Empati

sign

Konon pendidikan yang hanya menekankan pada peningkatan kemampuan matematis semata telah melahirkan masyarakat intelektual global yang mahir berbahasa asing dan memahami berbagai disiplin & teori namun  berjurang jarak dari realitas persoalan yang dihadapi bangsanya sendiri .

Salah satu akibat yang ditimbulkannya adalah tersingkirnya rasa empati dan tidak juga merdekanya cara berpikir mereka dari penjajahan pada dirinya sendiri.

Bagi saya gambar diatas bermakna sebuah “AWAL” yang bagaikan pisau bermata dua :
“Sebuah kebangkitan atau awal kehancuran”

Anda bisa meletakkan kalimat apa saja dalam konteks empati yang sedang anda hadapi , tulisan singkat anda pasti berguna untuk mengasah empati dalam diri anda sendiri . Sekecil apapun juga dampaknya , dia sangat berharga .

  

24 Responses to “ Empati ”

  1. Kota-kota ber-”dandan”..

    **
    Pohon2 tua yang “setia” dibunuh satu per satu..
    Taman2 kota menjamur dan makan tempat..
    Kemegahan diletakkan pada “penderitaan-mereka-yang-makin-tergusur-&-tidak-kebagian-lahan untuk-sekedar-bertahan-hidup”..
    “Hak rakyat kecil” dialihkan demi penghargaan & pengakuan “kecantikan”
    **

    Kota-kota mau menutupi apa?

    *ga cengangas-cengenges kan yang ini, Mas? Tapi mbuh ini udah pas di sini apa ndak. Kalo ndak.. di-delete ajah lah ya..*

    ~Luar biasa .. itu kalimat yang baru saya baca semenjak mengenal si mata angin .
    Kepekaan sosial tersebut baru keluar atau selama ini disembunyikan ?
    Kalau disembunyikan malu sama siapa sih?

    Salut!

  2. Kompas 5 July 2007 halaman 15 Riset & Teknologi.
    Presiden SBY akui Indonesia tertinggal jauh .

    pak Presiden , kalau dalam konteks empati kita juga sudah “kehilangan jejak teramat jauh” lho.
    Sekarang ini pilihan jangka pendeknya mau bikin kita tenang aman dan merasa damai , padahal jangka panjangnya tambah bikin kita tegang . Atau bapak mau mengajak kita berani menantang masa depan yang tampaknya saja pahit

    pak Presiden ,

    Ini yang ngomong seniman jujur bukan “mbahlul”

  3. bukan baru keluar..
    *aku tuh suka mengamati kok.. diam2 juga..*

    malu? yah sedikit ^-^ malu sama Mas Yockie & yang lain2 *yang lebih keren2 & berat2 opini-nya*

  4. Kelihatannya begitu, padahal belum tentu begitu.

  5. Rasanya ada beberapa jenis kesalehan :
    1. Kesalehan Ritual
    (mesjid terus dibangun,kuota haji minta tambah & waiting list ber-deret2, zakat dibayar,zikir rame2 digelar, dll). Wow…. kalo di ponten dapat “A”.

    2. Kesalehan Sosial
    Wah…ini susah. Mari kita nyari cermin dulu u/ berkaca.

    3. Kesalehan lingkungan
    Wah..ini juga susah (bukan tidak bisa lho..)

    Iya mas Indrayana , kalimat-kalimat seperti kesalehan, keikhlasan , ketulusan sudah pergi menyeberang lautan . Bahkan si Saleh pak Kumis di jalan kendal juga ikut bangkrut je’ :)

  6. Lho kan sama-sama “Taman” mas? Apa salahnya? hi hi hi. Mana yang sekarang sudah “Remaja”, “Ria(ng)” pula. Jadi mestinya lebih baik. :D
    [Jum'atan dulu aahhh... sekalian mengingat Ki Hajar Dewantara.]

    ~taman puring mas?

  7. Ada apa dengan Ki Hajar Dewantara, mas? :D

  8. Mengingatkan saja , bahwa tgl. 4 kemaren ada sarasehan “Gerakan Kebangsaan” 85 tahun Taman Siswa , namun gerakan tersebut sekarang tenggelam dilibas gerakan Taman Ria Remaja .

  9. Liberalisasi pendidikan atau privatisasi pendidikan , apapun namanya .

    Sekolah elite yang semakin menyingkirkan hak warga-negara yang tidak mampu semakin bertambah subur .

    Pemerintah semakin jelas mencari uang dengan cara apapun yang bisa didapat dan dilakukan .

    Uang itu juga untuk dikembalikan demi kesejahteraan rakyat , demikian kira-kira semangatnya .

    Sedangkan yang jelas tampak semakin hari semakin banyak orang bodoh dan miskin bermunculan .

