Hukum

soetanto-soepiadhy.jpg

Soetanto Soepiadhy

ARTIKEL #1

Salah seorang kawan saya , beliau beberapa kali meluncurkan gagasan dan pandangannya dalam menyikapi problematik hukum di Indonesia . Melalui beberapa buku beliau menulis antara lain ‘Meredisain Konstitusi’ .

Ilmu HUKUM

“Hukum” seberapa jauhkah kita memahami makna kalimat tersebut. Banyak orang tidak mau pusing dengan asal-usul nya . Tetapi yang paling menyedihkan , orang Indonesia cenderung pasrah , tunduk terinjak-injak tak berdaya karena memang kebanyakan tidak paham hukum atau sekedar harus patuh mengikuti aturan tertulisnya padahal jelas-jelas masih banyak ‘hukum’ yang lebih banyak merugikan mereka daripada memberikan manfaatnya.

Ilmu Hukum adalah hasil tarik menarik berbagai kepentingan didalam masyarakatnya. Ia tidak dapat ditentukan menurut ukuran-ukuran subyektif individu orangnya , tetapi mengalir sebagai sebuah kenyataan dalam kehidupan yang ada . Dan selalu ditampilkan atau diperjuangkan lewat bahasa permainan kata-kata atau ‘language game’

Tak ada pembenaran absolute yang bisa merumuskan keadilan yang sempurna , apalagi kebenaran ilmu hukum adalah kebenaran dari hasil tarik menarik otak-otak kecil diantara manusia untuk kepentingan serta manfaat masing-masing golongan masyatrakatnya itu sendiri.Sedangkan kebenaran absolute adalah kebenaran semesta yang me-representasikan kebenaran agung sang Khalik Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh karena itu bisa saja dalam undang-undang kita , ternyata ada hukum yang sandarannya ternyata salah , atau hukum yang ‘disordered’. Ya wajar-wajar saja , karena itulah semuanya lalu menjadi tugas bersama kita , untuk memperdebatkannya . Jangan malahan merasa tak berdaya lalu diam seribu bahasa . Apalagi kalimat skeptis ‘kita tidak bisa merubah dunia’

Membuat diri sendiri serta masyarakat melek dan sadar hukum , adalah sebuah upaya agar kita semua bisa memperbaiki kualitas untuk mencapai kesejahteraan hidup bersama.

Apa dan bagaimana caranya? , menurut saya sering-seringlah kita menulis , berbicara mengkritisi sebuah aturan hukum yang tidak berpihak pada diri kita sendiri , karena dari sanalah berbagai suara nantinya akan terkumpul menjadi pendapat yang secara kolektif bisa mewakili satu kelompok golongan masyarakat dan pada akhirnya dapat diperdebatkan untuk saling tarik menarik guna menuju tercapainya produk ‘hukum’ yang diharapkan lebih berkeadilan dari sebelumnya.

Pada intinya kita dan masyarakat wajib “kritis”. Dan tidak ada sesuatu yang salah dengan menjadi “kritis”. Hal Itu justru menunjukkan kita adalah bagian dari masyarakat yang cerdas , peka dan sensitif.

Ingin ber-Globalisasi? sebaiknya kita mulai dengan yang satu ini , sebelum semakin jauh kita terperosok dalam lumpur “sidoardjo” atau malah kita menuju ke kubangan lumpur untuk mem-perosok-kan diri.

jsop.

~

james
ARTIKEL #2

HAK CIPTA KARYA MUSIK DALAM ERA DIGITAL
oleh : James F Sundah

Teknologi adalah upaya manusia untuk mewujudkan impian peradabannya , yang dalam implementasinya kadangkala menimbulkan berbagai kendala .

Dalam prakteknya kesenjangan antar kelompok masyarakat atau antar negara dalam mengakses , memahami dan memiliki teknologi menyebabkan persoalan baru yang rumit dan krusial .

