Lagu_Indonesia

musisi

Jurang Pemisah GodBless [Huma Diatas Bukit] Badai Pasti BerlaluKantata Takwa

[last edited 28 Des.2007]


Kuping sebagai indra pendengaran akan menangkap bunyi-bunyian disepanjang perjalanan nafas yang dihirup dalam hidup . Dari semenjak bayi hingga kita menjadi dewasa bunyi-bunyian tersebut lazim terdengar lalu menjadi akrab masuk kedalam rongga gendang telinga .

Kemudian bunyi-an tersebut akan merekam berbagai penggalan frame to frame peristiwa, yang suatu saat akan bersinggungan dengan jejak berbagai kisah yang tersimpan dalam otak kita masing-masing , dan bila kisah dihari ini berkaitan dengan aktivitas dimasa lalu yang pernah terekam dalam memory , maka otak akan bekerja dengan mendistribusikannya ke hati melalui ‘rasa’.

Disanalah bermukimnya ‘sesuatu’ yang disebut ‘nilai’ yang sering diwakili kehadirannya melalui pendekatan cita rasa yg menentukan selera pada tiap-tiap manusia .

Oleh sebab itu selera tidak bisa dipaksakan harus sesuai dan sama , antar manusia yang satu dengan manusia yang lainnya . Karena latar belakang peristiwa atau historis perjalanan masing-masingnya juga berbeda .

Namun dia menjadi tidak sederhana seperti diatas tatkala cita rasa diperlukan sebagai salah satu komponen pendukung yang dibutuhkan bagi terwujudnya kualitas intelegensia

Intelegensia sendiri adalah sebuah pemahaman dari sebuah cara berpikir yang lahir dari kemampuan manusia mengelola kerja otak kiri dan otak kanan secara seimbang .

Misalnya sering kita jumpai seseorang yang mendaya-gunakan otak kirinya dengan intensitas yang tinggi diatas rata-rata pada umumnya , sebut saja saintis atau ilmuawan , politikus namun saat dia lengah memberdayakan otak kanannya maka output yang dihasilkan-nya adalah ‘orang pintar yang tidak intelek’ atau tidak bisa dikatagorikan sebagai kelompok kaum intelektual . Saya bukan ingin mengatakan bahwa saya cukup intelek , namun sekedar melukiskan difinisi intelektual yang mampu saya pahami. Selanjutnya adalah jelas… , saya sendiri masihlah sangat tidak intelek dan jauh dari difinisi istilah tersebut .

Demikian juga proses atau pemahaman saya tentang sebuah lagu yang bisa disebut atau INGIN disebut sebagai lagu Indonesia.

Ditahun 70’an disaat lagu-lagu populer Indonesia dikenal sebatas dalam pagar ‘mudah dicerna’ secara aransemen dan pengunaan kalimat yang sama sekali tidak merangsang cakrawala berpikir kita maka disaat itulah yang disebut dengan ‘selera’ atau ‘cita rasa’ bisa kita jadikan acuan sebagai alat tolak ukur kondisi musik Indonesia secara umumnya .

Generasi sebelumnya pun pasti juga berpikir serupa mereka pasti memahami bagaimana generasi muda tahun 1950’an saat itu meng-ekspresikan cita rasa lewat lagu dan musiknya .

Bila kita tilik dan telaah perjalanan (budaya) perilaku lagu dan musik popular di Indonesia , maka saya menarik sebuah garis kesimpulan bahwa ini proses masyarakat yang berupaya terus beranjak meningkatkan cita rasa atau selera bagi terciptanya salah satu pendukung terwujudnya intelektualitas pelaku seninya hingga mengkerucut bergabung menjadi bagian dari intelektualitas masyarakat atau bangsanya.

Pada tahun 1973 adalah tahun awal saya ter-obsesi untuk berani dan ‘nekat’ mengatakan pada semua orang disekeliling saya , tentang keinginan saya akan sebuah pemahaman yang disebut ‘rock Indonesia’ . Sayang saya tak bisa menemui dokumen serta catatan-catatan yang pernah dimuat dan tertulis dimajalah-majalah lama dimana saya pernah mengatakannya.

Pada saat itu dunia musik rock Indonesia adalah kumpulan dari hingar-bingar plagiat-plagiat yang merujuk pada musisi eropa / amerika umumnya. Saya juga termasuk salah satu pelaku yang ada didalamnya . Saya dengan sadar teramat jauh terbawa dan terseret dalam berbagai opini problematika serta cita rasa mereka .

Betapa luar biasa dan dahsyatnya Yohn Mayall mengekspresikan protesnya pada rasialisme yang masih tumbuh dengan subur di amerika . Jimmy Hendrik dengan gagasan menembus batas ruang yang ada serta beratus-ratus seniman lainnya yang menyuarakan protes sosial pada dunia tentang penindasan antar sesama manusia khususnya yang sedang melanda perang di vietnam .

Sejarah dan catatan semua aktivitas musikal yang mampir dibenak saya telah menjadikan saya seorang seniman musik yang belajar meyakini dengan sedalamnya , bahwa musik adalah sebuah media ekspresi yang memikul banyak aspek kehidupan yang harus diusung dan di suarakan oleh pelakunya . Musik juga alat perjuangan untuk turut memberikan kontribusi bagi terciptanya suasana yang lebih baik bagi lingkungan hidup manusia.

Saya terhenyak diam dan berpikir …. apa yang bisa saya lakukan? sementara saya memahami dan mengagumi mereka namun persoalan mereka sungguh sangat tak berkaitan dengan persoalan dan problematika saya sebagai orang Indonesia …. Saya tidak merasakan dampak apa-apa dari perang vietnam , dari penindasan gaya rasial , free sex hidup bebas gaya Hippies dan banyak lagi icon-icon yang menggoda untuk diikuti. Saya hanya ter-kagum kagum dengan spirit perjuangan yang mereka usung tanpa ada korelasi langsung kepentingannya dengan kehidupan pribadi saya sendiri selain hanya ikut-ikutan sebagai kelompok penggembira.

Ditahun 75’an saya beranikan diri menulis lagu Indonesia dengan tema dan persoalan disekitar kehidupan saya sendiri sebagai orang Indonesia , apapun juga bentuk musik yang membalutnya . Bukankah musik dan harmony sudah menjadi media ekspresi milik orang seluruh dunia atau disebut universal . Bukankah tema persoalan yang membedakan darimana saya , siapa saya serta yang membedakan darimana mereka dan siapa mereka .

Menjadi sebuah pertanyaan besar tatkala ada sebuah peradaban seperti sekarang ini , meletakkan ‘selera musik’ yang dikatakan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya sendiri .Nyatanya tidak kontekstual dengan realita kondisi kehidupan masyarakat yang ada .

Sementara menyanyikan mimpi-mimpi baru atau mimpi lama dianggap sebagai kenyataan modernisasi atau paling tidak sebuah spirit untuk membangun motivasi , tanpa pernah berkaca pada progres kenyataan yang mampu diaktualisasi.

Lebih memprihatinkan lagi .. ramai muncul kerinduan-kerinduan atau romantisme kepada suasana 70’s – 80’s dengan segala atribut musiknya lalu beramai-ramai semua orang melakukannya agar merasa bisa eksis kembali .

Saya tidak pernah menentang paham silaturahmi pada masa silam untuk menghormati dan mengenang jaman dimana telah memberikan kontribusi / banyak arti serta peran bagi terciptanya peradaban hari ini .

Namun melakoni masa lalu , adalah mimpi buruk yang harus di hindari . Sebab intelegensia adalah sesuatu yang hidup dan bergerak , yang berproses tak ada henti-hentinya mengiringi perjalanan budaya yang juga terus menggeliat menemukan bentuk baru serta terus meng-update wujud penampilannya .

nb:[tambahan] maaf , mungkin alangkah baiknya jika lebih banyak orang yang punya kesadaran dibanding yang ‘mabok’ untuk mau menghindari. Lakukan apa yang dibutuhkan sesuai kebutuhan kwalitas peradaban hari ini , walaupun jauh dari promosi . Sebab popularitas yang tidak proporsional hanya akan menggiring perjalanan proses cita rasa menjadi layu hingga cepat mati.

[maaf sekali lagi saya sok tau , tapi karena ini blog saya sendiri ya..ijinkanlah saya sok tau]

Jurang Pemisah GodBless [Huma Diatas Bukit] Badai Pasti Berlalu
Kantata Takwa

8 Responses to “ Lagu_Indonesia ”

  1. sepatu

    ARTIKEL #1

    Jurang Pemisah :

    Album ini adalah kumpulan dari sebagian besar lagu-lagu yang saya ciptakan untuk pertama kalinya .
    Banyak diantara lagu-lagu tersebut saya tulis di awal-awal tahun 70′an. Lirik-nya sendiri juga ada beberapa penggalan kalimat yang saya comot / temui dari buku-buku puisi atau koran/majalah disaat itu , yang memuat berbagai kolom sastra-puisi .

    Memang harus saya akui , dalam proses awal dan belajar tak jarang saya juga melakukan tindakan yang sebenarnya merupakan sebuah pelanggaran hak cipta , sekecil apapun juga kadar pelanggarannya . Misalnya dalam sebuah lagu yang berjudul “Dendam” …ada bebrapa kalimat yang berbunyi ” seribu sayap rindu dibalik baju berbulu ….” . Sampai hari ini belum juga saya ketemukan siapa sebenarnya penulis karya sastra tersebut , sunguh menjadi beban yang belum tertuntaskan , karena saya belum berhasil menemukan siapakah gerangan orangnya . Maklum bahkan di koran dan majalah apa ..saya sendiri juga sudah tidak ingat lagi . (hampir 30 tahun silam)

    Yang pasti lagu tersebut adalah bentuk protes saya kepada lingkungan yang meng-isolir diri saya dikarenakan jabatan nonformal saya sebagai musisi sekaligus junkies . Tepatnya lebih saya tujukan pada orang tua pacar saya waktu itu yang membenci saya setengah mati … Sialnya pacar saya tersebut adalah tetangga saya sendiri , jadi hampir setiap hari mereka memelototi saya dari balik pagar rumahnya , sambil mengawasi anak perawannya

    Disaat itu juga perkawanan saya dengan James F Sundah sudah terbina dengan baik , dimulai dengan kerja bareng merekam Lilin-lilin kecil yang dinyanyikan Chrisye . Saya bersama James F Sundah menangkap gejala sosial atau tepatnya kesenjangan sosial yang terjadi disekitar kehidupan kita . Antara si kaya dan si miskin hingga masuk kewilayah hukum antara penindas dan tertindas . Maka lahirlah lagu yang diberi judul “Jurang Pemisah” sekaligus menjadi judul dari album itu sendiri .