    Yang mau disejahterakan itu siapa sih .

  10. Menangis airmata dan disandarkannya kening kepala , ditopangkannya kedua telapak tangan pada saksi yang baru saja melihat apa yang dijalaninya .
    Tubuhnya terkulai bersandar pada tembok anyaman bambu yang memisah kamar .

    Tak hentinya menyebut nama berharap ada yang memahami keadaannya .

    Ingin bekerja baik dan halal tak ada tempat tersedia, semua ruang peluang dan kesempatan penuh persyaratan yang tak dimilikinya , bukan hanya ilmu semata tapi ada lagi yang terpenting , ‘uang muka’

    Bayi menangis menuntut agar dipenuhi hak hidupnya , anak berteriak histeris karena dipermalukan ‘uang sekolah’ didepan temannya.

    Sementara bapak bernasib tak jauh beda , teronggok bagaikan ranting yang tercabik dari batang pohonnya , konon yang ada didalam sakunya hanya coretan adress daftar nama yang tak bisa berbuat sedikitpun untuk membantu kesulitannya .
    Masih didalam sakunya , tak sekeping benggolpun yang bisa dimanfaatkan untuk menyambung kisah hari ini bersama keluarga.

    Kini mereka hanya bersandar pada kehidupan yang konon berkeadilan.

    Berkeadilan karena konon ada hak-hak yang berhak dimiliki sebagai manusia .

    Ya mereka manusia ,

    Dan mereka juga masih merasa bukanlah golongan hewan liar ,
    namun mengapa mereka diperlakukan layaknya seperti kelompok hewan liar.

    Pertanyaannya masih sama ,
    bertubi-tubi yang diucapkannya setiap hari kepada siapa saja
    yang dianggapnya bertelinga dan bisa mendengar ,
    yang punya mata dan bisa melihat , punya mulut dan yang mampu berucap.

    Tapi .. belum juga ada suara yang balik menyapa hak-haknya .

    Anda boleh membayangkan apa saja , saat dia menangis meneteskan airmata ,
    dia bisa saja mengambil sesuatu yang bukan miliknya ,
    dia bisa saja berdusta pada anak-anak atau mengumbar janji membayar hutang-hutang pada teman-temannya.
    Bahkan dia bisa saja “bugil” karena baru saja menjual kemaluan dan sekujur tubuhnya , disebuah rumah kumuh dengan berbagai suara hiruk-pikuk diluar pintu dan dibalik jendela .

    Suara tetangga-tetangga yang sedang bersitegang , menghadang kaum penguasa bagi penggusuran gubuk-gubuknya.

    Masihkah kita merasa berlaku adil untuk menghakimi keberadaan mereka , yang menggopong stigma liar , serba ber-ke-tidak ber-aturan .

    Masihkah kita merasa berlaku adil , hanya mau tau akibat yang mereka timbulkan tanpa mau peduli apa yang dibebankan dipundaknya .

    Masihkah empati juga tersisa untuk diletakkan disana .. jauh didalam lubuk hati anda semua .

  11. Adalah penting untuk tidak kebal terhadap lingkungan. Saya selalu teringat Cak Nun dalam bicaranya di TIM sekitar sebelas tahun lalu. Orang normal, kalau dicubit pasti akan terasa sakit. Tapi kalau orang habis dipukulin, ditendangin dan luka, dicubit tidak ada apa-apanya.

    Banyaknya berita, dari yang tidak masuk akal sampai yang menyayat hati, jangan sampai mengebalkan empati kita, menganggap itu sebagai hal yang biasa. Apakah kita masih menitikkan air mata mendengar berita kelaparan? Apakah hati kita masih berdesir melihat kriminal yg semakin brutal? Apakah otak kita masih menuntut saat baca uang masyarakat diselewengkan?

    Selamat menahan lapar, dan salam kenal mas Jockie.

  12. Kita mendengar kabar burung , entah burung apa tiada guna kita menanyakan jenisnya , mungkin burung kuntul ..

    Konon Jakarta akan dibebaskan atau tepatnya harus bebas dari segala sesuatu yang berbau kemiskinan . Apa iya betul sih? kabar yang dibawa siburungkuntul tersebut ?

    Apakah maksudnya agar Jakarta bisa melambangkan bahwa Indonesia itu sebenarnya sudah kaya-raya ?

    Koq masih senang ya..berkubang dengan lambang-lambang..yang sekedar hanya “lambang”, seolah-olah yang hanya “seolah” ,seperti yang hanya “seperti ….”

    Haii..orang-orang yang tidak masuk golongan kuat dan kaya enyahlah dari ibukota , menyingkirlah demi harum & nama baik bangsa. Ini gagasan iblis yang menyusup kedalam benak penguasa , berkedok agama atau apa saja yang dianggapnya bisa membeli wibawa .