LINK–> HAKI2 —- HAKI3 —- HAKI4

~

13 Responses to “ Hukum ”

  1. Hukum pada dirinya tak salah. Ilmu hukum obyeknya hukum tadi. Yang salah manusia itu dalam praksis hukum.

    Kalau ada ketentuan hukum yang keliru, misalnya UU yang tidak adil-terjadi karena UU tsb keluar setelah tarik menarik kekuatan politik di parlemen, bahkan sering mereka lupa bahwa UU itu sudah tidak bersandar lagi pada – atau -bertentangan dengan konstitusi. Makanya ada beberapa UU kita yang dibatalkan MK.

    Banyak orang terpaksa mentaati sesuatu yang seharusnya tak perlu ditaati lagi. Lihat orang parkir di mal tarifnya RP 2000 per jam bahkan ada yang bikin Rp 3000 (paling mahal Secure Parking).Padahal Secure Parking sudah digugat konsumen dan kalah tingkat kasasi-karena menurut Peraturan GUbernur DKI cuma Rp 1000 perjam.

    Lha trus bagaimana ini. Kok malah warga memilih mematuhi yang tak perlu ditaati. Kalau dibiarkan terus maka praktek keliru ini akan semakin jadi norma mengikat (die Normatif kracht des Faktischen-Georg Jellinek).

    Begitulah halnya belantika per-korupsian. Sudah terbiasa kasih tip, uang rokok, uang map, uang administrasi, (level bawah) , persentase komisi -sogok, suap dll di level atas menjadi dunia yang nyata dimana-mana.

    Betul mas Jockie, saran untuk membangun masyarakat kritis perlu digalakkan lah. Pake Mazhab Frankfurt juga oke punya. Ciao

    “Kesadaran adalah matahari
    kesabaran adalah bumi
    keberanian menjadi cakrawala
    dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!”

    gitu kata Rendra lho.
    -Ama ni Pardomuan

  2. Udah jadi eyang Doblang sekarang , bukan paman lagi .
    Terimakasih bung !

  3. Oalah mas. Katanya tempat obrolan serius. Jadi kalau serius harus pura-pura jadi eyang. Ha…ha..ha Selamat situs baru.

  4. he :) mudah-mudah an bukan pura-pura jadi eyang mas , tapi maksudnya adalah penggunaan bahasa yang dipakai untuk menulis adalah bahasa standar yang bisa diterima dan dimengerti oleh berbagai lapisan usia.

    Kalau soal eyang , beliaukan memang sudah layak disebut demikian (lha sudah punya cucu koq) hehe .
    Tapi eyang yang pinter yang tetap berjiwa muda hahaha.

  5. ngabsen nih..matur suwuun..

    monggoh.

  6. mas jock, kayaknya rubrik hukum kite gua aja yg ngabsen..abis rekan2 pokrol pd sibuk cari USD…fee jam2 an soalnya..ha..ha..ha..jadi gak ada waktu kongkow2 katanya….

    Begitulah kenyataannya .. masyarakat elite di “net” inipun ngga interest ngomong hukum . Ngga penting dan ngga “konkrit” mungkin pikirnya . Kita semua masih “abai” pada hal-hal yang mendasar , tapi dengan segala nafsu pengen “advance” untuk balapan dengan jaman yang sudah bicara hukum diluar kepala.

    Tantangan saya .. apalagi sampeyan praxis / aktivisnya . Masak mau berhenti juga dan kita tutup saja ruang kongkow2 ini .
    Maju tak gentar katanya … belanda dan jepang masih jauh hehehe … (padahal amerika mumpet dikolong tempat tidur kita)

  7. Mas Jockie,pa kabar?
    Mas..ngikuti berita tertangkapnya anggota hakim KY-Irawady J,terima suap Rp 600 Jt dan tertangkap oleh KPK.Wuih…dashyat bener ya?kelakuan penegak hukum di negri ini.Enaknya,seabis ketangkap,berdalih terjebak dan dijebak serta advokatnya langsung memberikan pembelaan,mencari celah “kebohongan”.
    Saya malah berandai2…andaikan ada maling masuk rumah kita,nyolong barang kita,terus ketangkap dan maling itu
    dengan enteng berucap “saya ga bermaksud nyolong kok,cuma menguji kewaspadaan pemilik rumah” nah lho..hahahahaha,mampus dah!