    James F Sundah juga menyumbangkan sebuah komposisi gubahannya untuk saya aransemen dan dimasukkan dalam album tersebut . Sebuah lagu yang bertutur tentang nasib orang-orang maluku yang berhasil dibujuk untuk mendirikan sebuah negara kedaulatan yang baru . Namun pada kenyataannya mereka dibiarkan mengambang dan akhirnya hanya bisa menyesali apa yang sudah terjadi , tanpa bisa berbuat apa-apa lagi . Mereka adalah orang-orang maluku yang dikenal dengan RMS , yang difasilitasi oleh pemerintah belanda pada saat itu . Judul lagu ciptaannya adalah “Jeritan dari seberang”

    Gumpalan persoalan yang mengendap dalam otak saya adalah bagaimana saya bisa bebas berteriak memuntahkan segala isi pikiran yang mengganjal didalam benak saya . Saya juga ingin mengatakan bahwa kami pemain musik di Indonesia ini bukanlah sekedar petualang kehidupan yang hanya berpikir untuk mencari nafkah bagi kepentingan isi perut dan diri sendiri Bahkan rekaman atau konser tanpa imbalan materipun kami dengan senang hati menjalaninya . Sejauh hal tersebut kami yakini sebagai satu bentuk pengabdian dan sudah menjadi panggilan jiwa kami.

    Kami musisi ditahun tersebut rasanya tidak mabuk publikasi pencitraan diri atau sekarang ini dikenal dengan budaya narsistik . Kami bahkan lebih sering menghindar atau merasa nggak pede bila tampang kami terpampang dikoran atau majalah berita musik . Teman-teman pasti ngeledek atau bisa jadi malah jadi bahan tertawa’an… (maklum..paradigma pergaulan lingkungan saya saat itu di komunitas prambors lekat dengan tradisi kick-kick-an) hehe.

    Suasana kreatif yang didukung oleh situasi malah sungguh teramat jauh berbeda dengan yang terjadi ditahun-tahun setelahnya. Ditahun saat industri ekonomi menggeliat untuk seyogyanya lebih memfasilitasi pendistribusian karya kreatif berbagai jenis musik , justru tidak terjadi .

    Yang terjadi malah paradoks . Berkembangnya industri ekonomi tidak ter-antisipasi oleh kesadaran seniman dan musisinya guna berbenah menata sistem management yang diperlukan umtuk menjembatani dua kepentingan yang berbeda , agar bisa saling sinergi secara equal dan berjalan ber-iringan membangun kekuatan industri yang berpihak kepada karya original seniman masyarakatnya sendiri .

    Hari ini ..segalanya sudah terbukti , semua yang dikhawatirkan sudah terjadi , wilayah seni yang dahulu berdiri dengan gagah dan independen sekarang jadi pengabdi yang baik , taat dan patuh pada industri asing yang berorientasi koloni .

    Kapan seniman dan musisi Indonesia bisa mengusung kembali kedaulatan berekspresi serta harga diri yang selayaknya didapatkan ? Sebuah pertanyaan yang mustahil dan nonsens untuk dijawab selama tidak ada kesadaran serta sebuah langkah besar yang holistik dari pemerintahnya sendiri agar bangkit melawan sistem ekonomi imperialisme penjajahan gaya baru .

    Bangsa ini masih berjuang merebut kemerdekaan yang hakiki . Tujuh belas agustus ditahun 1945 baru benderanya yang kita kerek berkibar dikaki langit . Manusianya sendiri masih berkubang diberbagai endapan lumpur sambil berjuang menyingkirkan cacing dan lintah yang menggerogoti sekujur tubuh .

    [bersambung]

    Catatan hari-hari yang terekam dalam ingatan saya sepanjang proses rekaman tersebut , juga menggoreskan banyak kenangan yang manis yang tak bisa saya lupakan . Disaat itu jelas saya belum mampu untuk memiliki kendaraan sendiri , biasanya bagian penjemputan dan pengantaran (delevery order..hehe..kaya pizza ) semasa itu adalah kak Imran Amir yang sekarang udah naik pangkat jadi direkturnya prambors sekaligus salah satu pemiliknya . Namun karena rekaman tersebut adalah join produksi antara Prambors dan Aquarius (pramaqua) maka sepertinya dia agak sedikit melepaskan tanggung jawabnya mengantar dan menjemput saya ..semprul tenan.

    Sebagai gantinya maka saya cukup bahagia diboncengin scuter biru oleh Tono Sabastian (alm) yang juga dikenal sebagai penyiar kondang yang suaranya ada setiap iklan-iklan komersial dimasa itu . Setiap rekaman pasti kita singgah disebuah restoran persis dipersimpangan Hayam Wuruk , sebuah restorant semi masakan jepang “Yuki Restaurant” namanya . Hm..nikmatnya bukan kepalang saat habis kepanasan naik scuter lalu menyantap teriyaki diruangan dingin semriwing ber ac.

    Tono Sabastian , pribadi yang sangat menyenangkan sebagai seorang kawan .. selalu punya gagasan yang aneh namun terkadang sering menjadi brilian . Seperti misalnya saat kami menuju studio di bilangan Pluit (Irama Mas std) ketika melewati station kota scuter yang kami naikin berdua berpapasan dengan gerobak sapi lengkap dengan bel besar dilehernya . Bunyinya klonengan .., lalu dia nyeletuk “Jong (baca:djong) .. tuh..klenengan sapi rekam aje’ sekalian ..masukin ke lagu jurang pemisah…katanya.., saya terbahak …namun kemudian saya berpikir serius…, betul! gerobak sapi tersebut bisa mewakili nuansa kesenjangan …pikir saya .

    Maka jadilah suara gerobak sapi hadir dalam lagu Jurang Pemisah seperti yang bisa terdengar sekarang . Demikian juga yang terjadi dengan gambar sampul kaset/cover depan . Saat O’ok atau Suryoko pemilik Aquarius menanyakan konsep design cover , maka dengan entengnya Tono Sabastian menunjuk sebuah poster yang ditempel ditembok diruang kantornya . “Itu aje tuh…sepatu butut..!” cocok sama orang kismin ujarnya becanda.., Saya masih teringat…kita semua ketawa saat ide sepatu butut mau dijadikan gambar bagi cover kaset . Maklum biasanya saat itu cover-cover kaset selalu tampil dengan wajah cantik atau lelaki jaim yang di cakep-cakepin ….. Untuk kesekian kalinya gagasan sablengnya turut mewarnai dan memberi makna bagi hadirnya kaset saya yang pertama . Terima kasih Ton…

    [bersambung]

    Kondisi dan fasilitas rekaman yang jauh dari memadai , bila kita mengacu pada standar yang harus dilengkapi . Saat itu kondisi studio Irama Mas sungguh jauh dari gambaran yang anda sekarang ketahui layaknya sebuah recording studio . Studio tersebut dibangun oleh seorang keturunan Tionghoa yang sungguh teramat baik hatinya , dia bernama Incung . Orangnya agak pendek dengan tubuh yang subur , dengan wajah yang selalu mengumbar senyum yang mengambang disetiap waktu . Dia juga seorang arsitek elektronik yang genius , handal dan pandai .

    Di-studio yang kami sering menjulukinya kandang ayam tersebut (istilah dalam guyonan sehari-hari) dimana sering tampak keluarga tikus berkeliaran lalu-lalang disetiap pojok ruang , disanalah Jurang Pemisah dilahirkan . Dengan fasilitas tape analog 1/4 inch Tascam 4 track , saya harus melakukan bouncing berpuluh-puluh kali untuk mendapatkan satu karakter suara (stacking sound) . Bisa dibayangkan pergumulan kita untuk menghindari noise yang pasti ditimbulkan . Sedangkan mixer yang digunakan adalah mixer dengan kapasitas 8 chanel merek IC , alias Incung Company alias bikinan Incung sendiri . Bentuknya persis mirip panggangan roti , hanya sizenya saja yang gede namun framenya alumunium seperti jenis panggangan yang ada dirumah kita sehari-hari .

    Speakernya Philips 3 ways dengan design box yang juga bikinan ir.Incung sendiri , hebat sekali.. Pendek kata saya sangat menyesal yang tak akan bisa terobati lagi , mengapa nggak terpikir untuk men-dokumentasikan semua kejadian yang pernah terjadi . Gambaran tersebut hanya bisa di-rewind oleh otak saya sendiri atau oleh mereka-mereka yang terlibat dalam proses dijamannya. Oh ya , hampir terlewat …operator saya adalah Teten atau yang dikenal dengan Stanley , dia salah satu operator andalan yang ada disaat itu .

    Begitulah kurang lebih potret jaman yang dapat saya lukiskan melalui artikel ini , bagaimana dan seperti apa serta berbagai hal yang memotivasi lahirnya album saya yang pertama kalinya . Akhirnya saya ucapkan beribu terimakasih kepada semua teman-teman yang masih ada maupun yang telah meninggalkan kita semua , semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas budi baik kalian semua . Dan terimakasih juga yang dengan segala ke-terbatasan saya turut membantu hingga selesainya proses rekaman album tersebut .

    Jurang Pemisah :

    Vocal: Chrisye
    Gitar : Ian Antono
    Drum: Teddy Sujaya & saya sendiri
    Bass: Chrisye
    Piano & synth: saya sendiri
    Lagu: Saya dibantu James F Sundah
    Operator: Teten (Stanley)
    Studio: Irama Mas
    Transport/Akomodasi: Tono Sabastian
    Producer: Pramaqua (Prambors & Aquarius)
    Tahun Produksi : 1977 – 1978

    —->>>>[comment here / Jurang Pemisah]< <<<----

    Jurang Pemisah GodBless [Huma Diatas Bukit] Badai Pasti Berlalu

  2. huma diatas bukit
    Artikel #2

    Huma Diatas Bukit – GodBless

    Itu tahun sekitar bilangan 1975 , adalah masa bersejarah didalam hidup saya . Masa yang crusial bagi saya sebab dimasa itulah awal langkah saya sebagai manusia normal serta sehat jasmaninya dimulai . Lima tahunan sebelumnya adalah masa-masa kelam yang setiap hari harus saya lalui dengan penuh kecemasan dan ketergantungan serta hanya hitungan menit yang tersisa dalam dua puluh empat jam seharinya , untuk bisa berpikir secara waras .

    Memasuki masa itu tidaklah seindah melangkahkan kaki menuju gerbang baru kehidupan. Sebab stigma buruk ternyata tak bisa begitu saja saya tanggalkan . Dia masih lekat menempel dan menjadi gambaran yang masih menakutkan bagi mereka-mereka bila berhadapan dengan saya . Senyum semua orang kepada saya adalah senyum kemunafikan yang ditampilkan dengan kasar .

    Disuatu hari tanpa ada penjelasan komperehensif dan informasi jelas yang dibagikan kepada saya , sebagai pemain keyboard sebuah kelompok musik terkenal saya disibukkan dengan melayani teman-teman lainnya untuk turut membuat aransemen lagu-lagu ciptaan mereka , guna direkam dan diedarkan melalui media kaset .

    Peran serta keterlibatan saya jelas , seolah hanya sebagai pelengkap dari penderitaan saja mengingat stigma yang saya gambarkan diatas sebelumnya tadi . Masih fresh dalam ingatan saya saat saya terkagum-kagum dan memuji-muji kegeniusan seorang teman yang mampu menciptakan alur nada atau progresi chord yang terdengar fantastis dan luar biasa . Saya mainkan nada itu berulang-ulang , saya hayati dia , saya mencari susunan komposisi suara syntheziser yang ‘harus pas’ dan bisa mewakili keagungan nada-nada tersebut agar mengalun bernyanyi.

    Beberapa tahun kemudian , nada-nada yang saya mainkan tersebut justru paradoks , berbalik bagai seorang anak yang dilahirkan namun akhirnya justru menyiksa bahkan ingin membunuh bapaknya sendiri . Sebuah siksaan bathin yang hingga saat ini membuat saya tak mampu menghindar dari keadaan dan berkata apa-apa selain hanya bisa menyesali.

