jsop undur diri?
* Pemikiran dan Gagasan besar terakhir WS.Rendra terkait dengan Kantata adalah : Kantata Samodra .
Pasca Rendra wafat … maka gagasan untuk meng-implementasikan Kantata Samodra terhenti dan tak berkelanjutan lagi.
* Ditahun 2010 , tepatnya 20 Mei 2010 ada rencana Kantata untuk menggelar konser di kota Bandung dalam rangka memperingati Harkitnas , semua pihak / personil mendukung rencana tersebut. Namun akhirnya batal untuk bisa dilaksanakan berhubung tidak ada kejelasan koordinasi antara pihak Penyelenggara yg pada saat itu diwakili oleh institusi ‘Kodam’ dengan pihak Kantata. Saya sendiri tidak tau menahu mengenai arus komunikasi antara kedua belah pihak diatas.
* Beberapa bulan setelah masa2 itu , terjadilah hubungan komunikasi secara intens (by: phone) antara saya dengan S.Djody . Dimana pada prinsipnya ingin tetap mengadakan konser musik berskala besar seperti Kantata Takwa di era tahun 1990 (21 tahun yg silam) di GBK Senayan.
Gagasan tersebut tentu saja saya amini sejauh rencana tersebut didukung oleh berbagai persiapan2 teknis maupun konsep/tematik yang paling tidak sejalan atau bahkan bisa juga tematik baru yg tidak lagi mewakili gagasan2 Rendra sebelum beliau wafat. Pada intinya saya minta ada dialog yang komperehensif yg melibatkan semua pihak/personal Kantata untuk berkumpul dan bicara guna merumuskan bagaimana mengusung tema2 Kebangsaan yang saat ini teramat sangat KRUSIAL bagi saya dan tentu saja bagi kita semua.
Disisi lain juga untuk mengingatkan semua pihak , bahwa Kantata bukanlah sekedar kelompok musik seperti lazimnya anak band . Kantata sebagaimana dicetuskan sendiri oleh WS.Rendra adalah komunitas Kesenian yang peka dan sensitif terhadap hal2 apa saja yg terkait dengan persoalan Lingkungan hidup manusia Indonesia. (politik-hukum-ekonomi-budaya) . Namun dialog tersebut ternyata tak juga pernah bisa terlaksana , karena terhadang oleh berbagai kendala serta alasan2 yang tak bisa dihindari.
Ada satu hal yang mengejutkan saya , adalah keinginan S.Djody yang tiba2 menyebutkan berulangkali bahwa konser yang masih dalam cakrawala angan2 saya tersebut , nantinya haruslah dengan judul utama “Kantata Djody”. Serta konser tersebut juga konon akan melibatkan pemusik2 dunia seperti Jimmy Page dan Robert Plant dari kelompok musik legendaris Led Zepplin. Sedangkan repertoarnya adalah gabungan dari lagu2 Led Zepplin beserta Kantata/Swami yang harus saya arransemen ulang , untuk kelak agar dimainkan secara kolaboratif bersama-sama dalam satu panggung.
Hal seperti diatas , sungguh sangat tidak masuk diakal sehat saya. Mengingat Kantata yang saya pahami selama ini bukanlah media untuk sekedar HURA-HURA pesta panggung politik , apalagi selebriti
Berbagai upaya , untuk saya mempertegas perlunya personil Kantata duduk bersama terlebih dahulu sebelum merancang sebuah konser besar , seolah tak dihiraukan lagi. Bahkan S.Djody melalui sekretarisnya beberapa kali menyampaikan pesan2 dan rencana2 jadwal latihan dsb yang bernada ‘fait accompli’ agar segala keinginannya tidak bisa ditolak. Dikirimkan juga melalui email daftar lagu2 yang harus saya arransemen tersebut. Maka semenjak saat itulah , saya sama sekali tidak meladeni panggilan telpon maupun ‘missed call’ . Terlampir copy email dibawah ini:
JADWAL LATIHAN TANGGAL 10-15 JANUARI 2011
KANTATA CENTER
OPENING SAMSARA
KHASMIR
WHOLE LOTTA LOVE
HOUSES OF THE HOLLY
BABE I’M GONNA LEAVE YOU
WHILE MY GUITAR GENTLY WEEPS
WHEN THE LEEVE BREAKS
HIO ( NEW VERSION )
BENTO VS AKU BENTO ! (BARONG BELANTARA)
BONGKAR (NEW VERSION)
NYANYIAN JIWA
MATA DEWA
DERITA
MELAWAN BUNGA HITAM
BERLAYAR DI LANGIT BIRU
KESAKSIAN – FINAL/ROCK & ROLL
BLACK DOG
RAMBLE ON
OVER THE HILLS AND FAR AWAY
ROCK AND ROLL
STAIRWAY TO HEAVEN
KANTATA TAKWA
CLOSING WITH DEVOTION
NOTE : Whole Lotta Love
New version percusion
Sungguh saya tidak mengerti akan maksud dari urutan2 daftar lagu2 diatas , mungkin diasumsikannya saya ini adalah anak kemaren sore yang baru seneng2nya nge-band. Ditegaskannya juga oleh S.djody bahwa saya akan tetap sebagai Music Director sebagaimana prasyarat yg saya kehendaki jika Kantata ingin berkarya kembali. Tetapi dengan satu syarat bahwa dia akan berfungsi sebagai Chief of Music Director , layaknya CEO dalam sebuah perusahaan. Sebuah istilah baru dalam dunia musik yang seumur hidup belum pernah saya dengar , mungkin memang saya yang tertinggal oleh jaman
Satu catatan penting yang perlu saya garis bawahi , bahwa semua korespondensi / komunikasi melalui telephone antara saya dengan S.Djody maupun lampiran email diatas , seluruhnya sudah saya ceritakan dan forward kepada sdr.Sawung Jabo sebagai salah satu anggota Kantata yang saat itu berada di Australia. Ybs sendiri mengatakan pada saya tentang kegelisahannya , mengapa S.Djody bisa bertindak sebegitu jauh tanpa melalui dialog2 kesepakatan bersama terlebih dahulu.