  8. SELAMAT IDUL FITRI
    MAAF LAHIR BATIN

  9. Beberapa hari terakhir ini saya banyak bertanya pada beberapa orang yang berkompeten masalah penegakan hukum dinegeri ini(praksis). Dari mulai polisi sampai level pejabat tinggi di militer .

    Intinya topik yang saya kemukakan adalah rentetan dilemasi yang ditimbulkan akibat hukum yang tidak berjalan sesuai harapan .

    Sebuah analogi saya gambarkan bahwa ibarat profesi saya ini ada diurutan kelompok strata ke 3 dari 5 strata sosial ekonomi masyarakat kita . Dimana pada level saya saja sudah semakin terasa beban yang harus kita sikapi , yaitu kompromi melakukan pelanggaran pada hakekat hukum , akibat keadaan yang memaksa dan tak memberikan ruang toleransi bagi hidup ini sendiri.

    Saya ceriterakan bagaimana rasanya , lalu apa yang dirasakan oleh masyarakat dilevel strata sosial ke empat apalagi kelima ? Dimana mereka setiap hari dibenturkan pada masalah pelanggaran hukum , padahal mereka bukanlah kriminal apalagi dengan sengaja ingin melanggar hukum itu sendiri .

    Mereka melakukannya karena memang hukum tidak berpihak pada realitas sosial yang menghimpit ruang gerak mereka .

    Digusur , diusir , dianggap sampah kota . Padahal untuk keluar dari kubangan tersebut mereka harus berpendidikan cukup , lalu bekerja dengan penghasilan layak dan sebagainya .

    Dua hal persyaratan minimal yang tidak disediakan bagi mereka , karena tidak ada sekolah bagi mereka yang tak mampu dan tak ada lapangan kerja bagi mereka yang bodoh .

    Sementara hidup terus bergerak maju bagai mesin penggilas yang tak pernah mengenal belas kasihan dan kompromi pada orang-orang yang tak berdaya tersebut.

    Akhirnya jawaban bagi pertanyaan dan perbincangan saya diatas hanya “kompromi” hukum . Sebuah jawaban yang saya juga sudah tau , namun bukanlah itu sebenarnya yang ingin saya harapkan .

    Idealnya saya mengharapkan sebuah upaya perlawanan atau perbaikan yang terjadi dilevel strata satu dan dua untuk membenahi masalah pelaksanaan hukum tersebut . Apa jadinya kalau mereka yang seharusnya mengerakkan saja sudah tak berdaya …

    Pantas kalau saya masih merasa dipaksa , dipaksa untuk terbiasa dengan suatu kondisi keadaan yang seharusnya tidak boleh dianggap biasa.

    Dan pantas saja masih terus bermunculan orang yang dianggap melawan hukum bahkan mendorong mereka berpotensi menjadi kelompok ekstrimis atau yang lebih parah lagi dikatagorikan perilaku kelompok teroris.

  10. HUKUM YANG KUMUH

    Belajarlah pada Ratu Cima dari masa klasik Nusantara,
    tegas dan telas memotong tangan kerabatnya sendiri karena mencuri
    tentu saja dengan pisau
    tapi konon beberapa “pangeran kegelapan’ dan “laskar Cangkem’ ahli-jilat di istana menyarankan untuk ‘memotong’-nya dengan sisi tumpul atas pisau…Pemerkosaan Hukum,Penodaan Keadilan
    Tapi Sang Ratu tak mau dan tak mampu
    membohongi nurani dan nuraini
    diperintahkannya pisau agar dibalik
    sehingga sisi tajam siap menghunjam
    Darah mengalir
    Dosa melesir
    Rahayat menghayat
    Ratu nan ayu
    paras dan raga
    ucap dan sikap
    Dan keadilan untuk semua
    (…………..UAAHHHHHH!!!lho…mas…..sori baru bangun…
    saya mimpi apa tadi ya??)

  11. Hukum harusnya membuat kehidupan lebih teratur dan tertata, tapi hukum malah dipermainkan dengan banyaknya mafia hukum itu sendiri ^_^

  12. lho, komentarku tadi masuk mana ya?