    Betapa tidak bisa dikatakan sebuah penistaan yang luar biasa , jika saya kemudian dianggap copy & paste begitu saja sebuah komposisi utuh dan lengkap dari sebuah group ternama dunia dalam album spektakulernya ‘selling england by the pound’ . Sungguh tamparan yang teramat dahsyat yang terasa menghantam wajah saya , betapa tolol dan dungunya saya yang merasa telah berbuat sesuatu tetapi ternyata adalah keterlibatan saya dalam sebuah pelanggaran dan pencurian hak cipta .

    Alasan yang mampu saya ucapkan adalah ; saya tidak tau , saya tidak pernah mendengar sebelumnya komposisi nada tersebut karena dijaman itu tidak ada video tidak ada tv informasi dunia dan tidak ada kasetnya yang beredar di-masyarakat kita . Selebihnya saya pasrah saja …mau percaya atau mau tidak percaya nyatanya juga bukan otoritas saya untuk melegitimasikan-nya.

    Namun dibalik proses kreatif nada jiplakan tersebut , ada banyak hal yang memperkaya khasanah pikiran saya . Yakni dipertemukannya saya dengan seorang budayawan besar saat itu yang sebelumnya saya nggak pernah mau tau siapa dia . Dia yang secara implisit menanamkan benih-benih ‘matahati pencerahan’ dalam jiwa saya yang kemudian saat saya menuju dewasa benih-benih sensitivitas tersebut tumbuh dengan suburnya dan akhirnya memperkokoh keyakinan saya untuk memandang hidup dan kehidupan ini dengan teropong besar kacamata sosial . Dia adalah Syumandjaya .

    Seorang manusia biasa yang ternyata bukan hanya sekedar mampu menjadi orang yang berprofesi dibelakang kameranya saja atau disebut sutradara , namun juga seorang tokoh yang lebih sering dipandang sebelah mata oleh kondisi politik negara pada saat itu . Dia bercerita banyak pada saya tentang proses belajarnya di Rusia (Uni Soviet) tentang ajaran-ajaran sosialisme modern yang kemudian kita kenal dengan social democratic . Syumandaya , tanpa sadar dia telah menanamkan bibit-bibitnya kemana-mana dan salah satu hasil cangkokannya adalah ‘jalannya cara berpikir saya’

    Dialah sebenarnya tokoh riil yang saya kagumi dan patut saya hormati disepanjang hidup saya , untuk itu setiap kali hadir kerinduan , hanya kepada angin saya bisa berkata : “sampaikan salam hormat saya pada Syumandjaya”

    Selanjutnya proses rekaman musik disebuah studio dibilangan wilayah Hangtuah Kebayoran Baru Jakarta yang dikenal dengan studio Tri Angkasa berlangsung . Studio tersebut adalah design dari seorang engginer audio kita yang bernama Alex Kumara . Dia juga salah satu orang Indonesia yang membuka cakrawala baru dunia per-televisian kita lewat RCTI . Saat ini dia lebih sering ada dimana-mana . (trans / tvri / Anteve dan entah apalagi) Cukup luar biasa perjalanan kariernya , yang dimulai dari menjadi rodies / tukang kabel / tukang solder tukang angkat speaker serta tehnisi band saya , ternyata mampu membuktikan dedikasi profesinya dengan menjadi orang Indonesia pertama yang membuka cakrawala dunia televisi di Indonesia . [anda bisa lihat sosoknya di halaman themes iBadai_Band , saat rombongan jalan bersama paling kanan] atau disini .

    Distudio Tri Angkasa tersebut kami melakukan proses rekaman dari awal hingga selesai .Jelas saya masih buta dan awam mengenai tekhnologi audio saat itu , saya hanya sekedar melihat/mendengar dan mencoba memahami perlahan-lahan ..apa itu mixer apa itu rack effect apa itu studio speaker dan berbagai hal nama-nama ajaib lainnya . Operator yang mengawal rekaman kita adalah Yongkie Mamahit , anak seorang musisi jazz besar Indonesia selain Bubi Chen , dia bernama Nick Mamahit .

    Seperti biasanya rekaman berjalan secara kontinyu setiap harinya , hampir tak ada hal yang luar biasa seperti lazimnya rekaman musik di studio…. hingga suatu hari terjadilah sebuah peristiwa ‘besar’ bagi saya , yang hingga saat ini masih terekam dalam harddisk otak kanan saya .

    Peristiwa besar tersebut adalah ‘raibnya’ minimoog milik group kami yang biasa saya gunakansetiap kami konser/ main dan saat itu diletakkan distudio bagi kepentingan rekaman GodBless . Suasana mendadak menjadi drastis berubah…semua heboh…semua panik.dan semua kalang kabut mencari …, siapa lagi yang tak layak dituding biang keladi kalau bukan si”pembawa stigma”cerita diawal kisah ini?

    Demikianlah kejadiannya (saya masih malas mengisahkan detailnya) , yang pasti sungguh nasib saya saat itu seperti diletakkan ditumpukan kotoran najis yang menjijikkan . Saya di-interogasi tekek polisi (intel istilah saat itu) , saya dibawa berputar-putar dipinggiran kota setiap malamnya sambil di-intimidasi mau ditembak bila tidak mau mengaku mencuri. Kata-kata kotor dan semua kalimat hina-an masuk ke gendang telinga dan terekam lalu tersimpan dengan baik dikepala hingga hari ini , saat saya menulis artilkel ini. Hanya satu hal yang masih tak bisa saya pahami …. siapakah yang merancang cara-cara intimidasi itu ? dan dimanakah teman-teman sesama pemain musik lainnya saat itu? mengapa mereka terkesan membiarkan saya diperlakukan seperti itu? Tak ada satupun dari personel GodBless yang memberikan dukungan moril atapun atensi . Semua lenyap menghilang dari hadapan saya . Saya adalah makhluk nista yang tak patut lagi disapa .

    Ironis….. , disaat saya secara sungguh-sungguh merasa bebas dan merdeka (lepas dari heroin/morphin) , disaat itu juga konsekwensi buruk pada diri saya harus saya terima……., dan…sendiri! tanpa ada satupun orang yang mendampingi disisi saya.

    Apakah saya dendam…? , keterlibatan saya membangun kembali image GodBless ditahun-tahun berikutnya adalah jawabannya .

    Hingga sang waktu terus bergulir membawa saya pada periode album Semut Hitam / Apa Kabar dan yang seharusnya satu lagi yang terakhir..”….” yang mandeg ditengah jalan tak terselesaikan hingga detik ini. Kerja rekaman yang berakhir dengan “kericuhan” tersebut justru malah memunculkan isu baru lagi buat saya . Bahwa saya orang yang keras dan susah kompromi untuk bekerja sama . Lagi-lagi saya harus menerima stigma baru yang juga muncul dalam ujud baru lainnya . Tak ada yang peduli apalagi menengok dari sisi pandang saya ….semua berpaling lagi….termasuk produser dan lainnya . Saya kembali sendirian lagi…hampir serupa seperti dulu .

    Lewat media blog ini kebebasan saya berbicara tak ada satupun orang yang mampu menghalangi dan membendungnya . Bahwa sesungguhnya yang terjadi adalah “kericuhan besar” yang disebabkan salah satu dari kami ber-urusan dengan narkoba , hingga membuat jadwal irama kerja di-studio saya menjadi porak-poranda . Anda mungkin sudah bisa me-ngira-ngira siapakah gerangan orang yang saya maksudkan , orang yang masih ditutup-tutupi . Orang yang dengan segala kepentingannya boleh-boleh saja dan sah meletakkan isu-isu baru diatas pundak saya .

    Saya tak akan mendahului hingga bisa dituduh mem-fitnah jahat semata . Mari kita tunggu dan kita saksikan dengan mata kepala kita masing-masing , siapa yang akan berurusan dengan pihak yang berwajib setelah kasus Roy Martin / Fariz RM dan lainnya . Atau mungkin bisa saja dia akan bebas lolos selamanya ……, bukan urusan saya .

    Huma diatas bukit , bagi saya dia bukanlah sebuah karya yang bisa dibanggakan namun Huma diatas bukit bisa menjadi begitu terhormat saya letakkan diatas kepala saya karena kehadiran tokoh pencipta gagasannya .

    Sekali lagi hormat saya pada Alm. Syumandjaya,”ayo bung”….; demikian sapaan saat menyapa saya .

    (….masih hening … sepi .. mencekam .. sebab hawa jahat masih berkeliaran dimana-mana )

    Huma diatas bukit

    vocal : Achmad Albar
    Gitar : Ian Antono
    Bass: Donny Fatah
    Drum: Teddy Sujaya
    Keyboard: saya sendiri
    Manager: Yoyong
    Cukong: Akwang (Go-jin Mata_Elang)
    Produser: Aquarius
    Tahun produksi : 1974-1975

    —->>>>[Comment here / GodBless]< <<<----

    Jurang Pemisah GodBless [Huma Diatas Bukit] Badai Pasti Berlalu

  3. bpb

    BADAI PASTI BERLALU

    Siang hari itu saat saya sibuk sendiri dirumah menata peralatan stereo set Nakamichi kebanggaan saya dengan settingan power Marantz / EQ Soundcraft 16 band Stereo dan speaker KLH2+module analog bass computer yang tingkat tehnologinya untuk jaman itu sudah tergolong ‘wah’ .

    Muncul diruangan saya Chrisye sambil seperti biasanya cengar-cengir dan bersendau gurau dan juga seperti biasa :“peace man..” sambil telunjuk dua jarinya diangkat keatas .

    Dia datang tidak sendiri namun bersama Eros (sekarang double ‘r’) ya.Erros Djarot , seorang penyanyi yang saya juga sudah tau lewat Barongs Band nya tapi jujur saja , saya belum kenal bener . Lalu Chrisye memperkenalkan saya dengan dia sebelum akhirnya kita ngobrol -ngobrol lebih jauh lagi .

    Ruangan saya adalah sebuah ruangan 6 X 6 meter yang di isi oleh berbagai sarana kebutuhan saya dari mulai Piano akustik grand sampai stereo set tadi . Lalu dihubungkan dengan dua buah pintu masing-masing kekamar tidur saya dan satunya lagi ke ruang utama keluarga . Dan ada satu lagi pintu kearah luar rumah (keluar lewat samping).

    Chrisye mengatakan pada saya bahwa Erros dan dia sedang merencanakan untuk mengerjakan sebuah ilustrasi musik bagi film berjudul sama seperti artikel diatas . Dan pada intinya mereka mengajak saya agar mau bergabung bersama (bertiga)

    Mengingat saya memang semenjak itu selalu bersama Chrisye dalam bermusik maka tentu tawaran tersebut saya sambut oke-oke saja. Saya juga secara terang-terangan mengatakan nggak usah ngomongin duit kalau mau bermusik ..yang penting happy hehe..

    Dan memang ternyata dugaan saya ada benarnya juga , memang nggak ada duitnya..alias kerja bakti dan malah kadang kita bertiga harus nombok sendiri.

