Facing the future
Paragraf “Menyambut masa depan” acapkali menjebak mindset untuk tergiring berpikir ‘meloncat’ jauh kedepan. Berbagai ragam cita-cita serta keinginan ‘tumplek / tumpah ruah’ saling tindih menindih didalam ruang obsesi benak pikiran.
Kegagalan mengelola energi spirit yang biasa disebut ‘semangat’ , acapkali melahirkan ‘besar pasak daripada tiang’ karena lalainya mengantisipasi kapasitas / keterbatasan yang mampu dilakukan dalam satu periode waktu.
Semakin sering menemukan hambatan seperti diatas (multitasking) , semakin dekat ambang kekecewaan dan frustasi menjadi sahabat karib kehidupan.
Kehidupan adalah perjalanan waktu yang sarat dengan nilai-nilai filosofis . Sementara hidup adalah kenyataan pragmatis yang tak bisa dihindari .
Hanya dengan kesadaran mengelola keseimbangan yang baik , persoalan demi persoalan yang datang setiap waktu , hari demi hari , akan mampu diselesaikan…, juga dengan baik .
Mudah kalau hanya sebatas diujung bibir untuk mengatakan…


















diantara perjalanan waktu yang sarat dengan nilai-nilai filosofis dan kenyataan pragmatis yang tak bisa dihindari, tak jarang muncul
peristiwa/sikon/kejadian yang tak terduga yang akan menambah runyam persoalan2 manusia. dengan itu manusia dihadapkan pada pertanyaan: sanggupkah manusia menyelesaiakan semua persoalan? apakah setiap persoalan bisa diselesaikan oleh manusia?
masalahnya: ‘naluri’ manusia cenderung senang mempersulit keadaan serta diri sendiri.
nah… itu dia mas…

bilangnya cinta, padahal nafsu… hehe…
akhirnya hilang dech makna hidup…
dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata..
Benni said: Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata …, supaya lebih jelas mungkin harus dengan penjelasan secara utuh :
“tugas dan kewajiban kita adalah deretan komitmen yang pernah keluar dari mulut kita sendiri”
*maklum orang Indonesia* banyakan lupanya dari ingetnya .
… sebenarnya ….. ‘masa depan’ kita semua itu sudah pasti…. yaitu…. ‘kematian’. Sekarang yang perlu kita pikirkan adalah persiapan kita tuk menyambutnya….
nah itu konkrit mas , nggak bisa ditawar lagi.
hidupkan kematian dalam kehidupan
agar ingat mati selalu di sana
matikan kehidupan dalam kematian
agar ingat hidup selalu fana
manajemen kehidupan adalah mengelola bekal mati kala hidup
budaya kehidupan adalah memberi makna pada nafas sebelum terhempas
manajemen kematian adalah mengelola bekal hidup sebelum redup
budaya kematian adalah memberi makan pada nafs setelah terlibas
Terimakasih mas atas pencerahannya , semoga membuat orang yang membaca lainnya menjadi berpikir tidak sedang “numpang hidup” .