  13. truth

    Kalau KEBENARAN menjadi relativisme , maka tak ada lagi aturan dalam diri setiap orang [inhern] , untuk bisa memilah & membedakan mana yang boleh dan mana yang dilarang … [dalam hal apa saja]

    Menegakkan KEBENARAN … dari mana mulainya? , saya tidak ingin menjadi barisan orang2 yang pinter ngomong tapi dungu dalam tindakan. Mari kita awali dari yang disebut:

    -0-

    KEBENARAN KORESPONDENSIAL . Ini adalah jenis kebenaran berdasarkan fakta empiris , atau segala sesuatu yg pernah terjadi dimasa lalu sebagai pembuktian / argumentasi pembenarannya.

    contoh a : lagu2 ciptaan saya terasa menjadi ‘tidak benar’ ketika di remake ulang tanpa pemahaman yang benar , mengapa? . Sebab semua lagu2 ciptaan saya adalah bentuk dari dialektika antara saya dengan persoalan2 yang terjadi disekeliling saya. Bukan melodi dan musik yang saya ciptakan semata atas dasar untuk men-supply kebutuhan industri rekaman saja , kaidah2 dari industri rekaman adalah sarana saya melakukan kompromi2 dalam menyikapi realitas yang terjadi. Bahwa karya itu perlu didistribusikan ketengah khalayak ramai sebagai wujud sosialisasi

    contoh b : balance komposisi aransemen serta tata suara rekaman dimasa itu , terasa relatif ‘buruk’ jika saya dengarkan kembali saat ini , berarti itu membuktikan bahwasanya saya ‘kurang mahir/menguasai’ . SALAH ,sebab kalau saja itu saya lakukan disaat ini , dengan dukungan fasilitas sdm serta tehnologi lebih memadai pasti hasilnya akan berbeda lagi. Demikian pula andai karya hari ini kelak dimasa 30 tahun mendatang akan didengarkan kembali , akan sama halnya dalam menilai segala kekurangan2 yg ada [bersifat relatif]

    Paragraf alinea [a] dan [b] diatas , bicara soal KEBENARAN KORESPONDENSIAL dalam konteks musik , bisa saja diaplikasikan dalam bentuk lain , misalnya dalam konteks politik , hukum , ekonomi , hingga masalah2 yang terangkai dalam aktivitas kegiatan manusia ber-sosial budaya .

    Pertanyaan paling mudah: … apakah sampeyan percaya pada sebuah KEBENARAN yg mengatakan bahwa : seandainya saat itu tidak ada api yang membakar maka rumah itu tidak akan hangus menjadi arang. KEBENARAN-nya adalah : “api adalah penyebab” [?]. Saya mengkatagorikan hal tersebut diatas sebagai “Kebenaran dalam perspektif Fenomenal , yang tidak melibatkan alam perspektif Neumenal”

    -0-

    KEBENARAN KOHERENSIAL … adalah Kebenaran yang saling mengikat , kenicsayaan atas segala sesuatu hal yang kehadirannya dibidani oleh keterlibatan antara manusia dengan alam semesta raya

    contoh a : Yockie adalah anaknya pak Susanto ibunya namanya Suryati , cucunya eyang Soewarno dst. Itu adalah KEBENARAN yang mutlak dan MENGIKAT karena saya memang lahir dng terlebih dahulu ada mereka para orang2 tua itu sebelumnya , dan merekalah yg membuat saya dilahirkan didunia dengan nama Yockie Suryo Prayogo

    contoh b : saya berasal dari suku jawa yang kemudian bergabung dengan suku2 bangsa lainnya , untuk bersepakat menamakan diri menjadi bangsa Indonesia

    namun contoh [b] dan [c] dibawah ini bukanlah Kebenaran koherensi

    contoh [c] : jsop adalah musisi indonesia hingga sepanjang hayatnya … maka itu tidak termasuk dalam KEBENARAN yang bersifat KOHEREN diatas. Sebab bisa saja besok saya bosan untuk menjadi pemusik atau bosan jadi orang indonesia , lalu memilih profesi baru … dagang bakso atau jadi germo yg lebih menguntungkan lalu menjadi warga negara zimbabwe :p