    Lalu hari-hari berikutnya mereka berdua kerap kali datang untuk membahas notasi serta aransemen musik yang saya persiapkan. Seperti biasa Erros Djarot kalau lagi mengarang seperti orang kesurupan .. bernyanyi seenak perutnya sendiri dengan bahasa planet yang nggak jelas ditambah lagi gaya gemulai tangannya yang seperti anak-anak kecil sedang lomba deklamasi .

    Saya harus mengikuti running note yang keluar secara spontanitas dari mulutnya tersebut , saya harus menghitung sendiri dia sedang bermain di 4/4 bar atau 2/4 bar , yang kadang membingungkan adalah ketidak konsistensinya dia bernyanyi hehe . Tadi dia 2/4 …tiba tiba sekarang berubah jadi 3/4 ..Kalau sudah begitu biasanya Chrisye yang menengahi atau menjadi jurinya . Kalau nggak bisa nggak abis-abis dan semakin nggak jelas maunya apa.

    Kadang saya potong konsentrasi dia yang sedang seperti orang mabuk tersebut..[piano saya hentikan] lalu akan terdengar dia berteriak ” sialaaannn…eluu..!” kaget, hehe gayanya kayak orang dibangunin dari mimpi yang keenakan .. selanjutnya kita bertiga tertawa terbahak-bahak bersama .

    Kadang ngeselin juga ..sewaktu saya sedang asik-asiknya mencari formula chord (full konsentrasi) tiba-tiba tangannya menepak jari jari saya sambil sok tau ngomong “jari yang kelingking ini nggak usah dibunyiin aja..” .
    Gayanya itu lhoo..yang ngeselin , ngomongnya dengan serius sementara jari tangannya menahan kelingking saya yang sedang diposisi diatas tuts piano (anda kebayang kan?)

    Ya itulah Erros Djarot..“abis gw nggak tau namanya itu chord apa…yang gw tau bunyinya begitu lhooo..” itu..itu melulu dalilnya..hehe

    Begitulah proses awal membuat ilustrasi musik bagi sebuah film dengan judul Badai Pasti Berlalu .

    PROSES KREATIF KOMPISISI MELODY

    Secara garis besar ide atau benang merah lagu demi lagu memang sudah terbentuk berdasarkan kesinambungan atau continuity yang dibutuhkan gambar bagi sebuah alur cerita film itu sendiri. Dan Erros sudah memastikan garis besar thema melody tersebut. Saya disana berfungsi untuk mengkoreksi terjalnya tanjakan note yang kadang-kadang mustahil untuk dijangkau maklum dia kalau lagi bikin lagu suka nggak kira-kira hehe.

    Saya juga menawarkan berbagai modulasi nada agar bisa memperkaya suasana yang ingin dicapai , sementara Chrisye dengan tekun mencoba meng-aktualisasikan gagasan-gagasan yang sedang saya rancang berdua Erros . Surprise bila ternyata setelah keluar dari suara seorang Chrisye nada-nada tersebut menjadi sangat kaya namun juga bukan tidak jarang Chrisye sering merasa tercekik dan protes karena nafasnya dianggap bukan nafas manusia “gile’..lu” , gitu kira-kira celetuknya sedikit ngos-ngos’an .

    Kemudian berkembanglah rencana dari sekedar untuk ilustrasi film menjadi kerja menyelam sambil minum air . Artinya biaya rekamannya dimodalin sama bung Steve (Teguh Karya) sementara kita di studio juga setengah-setengah nyolong waktu untuk bikin rekaman kasetnya.

    Hanya sampai disitulah persiapan yang diperlukan bagi rekaman musik atau lagu pada saat itu . Masalah lain-lain mengenai teknis recording dan pemain pendukungnya biasanya dilakukan sambil jalan pada saat sudah berada di studio . Sebuah paradigma proses rekaman jaman dulu , dimana “mood” atau feeling sangat menentukan dan memegang peranan penting . Bukan hanya untuk sebatas di wilayah estetika seninya saja , namun pengaruh suasana pribadi atau pergaulan serta lingkungan turut menentukan kualitas hasilnya .

    Disitulah juga repotnya , seringkali proses kerja kreatif terganggu oleh berbagai hal yang nilai subyektivitasnya tinggi . Karena itu pula pada saat itu saya sangat memahami pentingnya pergaulan kesenian sebab dia mirip dengan sebuah ikatan batin dalam sebuah perkawinan . Karena itu pula paradigma bekerja dengan cara serupa hanya bisa dilakukan pada saat masing-masing dari kita masih relatif muda dan belum punya tangung jawab sebesar tanggung jawab orang yang sudah berkeluarga.

    Kita bisa saja bebas nggak pulang kerumah atau nongkrong di PIT_STOP semaleman hehe (Pitstop itu disco jadul) di Hotel Sari Pasific. Jaman dulu mah kagak ada yang namanya cafe’ seperti di Kemang sekarang …ada juga cafetaria atau kantin tempat makan orang kantoran.hehe

    PROSES ARANSEMEN DAN REKAMAN

    Beberapa hari setelah segala persiapan di rumah saya tersebut , seperti biasa setiap paginya kita selalu bertegur sapa dengan In Cung lagi , yang wajahnya seperti boneka imut lugu dan lucu ..hehe dia adalah pemilik studio Irama Mas di Pluit , studio dimana saya selalu merekam musik-musik saya . (murah dan kooperatif walau emang sumpek juga std.nya) maklum saat itu sulit dibedakan antara studio dengan kandang .

    Hari hari pertama sayalah yang lebih sering menggunakan jadwal rekaman tersebut , biasanya dari jam.10.00 pagi sampai 17.00 menjelang sore . Saya menggunakan piano upstairs merk Kawai untuk memulai menata aransemen lagu demi lagu . Dengan berkawan bunyi ‘tik-tok-tik-tok’ dari headphone yang asalnya dari sebuah metronome yang dikendalikan oleh Erros diruang operator , saya mulai mengarang intro – songs – sampai coda .
    Ada catatan yang berkesan dalam pelaksanaan diawal-awal tersebut yaitu;

    Misalnya terjadi pada lagu Pelangi . Kita sepakat men-generate metronome dengan tempo 080 misalnya , maka intro yang saya mainkan di piano sesuai dengan speed tempo yang terdengar di telinga . Tempo tersebut biasanya bertahan sampai verse 1 saja setelah itu Erros akan menaikkan speednya menjadi 082 . Menjelang reffrein hingga akhir reffrein speed bertambah lagi hingga 088 . Hal tersebut kita lakukan agar perjalanan alur nafas lagu menjadi tetap menusiawi dan natural . Anda bisa mendengarkan lagi dengan seksama sekarang ini , bahwa dalam setiap lagu tidak ada yang tempo atau speednya yang sama seperti kerja sebuah mesin layaknya. Karena memang yang rekaman bukan mesin ..hehehe

    Yang menyebalkan adalah kalau tiba-tiba Erros sebagai pemicu tempo metronome tersebut “stokun” alias “kipak” alias seenaknya saja menaikkan dan menurunkan tempo yang membuat saya kelabakan me-maintainance irama jari tangan diatas piano . Kalau sudah dalam kondisi serupa biasanya saya berteriak keras lalu berhenti .. “HHoooiii….. temponya… KIPAKK..!” hehe.., dia mah cengengesan aja berdua Teten si operatornya . Sementara saya terpaksa harus mengulang dari awal intro lagi ..sapi dah!

    Belum lagi kalau mengingat bahwa sambil memainkan metronome dia juga sambil menyanyikan guide lagunya dengan lirik yang asal sekenanya saja …semuanya itu di headphone saya terdengar rame’ nggak keruanan , … udah berisik tik-tok-tik-tok , plus suara orang nyanyi yang kagak jelas , yang sering out of tune , tempo yang juga harus saya cermati terus…. , belum lagi konsentrasi saya pada pikiran saya sendiri untuk membangun aransemen dan sebagainya ….. puyeng!
    Masih mending kalau pas ada Chrisye yang menemani menyanyikan guidenya… ini mah..ibarat dengerin suara ken arok lagi kasmaran…hehhe. (sori bos) Chrisye sendiri biasanya baru dateng setelah diatas jam.12.00 siang….maklummm baru bangun , almarhum adalah mahkluk yang hidup di malam hari semasa mudanya .

    Setelah sebuah lagu selesai saya rekam (piano) maka selanjutnya adalah proses pengisian track drum sebelum akhirnya guitar bass bisa direkam . Seperti biasanya “john lennon” hehehe..kami biasa menyebut diri kita sendiri-sendiri dengan sebutan John Lennon , mungkin karena kita semua saat itu keranjingan sama tokoh yang namanya John Lennon . Jadi sah-sah saja menyebut demikian…bukan sok tau atau mau mengaku-ngaku dan sebagainya , lebih kepada guyonan lah..istilahnya.

    Karena duit memang super cekak dan memang harus pengiritan abis maka John-yockie-Lennon lah yang dengan berani dan gagahnya memasuki ruang drum tersebut hehe…*yang lainnya kagak ada yang bisa soalnya..* Selanjutnya terdengarlah suara irama drum yang njot’njot’an dilagu Merepih Alam / Baju Pengantin .

    Barulah setelah itu beberapa hari berikutnya terpaksa memanggil Fariz RM dan meminta bantuannya..sebab John-yockie-Lennon nggak sanggup main lagu-lagu dengan beat yang lebih kompleks seperti Serasa dan lainnya.

    Secara praktis musisi yang terlibat kerja di studio tersebut hanyalah Fariz RM sementara Keenan Nasution dan Debby serta Odink Nasution karyanya hadir lewat rekaman yang sudah jadi berbentuk pita 1/4 inch minus one hasil kerja mereka sebelumnya bersama Erros di film Perkawinan dalam semusim yang juga garapan Teguh Karya .

    Setelah semua musik dasar (piano/drum dan bass) terekam diatas magnetic tape 1 inch dan hanya berkapasitas 8 track , maka kita harus menunggu proses bouncing atau penggabungan track yang dilakukan oleh Teten (operator) . Secara jelasnya adalah sebagai berikut :

    Drum yang tadinya mengunakan 4 track (hehe.aneh ya dijaman dulu..drum hanya 4 track) Kick = 1 , snare = 1, selanjutnya hat/symbals/toms sudah digabung menjadi 2 track disaat saat awal merekamnya. Artinya kalau ada yang kekencengan balance nya ya….wallahuaalmmmm..terima nasib.

    Akhirnya Drum menjadi 2 track (stereo) , bass 1 track , piano 1 track (mono) semuanya total = 4 track . Maka dari fasilitas tape multytrack yang 8 track hanya tinggal 4 track berikutnya yang available dan untuk bisa di isi keyboard , vocal dan sebagainya . Bisa dibayangkan tingkat kesulitan seorang operator untuk me-manage kebutuhan yang harus direkam bagi keseluruhan lagu pada album BPB seperti yang sekarang bisa kita dengar tersebut . (salut buat pak Teten)

    Sedangkan saya saja melakukan dubb / layering keyboard lebih dari lima instrumen seperti “solina strings/rolland sh2000/rolland sh5/minimoog/lawrey organ dan hohner. Betapa peliknya menumpuk numpuk audio atau suara tanpa bisa di ‘undo’ lagi . Bandingkan dengan fasilitas rekaman diatas media digital saat ini yang tak terbatas berapa keinginan track yang akan dibutuhkan , serta kemampuan untuk me-restore atau undo bila diperlukan .