Hubungan komunikasi yang baik sebagaimana yang telah terjalin sekian lamanya antara saya dengan S.Djody menjadi tercederai , ketika ybs saya anggap telah melecehkan Intelectual Rights / HaKI , saat saya sedang menegur sdr.Hanung Bramantyo (sutradara film) lewat Twiter yang mencantumkan lagu KESAKSIAN pada filmnya yg berjudul ‘TANDA TANYA’ tanpa sepengetahuan dan seizin saya maupun semua pihak yg terlibat dalam proses2 penciptaannya.
Yang lebih mengherankan lagi justru tiba2 Sawung Jabo sendiri tanpa ada ‘angin dan geludug’ , langsung mengadakan jumpa pers dikediaman S.Djody untuk ber-sama2 mereka membidani lahirnya Kantata versi baru. Sekali lagi hal tersebut dia lakukan tanpa sekalipun pernah menghubungi saya terlebih dulu , padahal bukankah sudah sewajarnya jika hal tsb dilakukan mengingat ybs sendiri juga mengikuti perkembangan2 yg terjadi sebelumnya. Hanya Iwan Fals yang pada sore harinya menjelang acara jumpa pers tersebut dilakukan , mengubungi saya by phone dan menanyakan :
if: “lho katanya lu nggak dateng?” ;
jsop: “nggak , karena memang nggak diundang” ;
if: “wah .. gimana dong nih? gw jadi bingung nih” ;
jsop: “enggak perlu bingung , elu kalo mau dateng , dateng aja , ini sikap gw sendiri” ;
if: “ok’ … jadi nggak apa2 ya?” ;
jsop: “ya nggak lah nggak masalah … silahkan saja”
Pembicaraan tersebut diatas sebenarnya adalah isyarat yang saya lakukan , agar mereka semua bisa memahami bahwa keberadaan saya di Kantata adalah karena adanya seorang WS.Rendra sebagai katalisator untuk mengelola dialektika dan keseimbangan. Setelah Rendra wafat … tidak ada lagi mekanisme itu , semua orang sepertinya boleh2 saja berkehendak sesukanya sendiri , sejauh kekuasaan ada ditangan. [materi ataupun popularitas]
Lalu , pada hari2 selanjutnya seperti yang kita semua tau dan bisa membacanya diberbagai media “disebutkannya saya telah ber-kali2 dihubungi namun mengundurkan diri dari Kantata karena sibuk” , apakah itu juga demi kepentingan tertentu yang juga berarti hendak menghapus jejak langkah yang pernah saya torehkan di Kantata walau sekecil apapun nilainya? wallahualam
Sejak dari awal karier , saya tidak pernah bernapsu dengan ‘PROYEK’ yg sebenar-benarnya mengingkari suara hati nurani saya sendiri. Kini saya hanya berurusan mengenai Hak Cipta yang tidak boleh lagi di-negasikan atau dinafikkan bersanding dengan keberadaan Hukumnya ,yang juga seolah bisa dipindah tangankan secara begitu saja sebagaimana dipahami oleh banyak orang bahwa semuanya bisa dibeli asal ada uang , Fuck the Mainstream!
Berpolitiklah yang baik demi tujuan2 yang baik , jangan berpolitiking dengan saya , hanya ini pesan yang bisa keluar dari sanubari & hatinurani saya.
jsop

