    -0-

    KEBENARAN PARADIGMATIK … adalah Kebenaran berdasarkan aturan dan nilai2 lokal yang khusus/spesifik yang ditentukan serta harus ditaati oleh masing2 lingkungan dimana manusia itu hidup & ber-peri-kehidupan.

    contoh a : jsop boleh saja buang air kecil dibatang pohon atau di semak2 sangking kebeletnya . Dan tidak ada orang yang melarang , paling2 disumpahin biar dipatok uler

    Padahal tidak diperkenankan kencing sembarangan ketika saya masuk kewilayah adat , dimana ada tempat2 yang dianggap sakral dan harus dihormati oleh masyarakat setempat

    contoh b : saya bisa nunggu seharian didepan pagar rumah si bang doel karena yang punya rumah lagi asik bikin layangan didalam. [maklum , paradigma jawa itu .. kulonuwuuunnn … sampai 100 kali bila perlu]

    Sementara begitu bang doel berdiri dan menengok jendela / melihat saya pegel didepan pagar … bisa saja dia bertereak : “ngapain elu … berdiri disono kaya orang bego! , masup aje nape’ , itu pan cuman pager tinggal elu dorong , bego … emangnye digembok kayak anjing herder… kagak tau!”

    -0-

    KEBENARAN PRAGMATIK … adalah Kebenaran yang bisa saja mengenyampingkan berbagai aturan2 resmi yang dianggap menghambat demi terlaksananya satu kepentingan / manfaat bersama yang bersifat mendadak. [crash program]

    contoh a : jelas dilarang kendaraan pribadi memasuki wilayah areal route busway . Namun karena kondisi macet yang tidak bisa diatasi , maka pak polisi lalu lintas mengarahkan semua kendaraan agar melewati jalur tersebut.

    Namun , itu bersifat sementara dan hanya bisa dilakukan demi kepentingan umum [masyarakat pengendara secara menyeluruh] serta diawasi oleh petugas. Jika pak polisi nya sudah pergi , maka jangan ngomel jika kemudian kita ditangkap oleh polisi berikutnya yang tidak tau menahu soal memberi ijin diatas

    contoh b : saya dengan beberapa pengusaha kelas kakap ingin meng-import alat2 berat , tapi pajaknya ketinggian padahal alat berat tersebut sangat dibutuhkan dikampung buat ngeruk kali atau membajak sawah. Maka saya memohon kebijakan pemerintah agar KEBENARAN PRAGMATIK lewat kepres tertentu bisa mengijinkan dibebani pajak yang rendah atau bahkan bebas bea masuk

    Tapi , kalau hal tersebut dijadikan kebiasaan2 terselubung … itu korupsi namanya

    -0-

    KEBENARAN PERFOMATIF … adalah aturan/Hukum yang sedang berlangsung , berfungsi guna menyelenggarakan tata kehidupan masyarakat yang bernaung dibawah satu payung Hukum sama. Kebenaran Perfomatif ditampilkan melalui Lembaga2 formal dalam sistim Ke-Tata-Negara-an.

    Kebenaran Perfomatif adalah alat Legitimasi untuk menjadi wadah bagi : “KEBENARAN KORESPONDENSIAL – KEBENARAN KOHERENSIAL – KEBENARAN PARADIGMATIK – KEBENARAN PRAGMATIK ” untuk saling memfasilitasi dialog didalam ruang-ruang dialektika KEBENARAN , agar dapat melahirkan ‘KEBENARAN2 BARU’ sesuai dengan tuntutan jaman dan menjadi landasan bagi ditetapkannya KESEPAKATAN BER-KEBENARAN yang mutakhir. [Hukum yang uptodated]

    Kesepakatan yang melahirkan Kebenaran Manusia adalah HUKUM buatan manusia itu sendiri. Hukum yang berpedoman pada KEBENARAN Hukum Allah , Tuhan Yang Maha Esa

    [back to mencari-hukum]< <<<—-

elektronik sigara