ErroR

Hasil karya atau produk yang kurang berhasil bisa dikatakan sebagai kesalahan manufactured , biasanya akibat karena sistem yang “kurang sempurna” , atau bahkan sistem yang sudah menuntut maintenance penyempurnaan karena sudah “over loaded’ .

Saya tidak bicara tentang pabrik tahu/tempe atau pabrik roti , tetapi hasil produksi tentang “manusia”.

Kasus kegagalan organ tubuh yang tidak berfungsi dengan semustinya semenjak kelahiran seorang bayi , tentu sudah bisa dianalisa secara medis hingga berbagai penanganan “tindakan” yang bisa dilakukan , berkat kemajuan tehnologi ilmu kedokteran itu sendiri . Yang artinya tidak lagi seperti perilaku jaman ‘pra tehnologi’ , dimana “mitos masing-masing ke-daerahan” adalah solusi bagi penyelesaiannya .

Bagaimana dengan tidak berfungsinya “jiwa” atau akal yang sehat , sehingga orang ketika semakin dewasa berperilaku menyimpang . Atau biasa kita sebut sebagai kelainan “orientasi seksual” , Homo atau Lesbian lah tepatnya.

Mengingat dijaman yang konon katanya semakin modern dan demokratis ini , saya koq merasa bahwa semakin kuat “pembenaran” yang memahami bahwa hal tersebut bukanlah “error” yang selama ini saya pahami. Namun sudah diangap sebagai sebuah kenyataan / kewajaran yang biasa-biasa dan boleh-boleh saja . Benarkah demikian ..?

Sebagai masyarakat yang beradab serta ber-agama , saya ingin bertanya di agama yang manakah “hal tersebut” dibenarkan..? Bukankah semua agama mengajarkan agar manusia saling berpasangan dengan lawan jenisnya dan sebagainya .. Atau agama manakah yang error ? Jangan-jangan suatu hari nanti juga akan muncul kalimat “Tuhan” yang error .

Sedih saya ketika melihat cewek-cewek cantik saling bermesraan … , (kenapa nggak sama gw aja..sih)
Sementara bila harus membayangkan si Ryan saling berciuman sebelum dia “menjagal” pacar-pacarnya. Hm..! bagaimana perasaan anda..? semakin bertambah tinggikah birahi nafsu anda ?

COMMENT ON MULTIPLY

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

8 Responses to “ ErroR ”

  1. oOh kasus banser tho…?
    wah serem rek… sing wadhon main silet kalo eker2an. Sing lanang nubles pake pisau dapur . Beratz mas…beratz!

    Udah getoh.naik haji pula..biar legitimate statusnya..wakakaka!!!!

  2. saya mending dipatok uler kobra sekalian kali..daripada dipatok sama banci hehehe

  3. Tegas dan jelas dalam bersikap , itulah jsop .
    tabik mas!!!

  4. mas/mbak , sebab semakin banyak orang menjadi “NETRAL” untuk masalah atau hal-hal yang semustinya tidak boleh netral. Pada umumnya argumentasi mereka semua sama , yakni atas nama “kebebasan” dan hak “azasi manusia” .

    Gejala tersebut jelas tampak pada masyarakat menengah kita .. Di dunia internet ini bisa saya rasakan dengan “jelas” . Generasi “instan” Indonesia “berprestasi” membawa masuknya paham “liberal” tersebut .

    Sepertinya selalu harus ada “chaos” hukum dulu , baru tatanan hukum sosial akan dibenahi kemudian . Dan kecendrungan “selalu terlambat” bereaksi , sepertinya semakin menjadi kebiasaan perlaku “spesific” masyarakat Indonesia .

  5. jsops
    edit delete reply
    jsops wrote today at 8:21 PM, edited today at 8:22 PM
    “Manusia memiliki organ2 tubuh fasilitas kenikmatan”
    “Lewat mulut selain alat kelamin dan lewat “belakang”
    Kita wajib menikmati segala ciptaan Tuhan , katanya…..!

    [saya kutip dari nonton acara TUKUL semalam , yang menghadirkan dua orang homoseksual]

    Hebat bukan.! Republik (homo) Indonesia ini..! Tidak heran kalau ada kelompok haluan keras muncul , seperti FPI dan sebagainya.

  6. begitulah mbak :(

  7. Mas, saya kuatir dengan makin kuatnya pembenaran atas ke-error-an tersebut dan ke-error-an 2x lainnya, akan terus mengundang murka Yang Di Atas. Dan kita dengan nggak tau diri masih menamainya cobaan … :(
    Kalau sudah begini, kita-kita yang normal ikut kena azabnya juga.
    Jadi, mereka yang error-error itu sebetulnya sedang membolongi palka perahu kemanusiaan kita.
    Kalau sudah begini apakah masih relevan kita bicara ke-error-an sebagai bagian dari hak asasi manusia … ?
    (eh .. apa mereka manusia bukan sih … sapi dan ayam aja nggak begitu. Mungkin ini yang dimaksud dalam kitab suci, manusia-manusia yang lebih rendah dari hewan ternak).

    Wass,
    JS

  8. Kalau sekarang ini adalah abad 19 , maka saya pastikan akan saya “gorok” leher tetangga saya atau bahkan saudara sendiripun , bila ada yang berperilaku demikian..hehehe.

    Di abad yang lebih beradab sekarang ini , kita harus menghormati perbedaan2 dengan cara yang juga lebih beradab , kan mas?

    Kecuali cara tersebut sudah tak mampu lagi mengatasi tingkat kerusakan2 , maka bukan tak mungkin nanti akan muncul kembali perilaku “pengadilan alam” atas nama “hukum alam” yang sama-sama “bar-bar” nya.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.