ditambah akhiran ‘t’ …hehee
Itulah mas, Pangkat boleh kopral tapi rejeki nglebihi jendral lhoh
…..
lalu rejeki diatas kopral apa dong ya..? prokem kali ya