    Kita atau musisi masa itu bila merekam sebuah lagu akan dimulai dari hitungan/count awal hingga selesai seluruhnya/coda tanpa berhenti ditengah-tengah. Kalaupun kita salah dalam memainkannya maka kita cenderung untuk mengulangnya dari awal lagi. Mengapa demikian ? ada beberapa faktor yang menurut saya bisa dijadikan alasan atau argumentasinya .

    Pertama , lagu atau aransemen musik di dekade sampai 80’an adalah sebuah proses perjalanan ceritera yang linier . Intro / interlude atau coda adalah bagian penting dari pesan melody dan pesan lirik yang hendak disampaikan . Dia menjadi sebuah kesatuan emosi yang tak bisa dipisahkan . Agar seorang musisi terasa terlibat dalam persoalan sebuah lagu maka dia harus membangun kebersamaan “rasa” dari semenjak awal intro dimulai . Tidak mungkin itu didapatkan langsung dengan seolah meloncat ke urutan tengah-tengahnya saja . Dia akan menjadi lepas dari persoalan emosi lagu yang ingin dilibati-nya .

    Kedua , musisi yang bersangkutan akan cenderung merasa “cemen” kalau nggak mampu memainkan ulang dengan standar kualitas yang sama . Ada kesan yang muncul bahwa rekaman dan live konser sesungguhnya hampir nggak ada bedanya untuk harus bisa dipertangung jawabkan.

    Memang berbeda dengan kondisi dan fasilitas yang ada pada system digital sekarang , saat ini sebuah lagu memang tidak harus linier lagi . Dia bisa saja langsung ke titik permasalahan tanpa melalui basa-basi atau ungah-ungguh , karena jaman juga menuntut perilaku yang serupa. Saya sering meng-analogikan dengan pola hidup kita yang sekarang jelas sudah berbeda .

    Dahulu setiap kita bangun pagi secara otomatis akan disodori oleh rutinitas yang baku , misalnya gosok gigi dulu lalu baru minum teh atau kopi , memotong bawang merah dulu lalu digoreng lalu dicampur bumbu dan di aduk-aduk nasi atau mie barulah kemudian dihidangkan dalam bentuk nasi goreng atau mie goreng . Selanjutnya barulah kita melakukan kewajiban rutin kita , entah sekolah ataupun bekerja di kantor.

    Sekarang rasanya sudah tidak harus begitu lagi , selain mandi gaya cowboy juga sudah umum dan biasa , demikian juga mempersiapkan sarapan pagi dan lain-lainnya . Semuanya bisa didapat secara instan , cepat dan menjadi praktis . Prosedur hidup yang biasanya dijalani dari semenjak pagi hari hingga malam hari sudah jauh berbeda dan sama sekali tidak sama .

    Manusia seolah sudah mulai mengingkari naluri serta sifat-sifatnya yang manusiawi….?
    Yang linier…seperti mulai terbitnya matahari di ufuk sebuah pagi hingga tenggelam di senja malam , lalu disambut dengan munculnya rembulan dan seterusnya….?

    Saya nggak tau juga , saya tidak berhak mengatakannya hingga sedemikian rupa…
    (walau kadang hati kecil berbisik seperti itu)
    Namun adakah bedanya bagi kehidupan saya apabila saya menolaknya….?

    Oleh karena itu pula saya bisa memahami mengapa perilaku berekspresi dalam musik di jaman inipun menjadi sedemikian rupa , ya karena memang perilaku didalam hidup kita sudah serupa …

    Kembali ke masalah paradigma rekaman jaman dulu , saat itu kemampuan atau skill seorang pemain musik sungguh memegang peranan penting untuk menghasilkan sebuah hasil rekaman yang baik. Sebab apabila yang bersangkutan sering melakukan kesalahan hingga harus sering di ulang-ulang (re-take) maka konsekwensinya adalah pita magnetic tape yang semakin menipis (aus) tergesek oleh magnit head nya , sehingga akhirnya menghasilkan desis atau noise yang tinggi . Karena itu seseorang yang mau rekaman harus mempersiapkan kemampuannya semaksimal mungkin pada saat mau ‘take’ .
    Lagi-lagi berbeda dengan tehnologi digital yang menawarkan tools nya seolah seperti mesin jahit yang siap pakai 24 jam , tanpa ada resiko serupa meskipun diulang-ulang sampai jontor sendiri hehehe..

    Akibat dari ‘jasa’ tehnologi tersebut maka saat ini siapapun bisa menjahit sebuah lagu atau bahkan membuat aransemen musik kilat tanpa perlu belajar secara teoritis dahulu . Persis seperti ditemukannya “windows” yang membuat orang menjadi cepat familiar/akrab karena hanya tinggal klik mouse geser sana , geser sini atau bahkan copy and paste .

    Apalagi fasilitas software seperti auto tunning atau melodyneUno dimana orang yang asal nyanyi meskipun suaranya ngalor ngidul tetap bisa di edit hingga 100% absolute pitch alias nggak sumbang sama sekali , tapi ya itu….”wagu” . Persis seperti wagunya lagu yang sebagian besar dinyanyikan anak-anak sekarang yang ujug-ujug jadi beken tanpa proses. Ya karena itu….., bahkan istri saya yang awam sekalipun mungkin bisa ngomong “suaranya bagus ya ..nafasnya panjang dan nggak fals…hehehe..” . Orang awam bisa mengatakan begitu .., tetapi kuping studio akan dengan jelas menangkap bunyi freqwensi 1 khz yang tiba-tiba bergeser kesana-kemari . Apalagi namanya kalau bukan hasil muslihat software .

    Namun semuanya itu tersamar oleh sistem publikasi yang gencar dari industri yang bersangkutan . Orang dibuat untuk tidak terlalu fokus mengapresiasi ‘soul’ si penyanyi , namun diarahkan untuk melihat penampilan fisik serta lirik dan lagu menawarkan mimpi indah.

    Dan saat ini saya sendiri juga sering terkagum-kagum oleh hasil rekaman anak saya dikamarnya sendiri dengan menggunakan komputernya. Koq sepertinya semudah itu dalam waktu yang relatif singkat dia bisa bikin lagu plus aransemennya . Bahkan semalam saya mendengar dari balik pintunya dia lagi belajar menirukan specnya steve vai..luar biasa anak sekarang , begitu gampangnya mereka pikir menjadi seseorang seperti ‘vai’ .

    Tentu saja karena dia adalah anak saya maka meluncurlah nasehat-nasehat yang saya anggap penting untuk diketahui olehnya , boleh niru asal dijadikan pedoman untuk menemukan cara berekspresi diri sendiri , kurang lebih begitulah bunyinya . Tapi bagaimana dengan anak-anak muda lainnya yang tersebar di seantero wilayah Indonesia …adakah yang menasehati mereka ..hehehe…nggak janji deh., tapi ya semoga saja ada ,…yang pasti tidak semua anak muda kita asal n’jeplak saja . HAnya saja…lagi-lagi mereka jauh dari katagori anak muda yang layak difasilitasi …, memang kampreett juga yang namanya industri . Kalau sudah meledak ledak dan laku baru ber-ulah seolah berperan menyokong idealisnya musisi …preett lagi!

    Jadwal berikut setelah musik dasar dan rythm basic (pad) siap , maka sampailah pada tahap yang sangat menentukan yaitu take Vocal . Chrisye menyanyikan ulang beberapa lagu yang tadinya dipersiapkan bagi film BPB yang tadinya sudah dinyanyikan oleh Broery Pesolima yakni : Baju Pengantin , Merpati Putih dan menyanyikan satu demi satu lagu lainnya demikian juga Berlian Hutauruk . Hebat memang.. mereka berdua saat itu , hampir tak ada pengulangan ‘retake’ berkali-kali yang melelahkan . Semua lagu disantap seolah sedemikian mudahnya .., berbeda waktu saya mendengar contoh guidenya yang disenandungkan ken arok kasmaran sebelumnya ….hehehee (sori lagi bos)

    Ada catatan kecil yang sempat saya tangkap dibalik rekaman Badai Pasti Berlalu , yakni ketika untuk kebutuhan sebuah film lagu Badai dan Matahari dinyanyikan oleh Berlian Hutauruk . Kita semua yang berproses di studio tentunya berasumsi bahwa suara Berlian itu sangat inspiratif bahkan membangkitkan nuansa klasikal yang chemistry dengan nuansa aransemen yang saya bangun. Dengan kata lain kita semuanya menjadi terkagum-kagum dan amat terpukau karenanya.

    Namun rupanya tidaklah demikian dalam pemahaman seorang Teguh Karya sewaktu dia membayangkan suara perempuan sebagai hiasan latar atau backsound bagi kebutuhan gambarnya . Mungkin asumsinya adalah suara seperti Tetty Kadi atau Arie Kusmiran atau penyanyi-penyanyi pop perempuan yang pada saat itu menjadi suara idaman . Bukan suara sopran seperti Berlian.

    Maka ketika dia diperdengarkan contoh lagunya oleh Erros Djarot , saya mendengar cerita dari Erros sendiri bahwa bung Steve mencak-mencak…“suara apa’an ini…kaya kuntilanak..!” gitu kata Erros lho..(saya nggak ngarang..nggak tau kalau mas Erros sendiri yang ngarang…hehe…maklum namanya juga pengarang..)
    Tambahnya lagi katanya sempat ada ketegangan antara dia dengan Teguh Karya , sampai-sampai mas Erros mengancam..“kalau nggak setuju dengan konsep ini…ya..batalin aja semuanya…” gitu katanya . Ini Erros Djarot yang cerita pada saya lho…saya juga nggak ngarang-ngarang lagi …nggak tau kalau dianya yang ngarang..hehe ..

    Selebihnya rekaman suara atau vocal bagi kebutuhan kaset akhirnya kita anggap tuntas dengan pengertian sangat memuaskan semuanya . Dan juga jangan dilupakan peranan In Cung yang walaupun cuman mondar-mandir keluar masuk studio melongok sebentaran ..namun kadang memberi masukan berupa celetukan-celetukan …seperti “asikk tuh…” atau “nggak enak tuh.bagusan yang kayak kemaren…”

    FINAL DAN MARKETING

    Maka setelah rampung semua hingga mixdown dan sebagainya , hari-hari terakhir adalah ngobrolnya kita di studio tersebut untuk memutuskan nasibnya , mau diapain ini master . Sebab dari hasil penjajakan yang dilakukan Erros ke hampir seluruh distributor atau produser (istilah pada saat itu) tidak ada satupun perusahaan / industri kaset yang berminat . Saya sendiri tidak terlibat dalam berbagai proses marketingnya sehingga saya juga nggak begitu paham tentang apa kendalanya .

    Ataukah sistem marketing atau PR yang harusnya dimiliki namun kita tidak punya , atau memang mereka nggak doyan dengan lagu serta musiknya . Sepertinya hal yang kedua yang terjadi pada saat itu .

    Sedangkan saat itu Erros harus segera kembali berangkat ke Inggris untuk menyelesaikan studynya . Waktu hanya tinggal hitungan hari hingga harus sampai pada keputusan yang final.

    Maka disebuah meja makan di studio Irama Mas kita bertiga duduk dengan disaksikan oleh In Cung sebagai pemilik studionya.
    Erros mengeluarkan isi kantongnya setumpuk uang keatas meja . Jumlahnya tidak lebih dari bilangan angka dua juta . Sedangkan studio juga harus dibayar dan dilunasi sementara dia sendiri harus beli ticket pesawat untuk pergi ke Inggris beberapa hari lagi.

    Saya dan Chrisye berpandang-pandangan terbengong-bengong nggak tau harus ngapain . Bukan mau minta honor apalagi nuntut macam-macam , sebab dari awal mula memang saya sudah sepakat nggak usah mikirin duit …yang penting happy. Namun kita bingung sebab nggak bisa berbuat apa-apa untuk menolong keadaan .

    Maka In Cung dan Erros mengeluarkan sebuah kertas segel bermaterai untuk kita tanda tangani bersama . Yang isinya kurang lebih berbunyi : master tersebut akan di titip jualkan ditoko In Cung (distributor lagu-lagu dangdut dan Klenengan / tradisional)
    Setelah ada hasil penjualan baru kemudian disisihkan untuk dipotong sebagai biaya menggunakan studionya .

    Saya sendiri dan Chrisye (saya masih ingat) menerima masing-masing kira-kira dua ratus lima puluh ribuan yang diambil dari uang senilai dua juta tadi . Selebihnya adalah untuk membayar operator (Teten) dan biaya membeli ticke pesawat terbang .

    Juga didalam nota kertas segel bermaterai tersebut , saya dan Chrisye masing-masing menanda-tangani kesepakatan atas hak royalti sebesar masing-masing dua puluh lima perak bila penjualan mencapai target bilangan impas atau break even point . Yang saya sendiri juga nggak tau berapa jumlah bilangan BEP tersebut .

    Maka dalam perjalanan sejarahnya , setelah mengalami masa ketegangan / persengketaan di pengadilan antara Erros Djarot dan Berlian Hutauruk . Beberapa tahun kemudian didalam sebuah kendaraan Holden coklat milik Chrisye saat saya sedang bersamanya mengerjakan album Sabda Alam di Musica studio . Almarhum Chrisye pernah berkata pada saya “sudah ada tuh yock…bagian elu ditangan In cung…sedikit sih..tapi lumayan buat beli-beli rokok..” demikian katanya .

    Saya jawab “..hehe..ntar-ntar aja deh Chris..kalau udah bisa buat beli rumah ..gw ambil..” itu guyonan saya . Rokok saya pada saat itu Benson & Hedges dan harganya sebungkus masih berkisar sekitar rp.1500 perakan .

    Tahun-tahun berikutnya .. ada sebuah saat dimana saya membutuhkan kepastian tersebut…, maka saya hubungi In Cung yang menurut Chrisye ada sesuatu yang dititipkan bagi hak saya . Dan tanpa saya duga jawabannya “lhoo…kan sudah diambil alih sama Erros dan Chrisye lagi semuanya yock…bahkan kontraknya kan sudah diperbaharui semenjak ada kasus persengketaan di pengadilan .”

    Semenjak itu Badai Pasti Berlalu menjadi “case closed” bagi saya . Saya merasa tak ingin ribut-ribut memperkeruh suasana pergaulan kreatif yang ada diantara sesama kita . Biarlah yang bukan rejeki saya memang tidak harus sampai ke tangan saya. Banyak orang mengatakan, entah itu isu atau entah itu propaganda bahwa BPB sudah menembus bilangan angka penjualan melampui juta-juta banyaknya . Amien…saya turut bersyukur .

    Hanya saja saat lagu-lagu tersebut di release ulang …tak dapat saya pungkiri ada rasa pedih yang mengiris hati saya .
    Mereka sama sekali tidak pernah mencoba untuk menghargai siapa-siapa yang turut merancang dan membidani kelahirannya .
    Namun itulah hidup , tak ada bedanya bahagia dan kecewa menangis atau tertawa.

    Terimakasih juga saya ucapkan bagi majalah Rolling Stones Indonesia yang telah mengapresiasi album tersebut dan menempatkan-nya secara terhormat . Membuat saya sedikit banyak turut merasa bahagia dan tersanjung .

    salam ,

    Yockie Suryo Prayogo.
    “Badai Sudah Berlalu.”

    “LINK”
    [>>>>comment here / Badai Pasti Berlalu< <<<<]

    Jurang Pemisah GodBless [Huma Diatas Bukit] Badai Pasti Berlalu

  4. lepaskan
    “Bagai bayi yang keguguran..”

    Judul sebuah lagu : Lepaskanlah..[keterbatasan]

    Disuatu ketika kami berempat berencana untuk kembali melanjutkan proses kreativitas rekaman (studio) tanpa tergantung dengan salah satu personil yang kebetulan sedang berpolemik dengan Label (produser) yang menangani group. Proses tersebut lebih didorong oleh semangat “berkarya” yang tidak boleh terhenti hanya gara-gara satu orang saja diantara kami berlima sedang bermasalah.

    Kurang beruntungnya adalah bahwa , “salah satu” tersebut bukannya pemain yang bisa digantikan secara begitu saja (kendala tehnis) , namun justru personil yang menjadi “icon” keberadaan group. Yaitu sang penyanyinya > Achmad Albar

    Maka dengan harapan agar persoalan antar mereka (sang penyanyi dengan produser) bisa diselesaikan secara baik-baik….maka kami berempat berinisyatif untuk tidak menunggu dalam kegamangan situasi yang semakin membingungkan. Kami bertiga (saya , Donny dan Eet) mulai bekerja merekam lagu-lagu baru di Gins Studio…, lagu inilah salah satu “contoh guide lagu” yang terekam di kaset (dokumentasi saya) selanjutnya lagu2 yang lainnya entah ada dimana saya tidak tau…:(

    Dalam perjalanannya , beberapa hari kemudian….sang penyanyi kemudian bisa sepakat lagi dengan label (produser) dan bersedia melakukan kerja sama kembali dengan satu kondisi persyaratan . Yaitu mengajak gitaris lama group kami untuk bergabung lagi bersama-sama…,jadi praktis ada dua gitaris dalam satu kelompok.

    Saya secara pribadi tidak ada masalah dengan hal tersebut sejauh proses berkarya bisa dijalani secara baik dan bersama , namun saya katakan bahwa itu semua tergantung dari kerendahan hati seorang Eet Syahranie untuk mau menerima keadaan …adanya dua gitaris dalam satu group.

    Eet Syahrani sendiri pada awalnya sudah menyatakan ingin mengundurkan diri dan mempersilahkan “seniornya” untuk kembali menduduki tempatnya semula . Dengan segala kerendahan dan keikhlasan dia menyadari bahwa “group” kami adalah “idola” nya ketika dia masih remaja di kota Banjarmasin . Oleh karena itu pula dia akan merasa terhormat bila sang “senior” bisa kembali lewat perjalanan hidupnya yang dulu sebagai penggemar , kemudian tanpa bermimpi mampu sebagai pemain utamanya.

    Tetapi saya bersama teman-teman yang lain tidak sepakat dengan keputusannya , bagi saya lebih baik tidak usah diteruskan sama sekali jika harus mengorbankan yang sudah ada. Maka akhirnya dicapailah kesepakatan bahwa Eet Syahranie lebih berfungsi sebagai Rythm section dan “sang senior” sebagai Lead guitarnya. YA…dialah Ian Antono yang kemudian bergabung lagi bersama kami di Godbless dalam album “Apa Kabar”

    Dan ternyata memang benar dugaan Eet Syahranie semula , bahwa dua gitaris bisa menjadi “mubazir” . Menurut saya…demikianlah nyatanya … apa boleh buat , hidup harus dijalani bukan? Kita hanya akan tahu hasil yang kita kerjakan hari ini untuk bisa dilihat dampaknya kelak di kemudian hari , apakah itu mendulang manfaat atau bahkan sebaliknya .

    salam.


    Lepaskan [Keterbatasan]
    jsop -Donny Fatah-Eet Syahranie

    Selamat tinggal kawan
    Kuharus pergi teman
    Hidup ternyata sendirian

    Jabat tangan dengan erat
    Lalu lepas ikatan
    Bebas ikuti nyanyian hati

    Jangan katakan berat
    Usah menghitung beban
    Sebab inilah kenyataan

    Dalam kesendirian
    Ingin kulihat hidup dengan jernih
    Dalam kesendirian
    Hidup apa adanya
    Bukan menuruti hasrat mereka

    Lepaskanlah…Keterbatasan
    Biar saja…Kita saling menentukan
    Kepak..kepak kan sayap sayap kita..
    Kemana keinginan melayang..

    Kesendirian adalah kebebasan
    Untuk menentukan kehendak langkah

    [>>>>COMMENT HERE “LEPASKAN”< <<<]

  5. kantata

    KANTATA TAKWA [bagian l]

    Sejarah lahirnya Kantata.

    Kantata Takwa , begitu panjang kisahnya yang bisa saya tulis mengenai kelompok musik tersebut. Karena itu pula saya terpaksa harus membagi-bagi tulisan Kantata dengan versi 1- 2 -3 dan selanjutnya nanti.

    Pada bagian ini saya hanya akan mengungkapkan kisah perkenalan saya dengan mas Djody hingga terbentuknya kesepakatan kelompok kerja kesenian tersebut , yang akhirnya disebut Kantata Takwa.

    Pada tahun 1989 , saat itu saya sedang gencar melakukan promo tour bersama kelompok Godbless bagi album kami yang bertajuk ”Semut Hitam”. Saat itu saya masih tinggal di sebuah rumah (kontrakan) di daerah Kebon Jeruk , tepatnya di-jalan Anggrek no.52 Kelapa Dua Kebon Jeruk-Jakarta Barat .

    Disela-sela kegiatan tour , saat sedang istirahat (jadwal kosong) kami semua selalu pulang kembali ke Jakarta . Suatu hari saya ditelpon oleh Jelly Tobing (drummer) mengajak saya untuk menemani dia berhura-hura (jam-session’an) main musik dirumah seorang kenalannya . Tidak ada target atau tujuan jangka panjang tertentu selain hanya untuk ”bersuka-cita” , bermusik sekedar hepi2an mengisi waktu yang luang saja . Temannya tersebut adalah pe-hobbi musik yang punya fasilitas latihan / nge-band dirumahnya . Lazimnya orang tajir-lah …intinya ..:)

    Saya sendiri setelah diberitahu oleh Jelly Tobing , bahwa orang tajir tersebut namanya Setiawan Djody rasanya sudah tidak asing terdengar dikuping saya . Siapa sih yang nggak kenal dia saat itu… , maksudnya di lingkungan teman-teman lama saya (di tahun 1970’an) yang saat itu banyak berkecimpung di ranah bisnis “puncak gunung” , nama Setiawan Djody adalah jaminan kertas bernilai yang nggak ber-seri istilahnya hehehe..(sumpah ngga ngaruh..,saya nggak matre’..!)

    Kebetulan juga tempat tinggalnya di wilayah Kemanggisan Raya – Kebon Jeruk , yang notabene tidak berapa jauh dari rumah kontrakkan saya sendiri. (10 kilometer-an lah kira-kira jaraknya) Maka disuatu hari Minggu , melalui telpon setelah janjian sama Jelly Tobing saya bersedia dateng ke alamat tersebut…ber “jreng-jreng” ria.

    Singkat kata kemudian saya menelusuri jalan Kemanggisan raya yang “krodit” penuh dengan oplet dan pedagang kaki lima di-kanan kirinya. Saya mencari-cari nomer rumah yang diberikan pada saya……..fuih..! nggak keliatan jek! Abis kiri kanannya penuh toko-toko bangunan serta deretan warung dan kios-kios lainnya .

    Putar-putar barulah akhirnya , saya lihat ada sebongkah pintu gerbang besar berwarna ijo , nyelip diantara warung gudeg dan bakul-bakul rokok pinggiran jalan lainnya. Hm…ini mungkin pikir saya . Lalu sesuai dengan ”petunjuk Jelly Tobing” , bahwa : ”Klakson aja” kalau sudah ketemu gerbang ijo tersebut . Maka saya klaksonlah pintu gerbang ijo tersebut dua kali saja :” tin…tiiin” gitu bunyi Peugeot 505 (yang juga masih belom lunas kreditan-nya) hehehe .

    Sekejap pintu besar tersebut dibukakan oleh dua orang bertubuh tegap berambut klimis berwajah sangar ..hihihi. Mereka yang kemudian saya kenal akrab bernama pak Parno dan lainnya huehehe. Begitu hidung mobil masuk pintu pagar , terbentang ruang parkiran luas yang kira-kira mampu menampung 12 mobil banyaknya . Masih dari dalam mobil saya melihat dua ekor patung macan afrika (item dan guwedhe) yang terbuat dari batu semen , sepertinya emang bertugas untuk menyambut kedatangan tamu yang hadir disana. Ck..ck..ck..kagumnya saya…(ndesit tenan..!)

    Ruang parkiran tadi adalah bagian terpisah , yang dibatasi dengan tembok tinggi untuk memasuki ruang bangunan rumah yang sebenarnya .Maka setelah melewati tembok pintu besar (melewati macan-macan tadi)…semakin takjub saya dibuatnya ….Rasanya tidak sedang berada seperti di Jakarta , namun lebih mirip saya sebut seperti sedang di daerah Bali (mis:Ubud/Gianyar dsb.) Sementara bangunan rumahnya sendiri bergaya klasik aristokrat eropa yang rada-rada serem dan mencekam (paling nggak buat saya …kebayang sih..gimana kalau malam..) apalagi disana sini banyak dibangun semacam ”pura” lengkap dengan sesajen2nya . Tetapi sekejap ke-takjub’an saya sirna oleh suara bising ”gedebak..degebug…nguinngg nguuueinng..suara gitar bertalu-talu ..hehehe..” (koq gitar bertalu-talu sik?..salah yaakk…biarin deh..)

    Tampak Jelly Tobing (biasa…super heboh..) dengan beberapa rekan musisi yang sudah saya kenal seperti Ferry Asmadibrata (musisi terkenal asal Bandung) dan …juga ada seorang promotor kawakan…Sofyan Ali namanya ..wah ..seru…(Bla..bla..ba..) lalu saya dikenalkan Setiawan Djody oleh Jely Tobing dan sejenak kami terlibat pembicaraan “ngalor ngidul” sebelum akhirnya saya ikut-ikutan gunjrang-gunjreng nge-berisikin tetangga…:”JUMP!” by Van Hallen…eh’..tak begitu lama kemudian , nongol Renny Jayusman (rocker wanita yang selalu kalungan se-lemari banyaknya..)hehehe.. datang langsung nyamperin microphone…”ohh yeeeaahhh…Jumppp!!!” hayaaahh…

    Kelompok / pergaulan awal tersebutlah yang kemudian melahirkan gagasan untuk membiayai rekaman bagi ”MataDewa”nya Iwan Fals dengan arranger-nya Ian Antono. Yang juga kemudian melahirkan pemikiran Sofyan Ali untuk mendirikan join perusahaan bersama Setiawan Djody yang bernama ”AIRO”. Semenjak saat itulah hubungan pergaulan saya dengan Setiawan Djody kian hari kian akrab , sebagai sesama orang yang mencintai dunia kesenian (khususnya di musik)

  6. KANTATA TAKWA [bag.ll]

    Semenjak itu saya kerap kali ditelpon mas Djody untuk membicarakan berbagai hal tentang perkembangan musik di Indonesia. Saya katakan bahwa pada intinya musisi ’alternatif’ (non industri) di Indonesia ini membutuhkan “uluran tangan” dari berbagai pihak yang ”peduli” , yang bukan hanya mikirin rumus dagang saja tapi juga mikir tentang “berkesenian” dalam artian yang lebih luas lagi.

    Saya melihat ada ”concern” dari dia untuk mau berdialog dengan saya panjang lebar tentang hal tersebut . Maka ketika suatu kali dia menceritakan gagasannya yang ingin bekerja sama dengan AIRO (saat itu perusahaan tersebut masih menjadi milik Sofyan Ali) secara spontan saya langsung mendukungnya .

    Dan pada saat itu hubungan kerjasama antara Sofyan Ali dengan Iwan Fals memang sudah berjalan (lewat berbagai konser Iwan sendiri saat2 itu) . Maka ketika konser 100 kota yang akan dimulai di Sumatra (Palembang) tersebut di cekal , Sofyan Ali berkeinginan untuk mengajak Iwan masuk studio guna rekaman.

    Rekaman Iwan Fals tersebut akhirnya berlangsung dibawah management AIRO yang bekerjasama dengan SD. Dan seingat saya sebelum masuk ke studio , SD pernah pergi berdua Iwan ke Bali , dimana mereka pada akhirnya berhasil menciptakan lagu ”Mata Dewa” . SD sendiri mengatakan bahwa Mata Dewa adalah ”Sun set” yang mereka lihat ketika mereka gitaran berdua di pantai Kuta.

    Maka berikutnya , ketika Iwan Fals sedang sibuk merekam Mata Dewa , saya sendiri mulai sering mengawal SD untuk bermain musik , baik itu dirumahnya atau terkadang beberapa kali ikut konser bersama di panggung2 musik di Ancol . Formasinya waktu itu antara lain Jelly Tobing dsb. Kami hanya memainkan repertoar2 bule , umumnya lagu2 dari Led Zepllin dan U2 ada satu atau dua sih..lagunya Van Hallen. Maklum kelompok tersebut memang bukan band serius..tapi hanya sekedar ”gathering” atau kelompok gaul dan per-temanan saja .

    Jujur saja , lama-lama saya merasa ”eman” atau sayang kalau melihat kemampuan ”finansial” yang dimiliki hanya untuk ”proyek” kesenangan pribadi saja . Maka secara bertahap perlahan tapi pasti , saya mulai ”meracuni” isi otak pikiran SD , agar mau membantu kondisi musik rock yang saat itu emang sudah mulai ”terkapar” tak berdaya.

    Hanya ada satu orang di Indonesia kala itu yang secara spesifik berkutat di bisnis musik rock kita , yaitu Log Zelebour yang kebetulan juga mengelola management Godbless. Namun keberadaan Log Z. Lebih pada pendekatan bisnis pragmatis , sedangkan yang saya anggap diperlukan musisi rock Indonesia adalah figur sponsor yang berfungsi sebagai seorang ”maesenas”. (yang nggak berpikir harus untung melulu)

    Maka berikutnya , ketika Iwan Fals merilis album Mata Dewa dengan konsep (terobosan) ”direct sale” di parkir timur senayan . Sekali lagi saya meyakinkan SD agar melihat peluang kesempatan yang bisa dilakukan demi perkembangan musik rock di tanah air. Konsep terobosan diatas yang saya maksud adalah : kaset Mata Dewa tidak dijual oleh Sofyan Ali (AIRO) melalui agen2 yang sudah ada (resmi) namun langsung di-pajang di mobil2 box saat konser di Parkir Timur Senayan. Konsep tersebut terbukti ampuh serta membuka mata banyak orang , bahwa dominasi “glodog” bisa dipatahkan asalkan ada sebuah sistem distribusi yang direncanakan secara matang.

    Beberapa bulan kemudian setelah kaset tersebut terbilang ”sukses” , maka Setiawan Djody mengundang kita semua (saya , Iwan Fals dan WS.Rendra serta Sawung Jabo) guna ngobrol membicarakan segala kemungkinan kesepakatan yang bisa dicapai. Perkenalan antara WS.Rendra (mas Willy) dengan SD sudah terjalin semenjak lama sebelum saya sendiri hadir disana .SD selama itu memang bertindak sebagai maesenas bagi kebutuhan “Bengkel Teater” Rendra , bahkan sudah sempat mengadakan pementasan di New York dan beberapa kota di luar negeri dan sebagainya. Sedangkan Sawung Jabo sendiri adalah salah satu anggota dari Bengkel Teater tersebut.

    Singkat kata , kami hampir menemukan kesepakatan untuk saling bekerja-sama , namun harus melewati satu masalah lagi , atau anggap saja satu persyaratan yang harus diselesaikan terlebih dahulu . Yaitu , Iwan Fals bersama S.Jabo dan kawan-kawan yang lain ternyata sedang membuat lagu-lagu , dan sedang merencanakan untuk bisa direkam di studio dan sebagainya . Persyaratan tersebut meminta agar SD juga bersedia menangani masalah management recording bagi mereka . Agar saat nanti , bila kita bisa bekerja sama maka “master” dari produk rekaman tersebut tidak kemana-mana , alias dikelola oleh satu management saja.

    SD menyetujui persyaratan tersebut , dan bersedia bersama-sama Sofyan Ali untuk mengelola dibawah bendera / label AIRO . Disanalah awal mula gagasan besar tersebut beranjak . Saya pribadi sebenarnya juga tertarik untuk terlibat dalam rekaman yang akan mereka lakukan tersebut , namun saat itu saya lebih berfikir ”taktis” agar lebih berkonsentrasi ”mengawal” SD agar tidak berubah pikiran ..hehehe…, maklum ”roang tajir” kadang-kadang suse’ dipegang buntutnya. Saya sering menemani dia untuk workshop dirumahnya , sekaligus memberi masukan2 dan yang terpenting adalah melengkapi peralatan musik yang nanti dibutuhkan .

    Singkat cerita , beberapa bulan kemudian rampunglah rekaman Iwan dan teman-teman tersebut (di GIN studio) , lalu program jangka pendek berikutnya adalah ”launching” serta dilanjutkan dengan konser (promo) .
    Sayang , entah mengapa tiba-tiba saya mendapat berita bahwa Sofyan Ali mengundurkan diri dari kelompok kerja tersebut . Dan menyerahkan AIRO untuk dikelola sendiri oleh management SD , yang saat itu bernama Multy Setdco. Saya sempat kecewa dengan hal tersebut….sebab dimata saya belum ada orang Indonesia saat itu yang mampu mengelola bisnis pertunjukan musik dengan baik,sekaliber Sofyan Ali.

    Bertempat disebuah cafe diwilayah Kuningan tepatnya di Gedung milik Wisma Bakrie , maka launching album bertajuk SWAMI diluncurkan disana . Saya sendiri turut terlibat untuk ikut main secara live pada acara peluncuran album tersebut , padahal sewaktu proses rekamannya saya tidak terlibat. Kami (SWAMI) kemudian sempat pula konser di GOR Kridosono Jogyakarta sebelum pada akhirnya saya , Iwan , Jabo , Rendra berkumpul lagi untuk melanjutkan pembicaraan guna merealisasikan ”kesepakatan awal”tentang kolaborasi bersama-sama .

    Hari-hari itu …adalah hari-hari dimana Bento dan Bongkar “menggelegar” bagaikan hendak memecah angkasa Indonesia.

    (bersambung menyusul ke bag.lll)

    [>>>COMMENT HERE< <<]

  7. mimpi
    Mimpi dan Ngigau

    Tulisan ini adalah opini saya secara pribadi untuk menanggapi perkembangan dunia musik dan lagu-lagu popular Indonesia . Sudah pernah saya tulis sebelumnya bahwa musik memiliki dua peran atau fungsi bagi para pendengarnya . Namun disini saya akan membicarakan secara ‘menyeluruh’ saja .

    Secara garis besar keprihatinan saya terhadap perkembangan dunia musik Indonesia adalah terkait dengan masalah ‘tema’ yang disuarakan , itu pada intinya . Musik popular di Indonesia saat ini ‘miskin’ dengan gagasan-gagasan cerdas dari para komposernya . Ada beberapa hal sebagai faktor penyebab yang bisa saya uraikan secara singkat dibawah ini .

    Seorang composer atau disebut pencipta lagu pada hakekatnya adalah orang-orang yang bekerja , beranjak dari daya imaginasi yang mereka miliki . Kemampuan mengelola daya imaginasi yang tidak dimiliki oleh orang-orang kebanyakan lainnya yang berprofesi dengan menggunakan “logika” atau sesuatu yang nyata / konkrit atau juga disebut eksak .

    Jadi pada intinya kaum pencipta lagu atau composer bisa juga disebut sebagai kaum ‘peng-khayal” . Orang tidak akan mampu mengembangkan khayalannya apabila daya sensitivitas-nya tumpul tak ter-asah dengan baik bahkan tidak peka . Sekaligus menjadi pertanyaan yang harus dijawab oleh “tugas profesi” itu sendiri , bagaimanakah meletakkan sensitivitas bagi terciptanya imaginasi dan khayalan agar bermanfaat / berguna dan juga “ber-martabat” .

    Seorang pengkhayal yang baik , akan menggunakan daya sensitivitasnya untuk menyerap persoalan-persoalan yang terjadi di lingkungan dan kehidupannya sendiri . Sebaliknya seorang pengkhayal yang “pas-pas-an” akan memaksa-maksakan imaginasi (mengarang-ngarang cerita) agar mampu melahirkan suasana baru yang tampak dan sekedar terdengar ‘provokatif’ guna menarik perhatian masyarakat pendengarnya .

    Hasil karya dari sebuah perenungan yang mendalam terhadap lingkungan (kontemplatif) , akan memiliki kekuatan hingga menyentuh bathin , karya tersebut mampu menciptakan komunikasi dan menjalin relasi dengan bathin-bathin orang-orang lain yang mendengarnya . Karya tersebut akan me-nafkahi kalbu dan memberikan kontribusi bagi pencerahan jiwa dan kehidupan manusia yang lainnya .

    Sebaliknya karya musik dan lagu yang diciptakan sekedar provokatif / heboh / dan “sensasional” hanya akan menyentuh raga yang hanya akan menyulut adrenalin otot untuk bergerak atau ber-goyang sesaat saja . Sementara otak di isi kepala tidak mendapatkan manfaatnya apa-apa .

    Ketika system Industri berkembang sedemikian pesatnya di Indonesia , tanpa dibarengi dengan berkembangnya “kesadaran” menggali tema oleh generasi-generasi baru komposer-nya. Lagu dalam bingkai musik hanya dipahami sekedar “bunyi-bunyian” yang secara teoritis diajarkan dibangku pendidikan , padahal pendidikan / sekolah musik hanya mengajarkan bagaimana caranya agar fasih memainkan alat / instrument musik itu sendiri . Persoalan “muatan” hanya ada dan hanya bisa dipelajari di “kehidupan yang real” itu sendiri .

    “Tren” atau mode yang asal semakin “mirip” dengan musik dan lagu orang lain menjadi kebanggaan . Design bunyi-bunyian asal modern berperan sangat dominant dan menjadi segala-galanya . Persoalan tema dikesampingkan dan menjadi urutan terakhir bagi sebuah kebutuhan ber-ekspresi . Musik pop Indonesia saat ini hanya berfungsi menampilkan “gaya” , kulit luar tanpa isi yang memadai .

    Maka , ketika gaya serta tampilan menjadi “sandaran utama” , musik Indonesiapun tersekap menjadi epigon ”tampilan dan gaya” , mencontoh habis-habisan paradigma bermusik dan lagu yang sudah ada .

    Tidak lagi dihargai berbagai upaya dari kelompok-kelompok komposer yang ingin menampilkan jati dirinya sebagai orang Indonesia dengan persoalan yang ada di Indonesia . Mereka semua semakin di-marginalkan dengan sebutan orang-orang yang “sok idealis” dan sebagainya .
    Musik Indonesia mirip dengan dunia sinetron dilayar kaca televisi Indonesia , megah mewah dan glamour.. namun hanya “seolah-olah” . Sebab apa yang terlihat dan terdengar tak bermakna apa-apa dengan persoalan “real” di-kehidupannya yang nyata .

    Mirip dengan mimpikah..? ya.., nyatanya memang hanya mimpi yang menjadi tujuan bermusik di Indonesia. Dan sepertinya orang bermusik Indonesia saat ini memang gemar memuja-muja mimpi .

    Mimpi memang dibutuhkan …, tapi bukan ngigau atau ngelindur .

    [>>>COMMENT HERE< <<]

  8. spectrum
    Ini soal Music Psychology & Audio Knowledge

    Sama halnya dengan ilmu bahasa , bahwa FRASE itu mutlak untuk membentuk maksud melalui kalimat yang dibentuk dari susunan kata. Begitu pula dengan FRASE yang seringkali lalai untuk dilibatkan ketika orang meninggalkan sistem ANALOG untuk selanjutnya merekam musik lewat sistem DIGITAL

    Tahukah anda bagaimana setiap media recording (analog atau digital) dalam memfasilitasi frase . Hingga mempengaruhi mindset pemusik itu sendiri ketika menyusun nada menjadi kalimat2 NOTASI yg wajib mengusung FRASE nya sendiri.

    Ini juga berkaitan dengan pemahaman memanfaatkan ilmu modern untuk menggantikan ilmu2 dari warisan tradisional sebelumnya. Seperti halnya ketika ada orang ingin menggunakan mesin bermotor untuk membajak sawah-ladang guna menggantikan peran kerbau atau sapi. Maka yang bersangkutan harusnya paham terlebih dulu , apa bedanya , apa manfaatnya dan apa konsekuensi2 susulan yang tak ditemui sebelumnya

    jangan asal 1 + 1 = 2 , mesin pake bahan bakar tak ada bedanya dengan kerbau/sapi yang pake rumput. Sebab ketika dia menyingkirkan peran kerbau/sapi , maka dia juga harus merubah paradigma mengelola manfaat2 lain s/d kotoran2 hewan tersebut yang menghasilkan susu hingga pupuk alami. Merubah paradigma/kebiasaan berarti merubah pula sudut pandang dalam memahami bahan2 konsumsi untuk melengkapi kebutuhan hidup dst …dst. Rangkaian input hingga output kehidupan diatas dipahami sebagai ‘Kebudayaan petani tradisional dan bedanya dengan Kebudayaan petani modern’.

    > Lalu apa hubungannya analog atau digital dengan sapi atau kerbau s/d tahinya ..; begitulah otak generasi instant itu selalu menyepelekan substansi setiap persoalan , lalu berharap : ‘everything will be alright’ , sambil merem melek anjut2an kepala (head banger)

    Nyanyinya masih sumbang tuh ; ah.. gampang , rekam aja dulu sampai abis nanti kita gambar belakangan. (gambar artinya meng-edit bentuk2 garis secara visual yang ada dilayar komputer)

    -nyanyinya nafasnya kependekan tuh : ah … gampang , rekam aja dulu (idem ditto diatas)

    tidak ada yang tidak bisa dilakukan , sejauh semuanya tampak kasat mata kelihatan (visual). Jangankan effek gema pantulan suara berdasarkan luas ruangan (system reverb) dsb , udara sekalipun bisa di-visualisasikan

    Kembali kepada soal FRASE diatas. Setiap instrumen musik mempunyai karakter jiwanya sendiri2 [identitas]. Itu juga disebut FRASE yang harus dimengerti ketika seorang pemusik mau menyentuh sebuah alat , apapun nama alat musik tersebut.

    Sudah pahamkah frase dari FLUTE yg dibuat dari logam besi (suling modern) frase nya seperti apa? Violin? gitar? piano? keyboard? drum/perkusi? dan seterusnya . Atau hanya menganggap : yang paling penting harus tau not2 nya untuk dimainin dan berbunyi: doremifasolasido?

    Lalu , sudah bisa membedakankah? ketika sebuah frase dari alat musik tertentu yang direkam lewat sistim analog dan bedanya ketika direkam lewat sistim digital? adakah bedanya? lalu dimana berbedanya?

    Tahukah filosofi : Keterbatasan selalu melahirkan kemungkinan bagi jalan keluar … apa keterbatasan yg dimaksud itu? lalu apa jalan keluar yang bisa ditempuh? [beserta konsekuensi2 baru yang juga harus diatasi]

    > “ah … yang penting laku” … ; pale’ elu peyang , ente menebar tahi kucing rasa coklat … bikin perut keracunan & bikin orang stress doang

    masih: ‘everything will be alright’ , sambil merem melek anjut2an kepala (head banger)

    Dari perspektif not yg tertulis untuk dibunyikan oleh alat musik:

    Setiap not dan not berikutnya (interval) adalah paragraf dari berbagai kalimat2 melalui suara/nada yg mengusung frase bunyi. Seorang pemain musik yg memahami frase tersebut , tidak harus membaca tanda petunjuk expression (spt: legato , staccato hingga picking dsb) untuk menemukan frase yg dikehendaki. Dia bisa cukup dengan melihat alur grafik yang tampak melalui score didalam tulisan partitur.

    Dari perspektif frekuensi dari setiap alat musik:

    Setiap instrument musik adalah bunyi frekuensi yang linier padat dan utuh. Ketika frekuensi tersebut direkam oleh sistim analog , maka frekuensi tersebut diletakkan diatas pita magnetic tape yang tidak akan mengubah struktur linier padat diatas. Namun ketika direkam melalui sistim digital , maka terjadi curva diskrit (korupsi data). Sebab sistim digital tidak merekam bunyi , tetapi meng-konversikannya menjadi titik titik sebagai code untuk dibaca oleh sistem komputer. Akibatnya , FRASE bunyi kalimat nada yang disuarakan oleh setiap intrument (linier padat) , identitas aslinya turut/ikut terpengaruh , cenderung berubah , karena bentuk analisa spectrumnya menjadi titik2 yg ter-putus2 . Selain tehnologi rekaman komputer tersebut juga bergantung pada Freq/Processor dan Memory yang digunakan untuk merekam {mempengaruhi kadar / tingkat besaran perubahan)

    Selanjutnya , komposisi melodi lagu serta lirik adalah kelengkapan dari kesatuan FRASE yang harus dilengkapi diatas.

    [bersambung]

    [comment here]

elektronik sigara