    Yang jelas ‘empati semakin sempit ruangnya’

  13. di Jogja pun ..warga miskin banyak mendapat “fasilitas”
    dapet KMS [Kartu Menuju Sejahtera] untuk bantuan kesehatan, pendidikan dsb..
    Terus bentar lagi akan dapet kompor gas lengkap dgn tabungnya..

    Apakah ini juga bentuk kepedulian kpd kaum yg dianggap miskin ? atau menyejahterakan rakyat ? atau “proyek” idealis ?

  14. Rajin ber-ritual ke mesjid atau gereja , namun kekuasaan terus ditumpuk dari orang-orang yang tertindas tak berdaya .

    Setia memberikan sekeping dua , namun menutup mata bagi keadilan yang bisa menciptakan lapangan kerja .

    Lantang bersuara mencerdaskan bangsa , bicara lewat televisi yang justru semakin tak berhubungan dengan nalar dan logika.

    Wajar kalau mengundang rasa curiga , wong pura-pura peduli , pura-pura bisa sejahtera , pura-pura bisa pintar dan pura-pura bisa kaya .

  15. Burung kuntul memang sulit untuk dipercaya. Tapi jika seratus burung kuntul membawa kabar sama, apalah artinya percaya atau tidak. Mereka lupa bahwa kaki lima adalah sumpal/sumbat dari perut dan dada jutaan warga ibukota. Saat lapar, hanya kaki lima yang mengerti kantong dan perut mereka. Saat mau lebaran, hanya kaki lima yang paham ada banyak kepala yang perlu dibelikan baju. Jika sumbat itu dipangkas, entah kemana mengalirnya amarah ibukota.

  16. Duh..manusia semakin di uji dan dicoba , atau jangan jangan ini memang malapetaka yang datang karena memang sengaja kita yang mengundangnya .

    Tanda demi pertanda peringatan global warming semakin nyata . Laut mengamuk – hujan turun yang tak lagi bisa dikira-kira – banjir ada dimana-mana – gunung-gunung berapi bergumam – lempeng bumi menggeliat .

    Orang semakin sombong saja (tengok solusi hampa dari berita pertemuan di Bali tentang berbagai upaya pemimpin bangsa-bangsa membangunkan kesadaran agar menjaga kualitas hidup dan lingkungannya)

    Materi semakin dipuja artinya orang benar-benar sudah menyembah berhala . Ayat-ayat suci diperdagangkan artinya agama dikhianati justru oleh para tokoh ulamanya.

    Laki-laki menjadi perempuan itu sudah biasa , perempuan berperilaku seperti laki-laki itupun juga sudah biasa .

    Yang belum biasa adalah manusia mengawini anjing atau srigala mungkin ini sebentar lagi saatnya akan tiba.

    Sebab perilakunya sudah ada . :twisted:

  17. mas jsop,

    Bagaimana ya sebaiknya untuk menjaga optimism dihati kita masing2 :(

  18. Keseimbangan mbak andara ,

    Orang yang kaya raya serta relatif bahagia dengan segala ukurannya , secara harafiah hanya akan melihat dengan kasat mata .

    Persoalan kemiskinan dan kesedihan yang juga ‘relatif’ , cenderung diletakkan diruang-ruang pencapaian kesuksesan ekonomi dan materi.

    Orang miskin serta ‘relatif’ menderita , secara harafiah juga cenderung menghakimi keadaan yang tidak berpihak pada mereka.

    Persoalan kemakmuran dan kesejahteraan materi acapkali diletakkan diruang-ruang sinisme dan sakit hati , yang buntut-buntutnya sering minta “pertolongan” Tuhan bila keinginan belum berhasil dicapai , padahal kalau sudah tercapai juga sering mudah lupa sama Tuhan sendiri.

    Mengenali secara ‘dekat’ keberadaan “materi duniawi” serta menyingkirkan jarak dengan “kemelaratan” absolute adalah satu-satunya cara agar keseimbangan bisa dijaga

    Rasanya..disanalah optimisme bisa hidup dalam hati kita dan tidak akan mengelabui mata kita dengan mimpi-mimpinya yang absurd . Pada akhirnya jangan menutup mata pada segala hal yang baik maupun hal yang terburuk sekalipun disekeliling kita .

  19. NEW BOOK:
    New meaning of Indonesian “empathy” is ‘emang pa’e, thak pykirin??’
    author :
    A.Patty.K ( apatik )
    EG.Pay ( EGP )

  20. -

  21. waduh berat juga ternyata melihat perbedaan yang ada, apakah boleh saya memilih!

  22. waduh musti banyak belajar lagi tentang filosofinya ini saya

  23. good info!

  24. makasih ya

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara